TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Takut


__ADS_3

El masih menatap matahari dari balik jendela kaca, sambil mengingat-ngingat kenangan yang tidak bisa dia ingat. Semakin dia mengingat kepalanya pun terasa berdenyut.


"Nak Sheyla, antarkanlah makanan untuk tuan muda sekarang" Bik minah mendongakkan kepalanya di belakang pintu.


"Maksudnya saya harus" Sheyla menatap Bik Minah gugup. Dia merasa enggan harus bertemu Tuan muda itu lagi. Sepertinya dia bukan orang yang ramah, tatapannya begitu datar dan pelit senyuman.


"Baiklah Bik" Sheyla tidak ada pilihan lain. Ya bagaimanapun hanya itu jalan satu-satunya dia masih boleh tinggal dirumah ini. Setidaknya, masih ada tempat untuk dia berteduh.


Sheyla melangkahkan kakinya kedapur diikuti Bik Minah dari belakang.


"Bersiap-siaplah terlebih dahulu. Setiap pelayan yang melayani Tuan muda harus rapi bersih dan tentunya mengenakan seragam pelayan" Bik minah memberikan kantong merah yang berisi baju pelayan.


"Baiklah Bik" Sheyla bersiap di kamarnya. Dia mematung menatap bayangan yang tentu bukan dirinya yang dulu.


"Sejauh ini penyamaranku masih aman. Tentu saja aku tidak ingin penyemaranku ini terbongkar. Ngomong-ngomong dimana ya laki-laki gila yang mencari istrinya itu. Jangan sampai aku bertemu dengannya. Amit-amit deh" Ucap Sheyla ngeri membayangkan hal itu terjadi.


"Sudah selesai Bik" Sheyla kembali menemui Bik Minah, dengan senyum suringahnya.


"Kamu bawa ini kekamar Tuan muda ya" Bik Minah membarikan napan kepada Sheyla.


"Apa Bik? Kekamar?" Sheyla kaget.


"Iya Nak, Biasanya juga seperti itu. Tenang saja Tuan muda orang yang baik kok" Bik Minah tersenyum sambil memegang pundak Sheyla. Seolah menguatkan hati Sheyla untuk percaya tentang Erik.


Sheyla menghela nafas dalam mulai melangkah pelan menuju kamar Erik. Dia menatap pintu kamar yang tertutup sambil menguatkan hati di ketuk pintu kamarnya perlahan.


"Tok tok tok"


Erik membukakan pintu masih dalam keadaan memakai piyama.


"Selamat pagi Tuan" Sheyla menunduk


"Masuk" Perintah Erik.


"Uh dasar angkuh jawab dulu kek" Gerutu Sheyla dalam hati.


Perlahan dia memasuki kamar yang luas itu, tapi dia tidak berani menyapukan pandangannya kesemua bagian kamar. Dia segera meletakkan napannya di nakas.


"Selamat menikmati sarapannya Tuan, Saya permisi Tuan" Ucap Sheyla perlahan.


"Siapa yang menyuruh kamu pergi?" Jawab Erik Sambil memeriksa HPnya.

__ADS_1


El tertunduk.


"Mati gue, apa lagi ini?"


"Coba mendekat" Perintah Erik


"Apalagi sih" Bisik hati El. Dia perlahan mulai mendekat.


"Erik menatap El dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perlahan memutari El yang sedang berdiri.


" Tubuh kamu terlalu gendut, berapa berat badanmu?" tanya Erik sambil menatap badan El.


"Anu Tuan, mungkin 80" Sheyla alias El mencoba mengira-ngira berat badannya.


"Oh ya, kenapa kamu ragu? Bagaimana kalau kita timbang saja badanmu sekarang" Erik Tersenyum kecut.


"Sial, ngapain juga pakai ditimbang segala" Gerutu El.


Erik melihat kecemasan diwajah El.


"Saya hanya bercanda kok"


"Tolong tuangkan airnya" Erik menghempaskan badannya ke sofa. Mengambil ponsel dan mengecek pesan yang masuk.


"Maksudnya Tuan?" Sheyla gugup, apa dia berfikiran cabul.


"Tutup pintunya setelah kau keluar" Erik menatap Sheyla dengan tatapan meledek. Seakan berkata "Jangan berfikiran cabul ya!" Hal itu sontak saja membuat Sheyla merasa kikuk. Rasan panas menjalar kewajahnya, hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Baik Tuan" Sheyla membungkuk dan segera pergi lalu menutup pintu


"Ah, Kesal" Rungut Sheyla dalam hati. Dia masih berdiri di depan pintu kamar.


