TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Lagi


__ADS_3

Aku memandangi draft pekerjaan yang ada Di Tanganku.


"Kontraknya berapa lama Tia?"


"Awalnya enam puluh episode dulu Bu.."


"Jadi dua bulan ya?"


"Apakah bisa lebih sedikit?"


Tia mengerutkan keningnya,


"Maaf..." jawab tia menggantung.


"Bisa?" potongku yang menginginkan jawab pasti.


Tia menggeleng "Lebih banyak bisa bu"


Kini aku yang menggeleng.


"Biasanya swmua minta lebih banyak, kenapa ibu minta lebih sedikit"


"Apakah Toby yany memilih?" Tanyaku tanpa menghiraykan pertanyaan Tia. Karena ity nggak penting saat ini.


Kali ini Tia mengangguk.


"Dari semua tawaran, kata Toby ini yang paling cocok itu ibu"


Aku tertawa kering,


Apakah aku seperti ibu - ibu? Sedang Toby nampak lebih muda? Hingga Tia hanya memanggilnya nama saja, sedang padaku dia memanggil Ibu.


Wanita tidak akan tahan dengan hal seperti ini, tak tetkecuali aku. Dan begitupun aku otomatis bertanya.

__ADS_1


"Apakah saya kelihatan tua Tia"


"Tidak.." Jawab Tia spontan. "Maksudku dari Toby?"


"Tidak sebenarnya" Jawab tia "Tapi ibu lebih galak" Lanjutnya lirih.


Huh... Dia tidak tahu saja betapa galaknya Toby. Dan galaknya Toby tidak pernah setengah. Tidak hanya ucapan tapi juga tindakan.


Aku memandang untuk kedua kalinya draft pekerjaan dintanganku dan menarik nafas dalaaam... Sekali. Meresapi bagaimana reaksi Toby andai aku mengatakan tidak.


Hmmm... Pertama dia akan bertanya "Mengapa?". Dan itu sudah pasti sulit di cari jawabannya kecuali jawaban konyol. "Aku nggak mau saja"


Karena sesuai mata Toby pekerjaan ini memang sangat cocok untukku.


Dan Toby akan kembali bertanya "Beri detail alasanmu itu"


Dan aku pasti tidak punya kecuali kejujuran. Lagi pula berbohong pada Toby hanya seprti pisau bermata dua.


Yang pertama, pasti ketahuan. Yang kedua pasti di paksa jujur. Dan nggak mungkin aku bilang. Karena CEO nya adalah Mantanku waktu SMA.


"Apakah aku akan menjawab, karena dia ingin kita bercerai.


Aku menghembus nafas kasar.... Dan mulai membayangkan wajah Antagonist Toby yang murka.


Ckckkxkc... Kalau begini namanya, maju kena mundur kena.


Aku kembali memandang Tia yang masih menatapku heran dengan segala pikiranku yang tak jelas.


Andai saja Tia teman baik ku aku akan bertanya padanya, setidaknya mungkin ada ide tentang masalahku. Tapi kami bukan teman baik, bisa jadi masalahku bisa jadi gossip yang memblunder.


Dan sisa temanku adalah teman di radio yang mulutnya diragukan kesetian penyimpanannya. Karena pasti bisa jadi bahan yang menguntungkan untuk radio mereka.


Jadi aku sekarang harua bagaimana?

__ADS_1


Badanku rasanya perlahan seperti tak bertulang.


"Ibu baik - baik saja, apa ibu perlu makan?"


"Saya merasa seperti tante tante kalau kamu panggil begitu"Sambutku dwngan tanpa tenaga" Bisakah kamu panggil nama saja, setidaknya perasaan saya sedikit lebih baik "


*****


" Sandra... Tia.. Tolong ke ruangan saya " Panggil Om Yoga yang tiba - tiba muncul di antara kami.


Tanpa sadar aku langsung berdiri tanpa bertanya apapun. Dan berjalan menuju ruangan Direktur Agency ini. Tanpa berfikir lagi ada apa?.


" Kamu sudah baca kontrak kerjamu Sandra? " Om Yoga langsung melempar pertanyaan saat aku dan Tia sudah memasuki ruangan. "Dan bagaimana pekerjaan pertama yang kami tawarkan? Toby yang memilih itu untukmu"


HAH... Om Yoga bertanya bukan untuk pertimbangan. Tapi dia sedang memaksaku untuk bilang iya.


" Pekerjaan itusangat cocok untukmu" Kali ini wajahnya berbinar seiring dwnga gestur tibuhnya yang lebih sedikit condong ke arah aku dan Tia yang perlahan mengambil duduk di sofa.


"Benar" suaraku terdengar lirih.


"Yup. Bagus kalau kamu setuju" Pak. RIZAL berencana akan berinveatasi untuk Agency kita. Begitu... "


Akuntidak perlu mendengar sisanya...siapapun sudah bisa membaca arti dari tawa ramah dengan sinar mata berkilau itu. Apalagi itu berasal dari soaok Om Yoga, pemilik agency terbesar di negeri ini.


Aku belum memutuskan bukan? Atau aku harua kembali lagi tersudut dalam kondisi tak punya pilihan?


Whooaxhh... Mualku mulai kambuh.. Bukankah hari ini sudah terjadi beberapa kali..


Whooach... Aku memberi isyarat ke Tia dan segera berlari kecil ke Toilet.


Dan kedua kalinya aku kembali dusuk lemas usai memuntahkan isi perutku. Tenagaku rasanya sudah habis, meski hanya untuk mengumpat dalam hati.


Aku menutup mataku pelan dan menekannya sesaat, berharap mungkin aku bisa memeras otakku untuk sedikit penerangan. Antara salah satu pilihan? Tapi... Semua gelap.

__ADS_1


Ckckck...


"


__ADS_2