Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
10. Mimpi di Siang Bolong


__ADS_3

Author POV


"Edgar ...!!!! Gue kira lo udah gak niat sekolah lagi.” Ejek Uta santai pada sahabatnya yang baru pulang liburan.


“Lo mesti ingat, sahabat lo ini siswa teladan. Andalan Z1, masa iya gak sekolah lagi.” Ucap edgar super pede. Iya, Edgar adalah atlet basket terbaik Z1. Karena kemampuannya itu dia dipercaya menjadi kapten tim. Bukan hanya ditingkat SMA, Edgar juga sudah menjadi atlet basket terbaik sejak SMP. Bakat basketnya bahkan sudah terlihat sejak dia masih kecil.


“Hhuuu… Sombong amat!!! Tau nggak 2 hari ini fans berat lo bete, lo gak kasih kabar.” Lapor Uta pada Edgar tentang kegundahan seseorang selama 2 hari karena Edgar belum pulang ke Indonesia.


“Anak anak bilang ada anak baru ya?” Bukannya menanggapi perkataan Uta, Edgar malah mengalihkan topik pembicaraan.


“Iya pindahan dari Bali.” Yang dialihkan pun tak sadar sudah terbawa arus ombak.


“Ohh, ada tugas apa selama gue izin 2 hari?” Kembali dengan smooth manuver mengalihkan topik pembicaraan.


“Ada tugas kesenian Gar, entar gue jelasin deh. Bates kumpul minggu depan kok.” Dengan polosnya menjawab pertanyaan Edgar, tanpa sedikitpun menyadari sedari tadi terombang ambing arus ombak bahkan sudah hampir ke tengah laut.


“Ehhem.” Mereka tersentak saat Alber melewati keduanya. Tampak Edgar dan Alber sekilas bertatapan. Dari pengamatan Uta, tak ada inisiatif dari keduanya untuk berkenalan atau memperkenalkan diri.


“Gar lo belum kenalan sama teman baru kita. Kenalin Gar ini Alber, siswa baru di Z1. Alber kenalin ini anak kelas ini sekaligus sahabat gue, Edgar.” Ucap Uta menengahi.


“Alber.” Rupanya Alber yang deluan berinisiatif mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Edgar.” Edgar menyambut uluran tangan Alber, mereka berdua berjabat tangan resmi berkenalan. Seketika suasana hening, tapi bukan karena Alber, melainkan karena Reta datang berkacak pinggang dan menatap kearah Edgar.


“Gue gak ikutan yah, bye.” Ujar Uta kabur dari sana. Uta memilih kembali ke mejanya. Tanpa adanya aba aba, rupanya Alber juga mengikuti langkah Uta kembali ke bangkunya.


_____________ Z _____________


Uta POV


Hari ini obrolanku dengan Alber seperti biasa, ya tak banyak. Karena insecure-nya diriku juga karena salah satu resiko bersekolah di SMA unggulan pastilah pelajaran begitu ketat. Jika sedikit saja tidak fokus maka, akan dengan cepat ketinggalan dengan teman-teman yang lain. Sepertinya rekor mengobrol kita terbanyak adalah saat chat tentang tugas design tadi malam.

__ADS_1


Hari ini aku justru lebih memperhatikan suasana hati Reta. Reta menjadi lebih pendiam hari ini. Jam istirahat tadi pun dia juga tak banyak bicara. Reta mungkin belum ingin cerita, tapi aku bisa menebak kemungkinan ini karena Edgar. Belakangan ini Edgar selalu saja cuek terhadap Reta padahal sebelumnya tidak begitu.


Aku tentu tak bisa berbuat apa-apa. Keduanya merupakan sahabatku. Posisiku mestilah netral menyangkut perkara hati mereka. Itu sebabnya aku lebih baik tak ikut campur apabila sudah berurusan dengan hati Reta dan Edgar.


Wajah murung itu masih terlihat bahkan saat aku menghampirinya untuk berjalan pulang ke gerbang sekolah bersama. Edgar tak usah ditanya, dia bahkan sudah langsung keluar kelas tepat saat bel pulang berbunyi. Meskipun Reta berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya dengan senyum ceria, tapi tentu saja aku tetap tahu. Kami bukan anak kemarin sore yang baru bertemu melainkan kita sudah bersahabat lama.


"Masih bad mood? Mau jalan jalan???" Tanyaku memastikan perasaannya. Menawarkan opsi jalan-jalan. Mana tahu dia ingin mencari udara segar untuk memperbaiki moodnya, namun dijawab Reta dengan gelengan kepala.


"Lo pulang naik apa?? Motor Ibu Ratu udah sembuh belom??" Tanya Reta padaku. Terkadang aku berpikir, gak Reta, gak Edgar, dua duanya paling pandai mengalihkan topik. Heran aku tuh.


"Udah tapi Ibu Ratu yang sibuk. Belakangan ini Alhamdulillah banyak orderan catering yang masuk. Lagian gue juga lebih nyaman kalau berangkat dan pulang enggak nyusahin Ibu Ratu." Jawabku jujur padanya.


Tin ... Tin ...


Bunyi klakson berasal dari mobil mewah warna hitam di depan gerbang. Dari dalam mobil itu keluar laki laki paruh baya yang sangat kami kenali.


"Surprise." Ucap pria itu sambil tersenyum lebar ke putri semata wayangnya.


"Kok Papa bisa ada di sini??? Papa katanya baru pulang lusa." Ucap Reta pada Papanya. Antara masih tak percaya atau merasa kena prank papanya sendiri.


"Namanya juga surprise Re. Apa kabar Ta??" Papa Reta tertawa puas karena berhasil ngeprank anaknya. Di sela-sela tawanya, tak lupa beliau menyapaku. Ya Papa Reta sama seperti anaknya. Meski memiliki harta banyak, tetapi selalu humble dan tak pernah membeda - bedakan orang.


"Sehat om. Om apa kabar?" Tanyaku balik pada Papa Reta.


"Sehat dan bugar dong Ta." Ucap Papa Reta sambil mengangkat satu tangannya ke atas, dalam rangka memamerkan otot seperti binaragawan. Aku tertawa melihatnya. Sementara Reta geleng geleng melihat tingkah Papanya itu.


"Ta, yok pulang bareng gue sama Papa. Gak usah naik ojol." Ajak Reta agar aku pulang bersama.


"Iya Ta, gak usah naik ojol. Biar om yang antarin sampe rumah." Lanjut Papa Reta juga padaku.


"Makasih Om, tapi lain kali aja ya Om, Re. Lagian ojol yang Uta pesan 2 menit lagi sampai. Uta juga rencana mau singgah ke tempat cetak gelas mug Om." Tolakku halus pada Papa Reta. Biarlah ayah anak itu temu kangen dulu. Belakangan ini Reta cerita orang tuanya sering kali bolak balik ke luar negeri untuk urusan kerja. Ia tak bisa ikut karena harus masuk sekolah. Jadi biarlah mereka meluapkan rasa rindu tanpa diganggu kehadiranku.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, gue balik deluan ya Ta. Lo hati hati pulangnya." Ucap reta sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Aku memberikan tanda jempol ke Reta pertanda oke.


"Kapan kapan main kerumah, Tante tanyain kamu kapan main kerumah. Om sama Reta pulang deluan ya Ta." Ujar Papa Reta ramah padaku. Terpancar kasih sayang hangat seorang ayah.


"Iya hati hati Om." Ujarku penuh hormat pada beliau.


Mereka akhirnya memilih menghargai keputusanku dan pamit pulang duluan. Mobil mewah itu perlahan meninggalkan area sekolah.


Jujur aku selalu takjub dengan kedekatan ayah dan anak itu. Satu sisi hatiku ikut menghangat melihat interaksi keduanya. Tapi di sisi lain ada juga rasa iri karena ingin rasanya merasakan hal yang sama. Namun hal itu adalah sesuatu yang tak mungkin. Bagiku kasih sayang seorang ayah lebih tepatnya bagai mimpi di siang bolong. Mustahil.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. SekArang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2