TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Jenuh


__ADS_3

El mematung di depan jendela, melihat bunga-bunga yang dihinggapi kupu-kupu yang berterbangan.


"Ah enaknya jadi kupu-kupu itu? bisa terbang kemana saja. Nggak seperti aku yang masih disini, kemana-mana harus ada yang menemani" El menghirup nafas dalam, dia hanya ingin seperti dulu lagi. El yang bebas kemanapun dia pergi, dia tidak butuh supir tidak butuh pengawal seperti sekarang. Namun suaminya begitu mencintainya, dan selalu khawatir dia berpergian sendirian. Sejak insiden kecelakaan El, Erik menjadi begitu Paranoid. El demam sedikit saja dia akan panik.


"Hm, rasanya pengen pergi sendirian. Pengen nyetir mobil lagi, dan jalan-jalan sama Angel. Rasanya aku jadi kaku kalau pergi sama Lela terus, nanti dia pasti akan lapor sama Erik" Hati El bergumam, otaknya masih memikirkan cara untuk keluar. El mengendap-ngendap masuk keruang belakang, mengambil sehelai baju baju pelayan. Dan berlari ke kamarnya.


"Yes, Akhirnya" Dia tersenyum puas dan memakai baju pelayan itu. Dia menatap dirinya di cermin, memastikan penampilannya mirip pelayan di rumah itu. Terakhir dia memakai sebuah masker untuk menutupi wajahnya.


"Sempurna" Bisik El, dia berharap penyemarannya bisa mempermulus siasatnya untuk keluar dari rumah.


"Sayang, Maafin aku. Aku hanya ingin cari angin sendiri Sayang. Nanti kamu jangan marah ya. Aku akan pulang sebelum kamu pulang Aku janji" El berbicara pada photo pernikahan mereka. Erik yang begitu tampan pewaris tunggal perusahaan Axena. Wanita mana yang akan menolaknya, namun sampai detik ini Erik masih membuktikan kesetiaannya. El berjalan-jalan di sekitar rumah tampaknya tidak ada yang memperhatikannya.


"Kamu yang dari kamar Tuan Muda, apakah kamu sudah mengantarkan cemilan untuk Nona?" Seorang kepala pelayan menatapnya tajam


"Sudah buk" Jawabnya pelan


"Bagus, jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun. Tuan Muda akan marah jika kita tidak melayani Nona dengan baik" Pelayan itu mengingatkan.


"Apakah para pelayan ini sering dimarahi karena Aku. Ah Aku tidak menyangka Erik bakal bersikap seperti itu.


"Baik Buk, saya mengerti" El hendak pergi


"Tunggu" Kepala pelayan itu menatapnya menyelidik


"Iya Buk" El takut takut


"Kenapa kamu memakai masker?" Tanya kepala pelayan merasa curiga


"Uhuk uhuk Maaf Buk, Saya sedang batuk jadi Saya memakai masker. Saya takut Nona tertular" El segera memberi alasan.


Kepala pelayan mengangguk dan meninggalkan El. El melanjutkan berjalan di sekitar taman. Tampak para pelayan sedang memberi makan ikan Koi di kolam depan, sebagian lagi ada yang menyiram bunga. El berjalan menuju garasi mobil, dan mulai mengemudikan salah satu mobil di garasi. Tidak ada yang curiga, rencananya berjalan mulus kali ini.


"Ah akhirnya" El membuka masker sambil tersenyum. Dia merasa sangat bebas sekarang, tanpa Lela yang harus mengantarkannya kemana-mana.


El mengemudikan mobilnya sambil menikmati suasana pantai. Panas yang terik membuat dia tergoda untuk menikmati Ea kelapa muda. Pasti segar pikirnya.


"Es kelapanya satu ya Mbak, Esnya sedikit aja" Ucap El pada wanita paruh baya yang berjualan sambil duduk di sebuah pondok di tepi pantai itu


"Baik mbak tunggu sebentar ya" Wanita itu segera menyiapkan pesanan El.


"El" Seorang pria berbaju kaos oblong dan celana pendek menegur El. Diego masih seperti dulu pria tampan yang selama ini mencintai El. Tapi El tidak pernah tertarik kepadanya. Bahkan pernyataan cinta Diego hanya dianggap El guyonan semata. Membuat Diego harus menyimpan rasa cintanya jauh-jauh. Hal itulah yang membuat dia frustasi dan bertindak nekat.


"Diego" El terkejut melihat Diego,

__ADS_1


El terperanjat hampir saja dia menjatuhkan kursi tempat duduknya karena kaget.


***


Selesai meeting dengan beberapa anak perusahaan Erik duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Ya, istirahat sejenak seperti itu setidaknya dapat mengurangi sedikit kepenatannya.


"El" Erik teringat istrinya itu,


"Maafkan Aku Sayang, hari ini Aku sangat sibuk sehingga belum sempat menelponmu dari tadi" Erik mencoba menelpon El, tapi tidak ada jawaban.


"Sayang, kamu lagi tidur ya?" Erik meletakkan HPnya dan kembali membaca beberapa laporan hasil meting tadi.


"Zzz Zzz" Hp sekretaris Jim bergetar seorang kepala pelayan menelponnya. Sekretaris Jim lalu menatap Erik seperti ada yang ingin disampaikan.