"Hehehe" Dasar gadis aneh.


"Tapi aku benar-benar penasaran dengan dia" Guman Erik sambil berfikir beberapa saat, kemudian senyum telah mengambang diwajahnya.


***


El berjalan menyusuri rumah yang begitu luas, Beberapa pelayan berpapasan dengannya. Baik itu pria maupun wanita. Tapi tiada yang peduli dengannya, Dia memang tidak menarik dengan penampilannya seperti itu. El masuk kekamar, merebahkan dirinya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia hanya ingin istirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya menyiram bunga.


"sampai kapa aku seperti ini" pikirnya sambil menghela nafas panjang. Hidupnya terasa terkatung, dia tiba-tiba ingat shila kakaknya yang meninggalkannya malam itu.

__ADS_1


"Oenni Shila, kenapa kakak begitu tega padaku ni? Apa salahku? Apa Oenni tidak menyayangiku? Sampai Oenni tega meninggalkanku?" Sheyla teringat lagi waktu malam itu. Kakaknya meninggalkannya di dalam gelapnya malam dan lebatnya hujan.


"Hiks Hiks" Dadanya terasa sesak, matanya perlahan panas. Akhirnya dia tidak mampu lagi menahan kesedihannya lagi.seorang laki-laki menghentikan langkah kakinya tepat di depan kamar El.Dia menatap El yang terbaring diatas kasur sambil terisak.


"Sheyla" Rupanya disini kamar perempuan aneh itu gumamnya


"Baiklah mari kita bersihkan kebun belakang" Dua orang pelayan wanita berjalan menuju kebun belakang. Melihat dua pelayan wanita yang sedang menuju kearahnya. Sontak saja lelaki itu masuk ke kamar Sheyla


Dia hanya tidak ingin ketahuan dengan dua pelayan itu, yang terkadang para pelayan sering gregetan bertemu dengannya. Apalagi para pelayan yang memang jarang bertemu langsung dengannya. Perlahan dia menutup pintu.


"Syukurlah" gumamnya.


Lelaki itu kembali menatap tubuh Sheyla. Rupanya Sheyla telah tertidur dengan sisa-sisa air mata di pipinya. Ditatapnya tubuh Sheyla yang menurutnya agak aneh itu, namun tiada siapa yang menyadarinya atau memang tidak ada yang mempedulikannya.


Sebenarnya dia hanya ingin mencari angin saja. Tapi dia sudah terjebak saja di dalam kamar sheyla.


Sheyla yang mengeliat lalu menjulurkan kaki kirinya dari balik Roknya. Reflek saja lelaki itu memperhatikan kakinya. Alangkah terkejutnya lelaki itu melihat bekas luka dikaki wanita itu seperti bekas kecelakaan.


Nafasnya terasa terhenti, jantungnya bergemuruh. Dia berusaha menguasai dirinya.


"Istriku" Dia ingat sekali bentuk kaki istrinya yang dulu mengalami luka karena kecelakaan. Air mata mulai menganak sungai, dia ingat kembali dengan istrinya yang hilang entah kemana. Dia ingat saat berjanji menjadi bulan untuk bintang kecil itu.


"Bintangku, hiks hiks" dia mulai terisak.


"Tuan muda!" Sheyla terkejut dan terkesiap.


Erik dengan refleks menutup mulut Sheyla dengan tangannya. Dia tidak ingin ada di kamar Sheyla.


"Tuan muda, apa yang anda lakukan disini" tanya Sheyla dengan suara pelan.


Erik pun mendekatkan wajahnya ke wajah Sheyla, dia ingin menatap lagi bola mata istrinya itu.


"Ampun Tuan, jangan Tuan" Sheyla menarik selimut dan menutupi dadanya.


Sementara Erik dengan mata berkaca masih menatap jauh kedalam bola atanya.


"Istriku, ya kamu benar istriku" Erik tak tahan lagi dan langsung memeluk Sheyla. Sheyla yang terkejut sontak saja mendorong badan Erik.


"Bukan Tuan, saya bukan istri Tuan. Saya Sheyla Tuan" Bantah Sheyla ketakutan.


"Tuhan, kenapa kau pertemukan aku dengan laki-laki gila ini? Kenapa dia masih mengenaliku dalam penyamaranku ini?" Sheyla ketakutan dan memasukkan dirinya kedalam selimut

__ADS_1


Bersambung😍😍


__ADS_2