Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
41. Hala


__ADS_3

Author POV.


Setelah kemarin malam hanya dihabiskan dengan uring-uringan di rumah. Uta memutuskan hari Sabtu ini, untuk jalan-jalan ke toko buku sendiri. Gadis itu ingin agar pikirannya kembali melupakan pertemuannya dengan Felix kemarin.


Membeli komik atau novel terbaru di toko buku, sepertinya ampuh untuk mengalihkan pikirannya, dari laki-laki yang pernah menyakitinya itu. Setidaknya, dirinya yakin jika menemukan novel dengan jalan cerita yang bagus, ia akan terhanyut dengan jalan cerita dan tak lagi memikirkan Felix.


Ia bangkit bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dipilihnya beberapa pakaian yang simpel dan tidak ribet sesuai dengan dirinya. Pilihan jatuh pada kaos oversize, celana jeans, sneakers dan bucket hat atau topi yang memiliki bentuk seperti ember. Semua style yang dipilih Uta merupakan keluaran brand favoritnya dan didominasi warna agak gelap.


Kata orang, warna gelap lumayan menyamarkan bentuk badan yang agak gemuk. Kaos over size yang sebelumnya pas di badan Uta, kini sudah mulai agak longgar, sebab penurunan berat badan efek diet masih berlanjut, walaupun tak semangat seperti dulu saat berpacaran dengan Felix. Ditatapnya penampilannya di depan cermin.


Not bad.*Uta.


Diraihnya sebuah masker dan tas tote bag miliknya yang simple tapi manis, sebagai pelengkap terakhir. Setelah mengantongi izin Ibu Ratu, dirinya langsung pergi. Kali ini ia memilih naik MRT, karena tak perlu macet macetan dan sudah pasti jadi lebih cepat.


Sekitar 45 menit, akhirnya toko buku yang Uta maksud dimasukinya juga. Wangi khas buku baru, samar samar tercium di indra penciumannya. Warna warni beragam buku menyenangkan matanya. Uta langsung berjalan menuju area buku yang memang ia incar sedari rumah. Sedang asik membaca sinopsis, dalam rangka mencari buku yang worth it untuk dibeli, Uta ter-distract oleh sesuatu.


"Tuta??" Tiba-tiba suara anak kecil yang tak asing bagi Uta mendekat ke arahnya.


"Putri?? Hei .. Aduh Tuta seneng banget ketemu sama si cantik ini!!" Dipeluknya gadis cantik yang datang menyapanya itu. Anak gemas yang sempat membuatnya menjadi intel FBI dadakan kala itu.


"Tuta kok bisa ada disini??" Tanyanya dengan wajah lucu yang terlalu menggemaskan di mata Uta.


"Tuta lagi pengen lihat-lihat buku sayang." Jawab Uta membelai surai indah gadis cilik itu. Kali ini rambutnya diurai dan hanya dihiasi bandana simpel, senada dengan baju yang ia kenakan.


"Buku apa Tuta?" Pertanyaan polos dari dirinya yang ingin tahu, membuat Uta berpose seolah sedang berpikir keras.

__ADS_1


"Hemhh .. Belum tahu nih, antara novel atau komik. Tuta masih bingung. Putri Kok bisa disini?? Putri ke sini sama siapa sayang??" Jawab Uta jujur. Anak ini kembali lagi bertemu dengan Uta seorang diri, tanpa ada orang dewasa di sampingnya.


"Putli kesini sama Hala Tuta, tapi Hala lagi ke toilet sekalang." Jawabnya dengan nada yang penuh keyakinan.


Hala? Siapa Hala?*Uta.


"Hala itu siapa sayang? Bundanya Putri di mana sayang?" Tanya Uta yang bingung Hala itu siapa. Seingatnya, Bunda dari Putri bernama Kak Latifah. Lalu siapa Hala?


"Hala itu, saudala Ayahnya Putli Tuta." Penjelasan sederhana anak manis itu membuat Uta langsung paham.


"Duh gemes banget sih." Uta tak tahan untuk tak mencoel pipi Putri.


