![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta dan Alber tiba di warung makan pinggir jalan yang Uta pilih. Sama seperti tadi saat di toko mug. Orang-orang yang ramai makan bahkan sampai pemilik warungnya memerhatikan Alber. Seolah terhipnotis ada bule ganteng entah dari mana singgah makan di warung pinggir jalan. Untungnya Alber memarkirkan mobilnya bukan di area warung itu melainkan di parkiran supermarket mini tak jauh dari area warung.
Tampaknya Uta sudah tak heran lagi dengan reaksi orang orang jika disekitar Alber. Ia memilih pergi memesankan menu andalan di warung spesialis tongseng itu, agar secepat mungkin terhidang. selesai pesan memesan, Uta membawa teman sebangkunya itu duduk di bangku pojok warung yang masih kosong.
Rutinitas Uta selanjutnya adalah sibuk mengelap meja dengan tissue disitu. selesai urusan permejaan, dia berpindah ke persendok garpuan. Dilapnya sendok garpu itu seteliti mungkin hingga yakin segala bakteri minggat. Diletakkannya sendok garpu untuk Alber di atas sebuah tisu bersih tepat didepan laki laki itu, kemudian ia melakukan hal yang sama untuk dirinya. Alber menahan senyum memperhatikan gadis didepannya dalam mode super fokus. Ia duduk diam dan tak ingin menginterupsi fokusnya.
Selesai ritual beberes, Uta kemudian duduk diam menunggu pesanan mereka. Ia melirik sekilas ke membludaknya antrian ojol untuk delivery. Alamat ia dan Alber menunggu pesanan yang sudah pasti jadi lebih lama.
"Jangan diliatin mulu Ta, santai aja. Paling bentar lagi juga pesenan kita dianter." Kata Alber yang seperti bisa membaca jalan pikiran Uta.
"Iya, gue cuma mau kira kira antriannya aja." Jawab Uta mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia berusaha tak terlalu sering bertemu pandang dengan Alber, takut saling canggung. Sementara Alber malah berlaku sebaliknya, ia melihat Uta dengan seksama, semacam mengobservasi teman sebangkunya itu agar lebih mengenal.
"By the way Ta, kenapa lo duduk dibelakang sendiri?" Tiba tiba Alber bertanya topik yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan agenda makan ini.
"Hmm .. Karena ngerasa lebih nyaman aja." Jawabnya singkat. Uta memang tak secara ekplisit menjelaskan rasa insecure nya dan alasan detail mengapa itu terdjadi. Ia lebih memilih mengatakan secara garis besarnya saja.
"Kenapa milih dibelakang? Kan bisa aja milih di tengah." Tanya Alber lagi, laki- laki itu mencoba mengulik lebih dalam dengan cara yang smooth, mengalir saja dalam obrolan ringan ini.
"Hmm .. Karena kalo di belakang, interaksi dengan anak anak jadi gak terlalu sering. gue lebih nyaman gitu." Jawab Uta masih belum mau dikulik dalam. Dia masih bicara secara umum dan hanya mengeluarkan clue tipis tipis.
"Terus sebelumnya, lo duduk sebangku sama siapa Ta?" Jawaban Uta membuat Alber jadi penasaran, siapa teman sebangku Uta sebelumnya. Masa iya Uta tak pernah punya teman sebangku selama sekolah, pikir Alber.
"Gak sama siapa siapa." Jawab Uta mementalkan dugaan Alber. Lawan bicaranya sampai sedikit terkejut, terlihat dari sorot matanya yang agak melebar.
"Lo gak pernah punya teman sebangku? Sejak SD? Serius Ta?" Tanya Alber spontan. Ia tak bisa lagi menyembunyikan penasarannya karena statement Uta sebelumnya.
__ADS_1
"Ya pernah dong. Dulu waktu SD sama Edgar, SMP sama Reta tapi sekarang gak ada." Ujar Uta menjelaskan riwayat perjalanannya sejak SD, persis seperti yang Alber kepo kan tadi.
"Ada dong. Kan gue sebangku sama lo sekarang." Ujar Alber memperbaiki kalimat Uta barusan, sebab sekarang mereka duduk sebangku.
"He .. he .. he .. Iya ya, gue sekarang sebangku sama lo." Uta yang menyadari sanggahan dari Alber betul, jadi terkekeh geli. Benar juga, sekarang di Z1, Alber lah patner sebangkunya.
