
"Sayang, sebentar lagi dokter Kintan akan datang" Erik membantu menyisir rambut El yang terurai
"Dokter Kintan?" El menatap Erik
"Iya Sayang, dokter Kintan. Dokter Spesialis kandungan. Jadi aku menambah jumlah Dokter keluarga kita Sayang"
"Sayang, kok sudah ada dokter kandungan? Aku kan belum hamil?" El terheran-heran
"Justru itu kita program aja dulu Sayang, biar kamu cepat hamil. Nanti kan kita bisa minta pendapat dokter biar kamu cepat hamil Sayang" Erik membantu mengucir rambut El.
"Tapi kok tambah dokter lagi Sayang, Bukannya kita sudah punya dokter Rehan?" El heran
"Nggak Sayang, Aku nggak mau nanti perut kamu di pegang-pegang dokter Rehan. Kamu ingat kan waktu kamu pura-pura sakit perut itu dokter Rehan mau pegang perut kamu. Untung aja aku segera ambil stetoskopnya" El terkekeh mendengar ucapan suaminya.
"Iya iya Sayang, Aku juga senang kok lagian kalau dokter perempuan aku kan juga agak bebas ngomongnya" El tersenyum.
"Iya gitu maksudnya Sayang"
"Tok tok tok"
Tak lama dokter kintan pun datang, setelah melakukan wawancara seputar haid dan pengecekan dokter Kintan menyimpulkan semuanya baik-baik saja.
"Semuanya baik, tidak ada masalah Nona El. Hanya saja saya sarankan untuk melakukan hubungan suami istri pada masa subur" Dokter Kintan bicara dengan santainya
"Begitu ya Dok, bagaimana saya tahu masa suburnya dok?" Erik bicara penuh semangat,
"Sayang" El menyenggol Erik dengan sikunya. wajah El sudah memerah rasanya dia masih malu membahas soal begituan.
Dokter Kintan tersenyum
"Tidak apa Nona El, tidak perlu sungkan" Dokter kintan sudah biasa dengan ekspresi seperti itu.
"Jadi bagaimana mengetahui masa subur istri sayang dokter?" Erik sudah tidak sabar.
"Tadi El bilang haidnya lancar tiap bulan, jadi siklus haid dua puluh delapan hari. Jadi masa suburnya antara hari kesepuluh sampai ketujuh belas setelah haid" Jelas Dokter Kintan.
"Ow jadi seperti itu Dok" Erik tersenyum sambil melirik pada El
"Apaan sih Sayang" El malah makin memerah
Dokter Kintan tersenyum memperhatikan El dan Erik. Dia pun berharap mereka segera memiliki anak.
"Oh ya, Tuan selain itu Nona El juga disarankan memakan makanan yang sangat bagus untuk kesuburan seperti kacang-kacangan, susu, keju, kuaci dan asparagus. Selain itu Nona El tidak boleh kelelahan dan banyak pikiran"
"Baiklah dokter" Erik sangat berharap El segera hamil.
"Tuh dengar kan Sayang, pokoknya kamu di rumah Kamu aja, nonton, tidur. Kalau kamu mau jalan-jalan kamu bisa ajak Lela. Pokoknya nggak capek oke Sayang"
__ADS_1
"Iya Sayang" El tersenyum.
***
Sehabis makan malam El membaca majalah di ranjang, biar bagaimanapun dia rindu dunianya dulu. Sekarang Erik memperlakukannya bak Putri, terkadang dia merasa sumpek juga hidupnya tidak ada tantangan.
"Sayang-sayang kamu kemaren terakhir haid tanggal berapa?" Erik mewawancarai El sambil membawa kalender kecil dan pena.
"tanggal 10 sayang"
"Jadi kamu suburnya tanggal 20-27 sayang. Erik tersenyum sambil melingkar beberapa angka di kalender.
El terkekeh memperhatikan Erik seperti itu, raut wajahnya sangat bahagia hanya mengetahui masa subur istrinya.
" Wow Sayang, berarti sekarang masa subur kamu" Mata Erik berbinar sambil manaruh kalendernya.
"Sayang"
Erik mulai beringsut ke sisi El.
"Iya Sayang" El berdebar lagi, untuk kesekian kalinya dia masih grogi.
Erik merangkul tubuh El ke pelukannya menciumi kepala El dengan lembut.
"Sayang, jadilah Ibu dari anak-anakku" El tersipu malu.Erik melabuhkan ciumannya di bibir El.
"Sayang, sepertinya seminggu ini aku harus minum obat kuat" Bisiknya di telinga El membuat El tambah merona saja.
"Kamu sudah mulai genit ya sekarang" Erik mencubit hidung El.
"Aw sakit sayang"
"Oh ya, mau ditambah lagi?"
"Siapa takut" El tersenyum menggoda membuat Erik tidak tahan saja dan segera melancarkan serangannya.
***
Mata El masih berat, badannya serasa mau remuk. El terkejut dengan noda-noda merah ditubuhnya.
"Erik" Bisiknya sambil tersenyum memandang suaminya itu.
"Sayang" Erik menarik tubuh El dan memeluknya Erat
"Sayang, disini aja temani aku" Bisiknya lembut
"Sayang, tapi kamu akan terlambat ke kantor" jawab El.
__ADS_1
"Tak apa Sayang, aku bisa tunda segala agenda hari ini" Jawab Erik santai
"Baiklah kalau begitu Sayang"
"Oh ya El, btw kamu mau punya anak berapa?"
"Seberapa kamu mau aku siap kok Sayang"
"Oh ya, kalau aku mau sepuluh bagaimana?"
"Boleh Sayang, Sekalian nanti kita buat tim kesebelasan ya Sayang.
" hahaha" Erik tertawa mendengar ide El.
"Mulai sekarang, kamu nggak boleh capek ya Sayang" Erik membelai rambut El
"Sayang, sejak jadi istri kamu aku nggak pernah capek kok sayang. Gimana aku mau capek, masak aja aku nggak boleh sama kamu" gerutu El.
"Aku cuma nggak mau nanti kamu kenapa-kenapa. Kamu ingat dulu kamu hampir aja terbakar waktu memasak kan? Aku nggak mau kejadian kayak gitu terulang lagi El. Kemaren waktu kamu belajar masak sama bik Minah tangan kamu juga teriris pisau kan?" Erik mengingatkan
"Iya Sayang Aku akan hati-hati lagi kedepannya"
"Sayang, kamu tahu semenjak aku meminta kamu di depan orang tuamu waktu dirumah sakit dulu. Aku sudah berjanji di dalam hatiku. Aku akan membuat kamu selalu bahagia Sayang. Makanya aku tidak pernah menuntut kamu segala macamnya. Aku hanya tidak ingin kamu kecapean Sayang" Tutur Erik
"Iya Sayang Aku mengerti dan terimakasih banyak, tapi Aku terkadang merasa sumpek di rumah ini Sayang. Apalagi Mama sekarang sering tidak di rumah" curhat El
"Iya, mungkin Mama masih ada urusan yang harus diurusnya. Yang sabar y Sayang"
"Oh ya,manager kamu masih si Angel itu?".
" Iya Sayang, dia udah lama ikut aku. Dari awal aku pemotretan Sayang"
"Iya Aku tahu, Aku ingat dulu waktu ngantar kamu pulang dia minta satu permintaan sama Aku?".
" Oh ya, memangnya dia minta apa Sayang. Dia minta cium sama kamu. Jangan bilang kamu cium dia" El menatap Erik curiga
"Ish kamu nih otaknya ngeres aja, hehehe"
"Trus apa dong?" El penasaran
"Si Angel itu bilang, meski Aku nggak mencintai kamu tapi tolong perhatikan kamu dengan baik. Jangan pernah sakitin kamu katanya gitu"
"Hehehe Bisa aja si Angel"
"Terus dia bilang, kamu cewek baik sebenarnya. Nggak pernah pacaran juga" El tersipu malu.
"Dulu Aku kira dia hanya seorang yang membela sahabatnya. Ternyata Aku salah" Erik mencium pipi El.
__ADS_1
"Udah ah, jangan puji-puji mulu ntar aku bisa terbang lo hihihi" Erik tertawa kecil mendengar Ucapan El. Dia memeluk El erat, pagi ini mereka malas beranjak dari ranjangnya. Mungkin mereka hanya ingin memanfaatkan masa subur El dengan sebaik-baiknya.
bersambung