"Putli mau cali buku mewalnai Tuta. Putli suka mewalnai, tapi Putli belum bisa menggambal. Tuta mau gak bantuin Putli, cali buku buat Putli??" Tanyanya benar-benar ingin Uta membantunya mencari buku mewarnai.


"Di sini rupanya. Hala cariin Putri kemana-mana sayang." Seorang perempuan paruh baya dengan wajah sangat cantik menghampiri mereka.


"Hala solly. Tadi Putli gak sengaja lihat Tuta di sini. Putli jadi lupa nungguin Hala di sana. Hala solly ya Hala." Ujar Putri menyadari kesalahannya, membuat Ibu cantik itu tersenyum.


"Tuta?" Tanya Halanya Putri dengan sedikit mengerutkan kening.


"Tuta. Auntie Uta." Jawab Putri, menjelaskan apa itu definisi Tuta.


"Halo Tante, saya Uta. Maaf Tante, tadi saya ajak Putri pergi lihat-lihat buku mewarnai. Maaf jadi bikin Tante khawatir." Ucap Uta sopan memperkenalkan dirinya kepada Ibu cantik.


"Halo juga. Saya Rose, Bibinya Putri, tapi biasanya dipanggil Hala sama Putri. Saya justru yang berterima kasih. Untung Putri dibawa sama orang baik. Kalau yang bawa orang jahat, gimana?? Tadi Tante tiba-tiba sakit perut dan pengen muntah. Sepertinya masuk angin, mungkin terlambat makan." Wajah keibuan yang tulus terpancar saat mengucapkan terima kasih kepada Uta. Dirinya juga mengusap perutnya sebagai gerakan spontan tubuh yang menyatakan, tadi ia sakit perut.

__ADS_1


"Sekarang apa masih sakit Tante? Sebaiknya Tante segera makan, biar perutnya gak kosong." Mendengar jawaban Ibu cantik itu, membuat Uta khawatir. Ia sangat tahu, rasa tidak enak karena maag, mual, muntah dan sebagainya. Perut bisa-bisa perih, melilit dan kepala pusing.


"Habis muntah tadi, sekarang udah lebih enakan. Tapi kayaknya, memang harus isi perut sekarang." Ibu cantik tampak menyadari ke khawatiran Uta.


"Hala sakit?" Putri yang mendengar percakapan Hala dan Uta, langsung ikutan nimbrung untuk bertanya kepada Halanya.


"Enggak, cuman Hala harus makan biar gak sakit. Putri sama Tuta temanin Hala makan yuk." Ucap Ibu cantik kepada putri, sambil melirik mata kearah Uta, sebagai kode agar Putri mengajak Tuta makan bersama mereka.


"Hole .. Tuta ayok Tuta. Ayok .. ayok .." Putri yang mendengar itu sontak melompat kesenangan, karena akan makan bersama-sama dengan Uta.


"Bentar Tante, Uta kembaliin ini ke raknya dulu sebentar." Ucap Uta yang ingin mengembalikan buku di tangannya terlebih dahulu ke rak semula.


"Gak usah Uta. Tolong urus buku buku ini." Ibu cantik melarang Uta untuk mengembalikan buku di tangannya. Beliau menyambar 2 buah novel terjemahan yang ingin Uta beli, kemudian menyerahkannya kepada pengawal pribadinya untuk mengurusnya ke kasir. Uta berusaha menolak karena tak enak hati, tapi Tante Rose tak menerima alasan apapun.


Tante Rose akhirnya membawa mereka ke sebuah restoran mewah dengan sistem buffet yang berada dalam di situ. Sepanjang makan Putri sangat senang karena makan bersama Uta. Ia banyak bercerita tentang aktivitasnya, apa hal yang disukainya belakangan ini, kartun yang dia tonton, musik yang dia dengarkan dan lain sebagainya.


Sangkin asyiknya menceritakan kepada Uta, sampai-sampai kadang Ia lupa untuk memakan makanannya. Kedekatan itu tak luput dari pantauan tante Rose. Diam diam beliau tersenyum dengan senyum sejuta makna.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2