"Maaf Tuan Muda, Saya mendapat laporan dari kepala pelayan. Dari pagi Nona El belum keluar dari kamar. Pelayan sudah mencoba memanggil tapi pintunya terkunci Tuan"


" Apa? Mungkin dia masih merajuk perihal pembatalan kontraknya kemaren. Baiklah kita pulang sekarang sekretaris Jim. Alihkan beberapa agenda besok" Erik segera berdiri dan bergegas menuju mobil diikuti sekretaris Jim.


"El, apa kamu masih merajuk?" Erik khawatir


"Sekretaris Jim, apakah pembatalan kontrak pemotreran El itu berlebihan?" Erik menatap sekretaris Jim dari spion dalam


"Saya rasa tidak Tuan Muda, mengingat kondisi Nona sekarang. Keputusan Tuan sudah tepat"


"Tok tok tok, Sayang buka pintunya" Erik berteriak sambil menggedor-gedor pintunya.


"Pelayan panggil ahli kunci rumah ini" Seorang segera membawa sepeti kunci. dan memilih diantara kunci-kunci di sana. Dan segera membuka pintu kamar.


"El" Erik membuka pintu mengedarkan pandang ke dalam kamar. Tidak ada El di sana, hanya baju piyamanya yang masih teronggok di atas kasur.


Erik memeriksa ke ruang ganti, dan kamar mandi namun hasilnya nihil.


"El" Erik berteriak


"Kemana kamu El?" Erik mulai panik


"Tenanglah Tuan muda, bagaimana kalau kita memeriksa CCTV saja Tuan" Sekretaris Jim memberi ide


"Ok Baik" Segera siapkan laptopnya


Erik dan sekretaris Jim segera memutar rekaman CCTV. Awalnya tampak El mengendap-endap keruang pelayan.


"Baik kita putar bagian kamar"

__ADS_1


Erik memperhatikan apa yang dilakukan El di kamar


Sekeretaris Jim segera memutar badannya, dia mengerti apa yang dilakukan Nona di kamar bukan sesuatu yang sewajarnya dia saksikan.


Erik memperhatikan El yang mengganti bajunya dengan pelayan. Kemudian memakai masker, dan berbicara pada photo Erik


Erik terheran dan terus saja memperhatikannya.


Di dalam rekaman tampak El meninggalkan kamar dengan baju pelayan. Setelah melihat semua rekaman di rumah Erik. Kini Erik mengerti El telah kabur dari rumah.


"Ah, Bagaimana El bisa kabur dengan pengawalannya yang begitu ketat" Pikirnya


"Sekretaris Jim, ternyata El kabur menggunakan baju pelayan. Apa menurutmu dia tidak bahagia menjadi istriku? Apakah dia tersiksa sampai dia harus kabur seperti itu?" Erik bertanya kepada sekretaris Jim yang segera membalikkan badannya


"Jangan berkata seperti itu Tuan Muda, tentu Nona sangat bahagia menjadi Istri Tuan. Hanya saja menurut analisa saya, mungkin Nona ingin sedikit kebebasan Tuan. Mengingat dulu Nona adalah seorang wanita karir".


" Lalu Saya harus bagaimana Sekretaris Jim, Saya hanya ingin melindunginya. Saya tidak ingin sesuatu terjadi kepadanya."


"Maaf Tuan, wanita itu ibarat gelas kaca yang rapuh. Jika tuan menggenggamnya dengan kuat tentu dia akan pecah dan melukai Tuan. Begitu juga dengan Nona, dia merasa Tuan sangat mencintainya memperlakukan dia bak Putri. Selalu menuruti keinginan Nona dan memanjakannya. Tentu hal ini akan menjadi suatu yang monoton dan membuat dia jenuh".Sekretaris Jim bicara perlahan


"Makhluk macam apa wanita itu sekretaris Jim? Bukankah mereka akan bahagia diperlakukan bak Ratu? Kenapa Istriku menjadi jenuh? Apakah Aku tidak tampan lagi sekretaris Jim?" Erik mulai kesal, dan menatap wajahnya di cermin.


"Tentu Tuan muda masih setampan dulu, tidak ada yang berubah. Begini, apa Tuan muda ingat diperlakukan Tuan besar dan Nyonya seperti Raja, Tuan dan Nyonya begitu mencintai Tuan. Kemana-mana Tuan selalu di beri banyak pengawal.Saat itu Tuan merasa bosan kan? dan memilih hidup mandiri dengan manjadi dosen" Ucap Sekretaris Jim. Erik manggut-manggut


"Benar juga sekretaris Jim, lalu saya harus bagaimana?"


"Anda ingin Nona menjadi greget sama Tuan?" Sekretaris Jim menatap Erik.


"Tentu saja, saya ingin dia memperlihatkan seluruh cintanya kepada saya" Ujar Erik


"Ok, cobalah Tuan tarik ulur hati Nona, biasanya perempuan akan menunjukkan seluruh cintanya setelah itu"


"Maksudnya apa sekretaris Jim, Saya tidak mengerti" Sekretaris Jim lalu menjelaskan.


Erik tersenyum tipis


" baiklah sekretaris Jim, terimakasih atas sarannya. Sekarang kita cari keberadaan El, saya yakin dia hanya ingin pergi main sama Angel. Karena dia tidak membawa kopernya"


Erik mengeluarkan HPnya.


Dia melacak El melalui HPnya, kemudian terkejut dengan apa yang di temukannya.


"Ada apa Tuan muda?" Sekretaris Jim juga ikut terkejut.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2