TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Kembali


__ADS_3

Miranda kembali menatap El, sambil menyeduh dua cangkir teh. Kini dia harus mencari cara bagaimana memulangkan El.


"Apa aku mengaku saja padanya. Tidak tidak, aku tidak bisa. Dia pasti sangat kecewa kepadaku, padahal selama ini dia sudah baik dan menganggap aku kakak sungguhan. Dia bahkan memanggil aku Oenni" Hati Miranda berkecamuk, dia tidak berani mengakui perbuatannya di depan di depan El.


"Oenni, kenapa Oenni melamun? Apa ada yang bisa aki bantu?" El ternyata memperhatikan Miranda sedari tadi.


"Oh tak apa, Oenni hanya sedikit capek" Miranda segera mengubah wajahnya.


"Oenni sudah membuat dua cangkir, bagaimana kalau kita duduk sambil minum teh" Miranda mengajak El minum teh bersama, tentunya sambil memikirkan bagaimana caranya dia memulangkan El kepada suaminya Erik.


"Adik, nanti malam temanilah Oenni ke kota. Ada yang mai Oenni beli disana" Miranda menatap El yang sedang menyeruput teh.


"Oh ya Oenni" wajah El berbinar, selama ini dia jarang keluar rumah


"Baiklah Oenni, aku senang sekali kita bisa pergi ke kota" El dengan ceria kembali menyeruput teh di gelasnya.


"Ok kalau begitu bersiaplah, kita akan pergi malam ini" Miranda menatap El dengan hati yang gundah.


Matahari perlahan membenamkan dirinya di ufuk barat,jangkrik mulai-mulai bernyanyi menyambut malam.


El dengan ceria mengganti bajunya sekaligus penampilannya. Memakai kacamata, poni dan tompel penampilannya mirip dengan Miranda. El selalu ingat tentang cerita Miranda tentang pria kaya yang mencari istrinya yang hilang. Dia menjadi takut juga untuk tampil seperti apa adanya.


Miranda dan El telah siap untuk pergi ke kota mereka pergi menaiki taksi. Miranda hapal jalan menuju rumah Erik. Dia berencana memulangkan El kepada Erik. Tapi dia tidak berani untuk mengantar El kehadapan Erik, hal ini sama saja dia mengantarkan dirinya ke mulut harimau.


"Oenni, apakah ini jalan ke kota?" El menatap pohon-pohon yang sedang berlarian melalui jendela kaca mobil.


"Iya dik, apakah kau suka?" Miranda menatap El sekilas


"Iya Oenni, karena rasanya aku sudah bosan hanya keliling-keliling rumah saja. Aku ingin juga melihat dunia luar" El menatap Miranda dengan wajah berbinar.


"Maafkan Aku El, selama ini aku telah mengubah hidupmu yang sempurna menjadi menderita" Miranda menelan ludah, dia merasakan penyesalan itu semakin menusuk hatinya.


Taksi pun berjalan menuju kediaman Erik, rintik-rintik hujan pun telah turun seperti rintik kegundahan hati Miranda. Saat ini dia akan memulangkan El adik palsunya. Tapi hatinya menjadi berat karena biar bagaimanapun El telah menemaninya selama ini. Seiring berjalannya waktu dia merasa El telah menjadi bagian hidupnya.


Perjalanan terasa sangat jauh, hujan yang tadi rintik telah kembali reda.

__ADS_1


Mereka pun hampir sampai di rumah Erik, Miranda memberi instruksi sopir taksi untuk menghentikan mobilnya.


"Pak bisa berhenti pak"


"Baik Buk" Sopir setengah baya itu menghentikan mobilnya.


"Ayo kita turun El" Miranda telah memegang pintu mobil.


Sementara El dengan cepat turun dari mobil


"Ayo jalan pak" Ternyata Miranda tidak turun dia malah menyuruh sopir untuk jalan.


Awalnya sopirnya ragu tapi karena desakan Miranda akhirnya dia pun melajukan mobilnya kembali.


"Oenni" El berteriak mengejar mobil. Tapi dia tidak mampu mengajarkan mobil yang telah melaju kencang. El tersungkur air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Oenni, mengapa Oenni tinggalin aku. Aku takut Oenni" El terisak ditengah gelapnya malam itu, dia tidak tahu sedang berada dimana.


Miranda mengamati El dari spion mobil, air mata mengalir dari pipinya.


Pak sopir yang mengendarai mobil mengamati Miranda dari spion dalam. Tapi dia berani berkomentar atau bertanya sesuatu kepada Miranda. Miranda berharap dengan menurunkan El di depan rumah Erik, mungkin dengan mudah Erik akan menemukan El.


El yang ketakutan di malam itu memilih untuk duduk didepan pagar sambil memangku lututnya. Dia terisak karena sangat ketakutan. Wajahnya menjadi pucat, kakinya pun dingin ditambah jantungnya yang berdebar kencang. Dia membenamkan wajahnya kedalam lututnya, mungkin hanya itu yang dapat dia lakukan di tengah ketakutan yang dia rasakan.


Setelah beberapa lama, terdengar suara mobil yang semakin mendekat. Tenyata itu mobil Erik yang telah pulang dari kantor.


"Tuan muda sepertinya ada wanita yang duduk di tepi pagar" Sekretaris Jim menghentikan mobilnya. Sementara Erik memperhatikan El dari mobil, sekretaris Jim turun dan menghampiri El.


"Maaf Nona, apa kau sedang tersesat" Sekretaris Jim mencoba menyapa El,


El mendongakkan kepalanya, saat ini mungkin dia tidak terlihat seperti El yang dulu dengan wajah culunnya seperti itu.


"hiks hiks aku takut" El terisak


"Tenanglah, kenapa kau sampai tersesat?" Sekretaris Jim penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. El hanya diam dia tidak tahu harus menjelaskan apa. Sekretaris Jim lalu menghampiri Erik.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya Nona itu tersesat Tuan" Erik melirik El sesaat.


"Ya sudah kau urus saja dia sekretaris Jim. Aku lelah dan ingin segera beristirahat"


"Baik Tuan"


"Nona kau tunggulah disini dulu ya. Nanti akan ada pelayan yang menjemputmu" Sekretaris Jim berlalu masuk ke perkarangan rumah.


Sementara El hanya terdiam dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia tidak kenal siapa-siapa, tidak tahu jalan pulang.


"Nona, masuklah ke dalam" Seorang pelayan wanita mengajak El untuk masuk ke dalam rumah.


Dengan terpaksa El mengekor dari belakang.


Rupanya sekretaris Jim sudah menunggu di ruang satpam.


"Nona, apa kau tersesat, dimana rumahmu"


"Aku tidak tahu Tuan, aku tidak ingat karena kami baru pindah rumah" Jelas El sambil membetulkan kacamatanya.


Meski merasa aneh Erik yakin wanita yang di depannya adalah wanita baik yang butuh pertolongan.


"Baiklah, Nona untuk malam ini tidurlah dulu di kamar pelayan. Besok pagi aku akan membantumu untuk pulang. Apa kau punya nomor yang bisa kau hubungi?" Sekretaris Jim mengeluarkan HPnya.


"Maaf Tuan, aku tidak ingat".


"Apa kau tidak punya HP? Sekretaris Jim semakin heran.


El menggeleng.


" Wanita primitif dari planet mana dia? Mana ada zaman sekarang orang tidak punya HP? Tapi kalau dilihat dari penampilannya dia memang aneh. Apa dia datang dari planet ya?" Bisik hati sekretaris Jim.


"Tuan, terimakasih atas kebaikan anda" El menatap sekretaris Jim sekilas lalu menunduk kembali. Suara El sengaja dirubah supaya tidak ada orang yang mengenalinya.Dan kali ini dia telah kembali lagi ke rumah suaminya. Meski mereka mungkin tidak akan saling mengenal


Bersambung🄰

__ADS_1


__ADS_2