"Kenapa lo gak duduk bareng lagi sama Reta atau Edgar?" Tanya Alber lagi. Tiba- tiba saja terpikir olehnya, kenapa mereka tak mengulang masa dulu.
"Hmm ... Reta kabur kalo ngeliat jauh, jadi dia mesti duduk di depan. Edgar dia duduk sama Hadi teman satu tim basketnya, biar enak diskusi basket katanya. Edgar juga dari dulu memang sukanya duduk di area tengah, soalnya dia gak bisa tidur pas jam pelajaran kalau duduk kebelalang. Guru- guru seperti biasa, selalu ngeker bagian belakang terus." Jawab Uta selengkap lengkapnya.
Alber menyimak semua tanpa terkecuali. Ia menyadari satu hal, ini pertama kalinya Uta menjawabnya panjang kali lebar. Sebelumnya Alber berpikir Uta memang lebih suka menjawab singkat, tapi ternyata ia bisa juga bicara panjang.
"Gue jadi penasaran, emangnya gimana duduk tanpa teman sebangku? Secara lo cewek, milih duduk di belakang, sendiri pula. Lo ngerasa apa?" Tanya Alber lagi. Jarang dia menemukan hal seperti ini sebelumnya. Biasanya murid perempuan lebih suka duduk area depan ke tengah. Sebaliknya, rata rata murid laki-laki lah yang suka duduk di area belakang.
"Di luar dugaan, rasanya ternyata lumayan asik di belakang duduk sendirian. Gak mesti banyak interaksi tapi bisa ngelihat semua anak anak." Cerita Uta tentang testimoninya rasanya duduk dibelakang sendirian.
"Hmm kalo boleh jujur, awalnya iya. Apalagi pertemuan awal kita absurd banget. Tapi ya gak bisa menghindar, karena bangku yang kosong memang cuman ada di sebelah gue." Jawab Uta jujur. Tak ada niat menyembunyikan pendapatnya. Menurutnya itu wajar saja terlebih untuk dirinya yang insecure.
"Itukan awalnya, tapi sekarang gimana? Masa iya masih canggung. Ingat kita udah sekelompok kemarin." Kata Alber ingin tahu perasaan Uta sekarang. Tak lupa Alber menekankan kata 'sekelompok' pada kalimatnya.
"Eitss ... Lebih tepatnya lo bikin kelompok sepihak. Gue gak tau, tiba tiba lo udah main nyetor nama kedepan." Jawab Uta dengan matanya yang membulat. Ia membetulkan pernyataan Alber, sekelompok yang sebenarnya bukanlah sekelompok suka rela melainkan sekelompok sepihak.
"Tapi kan gue udah nanya lo sebelum ke depan." Jawab Alber sebagai manuver membela diri atas aksinya kemarin.
"Lebih tepatnya pemberitahuan alias pengumuman-pengumuman." Ucap Uta, sekali lagi meralat perkataan Alber.
"Wkwkwkw ... Iya juga ya. Tapi serius Ta, sekarang masih ngerasa gak nyaman sebangku sama gue?" Mendengar perkataan Uta, Alber tak bisa menahan tawanya lagi. Ia mengakui setelah mengingat ulang peristiwa hari itu. Tak menyerah, Alber kembali bertanya perasaan Uta sekarang.
__ADS_1
"Hmm ... Kalau sekarang dipikir pikir, bukannya gak nyaman karena duduk bareng. Lebih ke masih canggung kalau mau berinteraksi sama lo. Bingung aja gimana adaptasinya, makanya jadi sering milih diam aja." Ujar Uta jujur.
"Justru sebaliknya, wajar banget kok kalau lo ngerasa gitu. Yang namanya adaptasi, pastilah ada proses di dalamnya. Dan proses itu dimana mana butuh waktu untuk bisa berprogres. Jadi santai aja Ta, yang penting jangan menutup diri. Biarin ngalir aja sampai nanti akrab sendirinya. Lagian menurut gue lo orangnya asik kok, cuman lo kurang membuka diri aja." Ucap Alber terus terang penilaian nya akan Uta.
Sesaat Uta tersentuh dengan perkataan Alber. Betul memang apa yang Alber bilang. Tapi kadang kadang ada banyak hal yang membuat seseorang menjadi tertutup dan tak percaya diri. Ada yang karena karakter, ada yang karena sifat, watak, pengaruh orang orang terdekat atau juga mungkin kondisi dan lingkungan. setiap orang memiliki perjalanannya masing masing, termasuk juga Uta.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND