![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Alber membawa Uta ke rumah masa kecilnya di Bali. Rumah mewah seperti kediamannya di Jakarta begitu asri dengan taman dan pepohonan.
Meski keluarga Farabaks menetap di Jakarta, rumah ini tetap di rawat beberapa karyawan setia mereka.
Karyawan mereka menyambut hangat kedatangan pasutri itu. Mereka juga antusias berkenalan dengan Uta, nona muda baru mereka.
Uta dan Alber kemudian di suguhi makan siang dan snack yang memang biasa memenuhi rumah ini. Makanan dan snack ala-ala Turki tentunya.
Selesai makan, Alber mengajak Uta ke kamar semasa ia menempati rumah ini. Ruangan super luas itu tampak rapi terawat. Wangi khas maskulin mendominasi penciuman Uta. Warna hitam, merah, putih dan abu-abu adalah warna yang Alber pilih untuk kamarnya ini. Sedikit berbeda dengan kamarnya di Jakarta yang pernah Uta masuki.
Kamar khas anak laki-laki yang kental akan poster band atau poster atlet olahraga.
Ada beberapa poster maupun mini sticker tertempel di sana. Mulai dari pemain bola, bintang tennis, legenda bulu tangkis, pentolan basket, pembalap terkenal hingga jagoan tinju. Alber bahkan punya koleksi jersey asli dari setiap idolanya itu.
Uta terkekeh melihat beberapa gambar Alber kecil yang berfoto dengan punggawa band Sela oh Sepen. Ada juga ia berfoto dengan band Dewwa, dan masih banyak lagi. Alber kecil beberapa kali menonton pertunjukan band legend Indonesia itu, saat mereka tampil di Bali.
Hingga tibalah ia melihat sesuatu yang unik disana.
"Sayang, kenapa disini ada foto aku?" Tanya Uta melihat 3 buah pigura yang berisi foto dirinya.
"Kangen. Pengennya sih ngelukis gambar kamu seperti di rumah Jakarta. Tapi, warna dindingnya gak bersahabat." Jawab Alber mengakui hal itu terus terang.
"Emangnya kamu sering kesini?" Tanya Uta lagi.
"Ya, setiap ada keperluan bisnis di Bali, pasti mampir ke rumah. Sekalian ngobatin rindu, kayak sekarang." Jawab Alber menjelaskan. Uta langsung paham, mengingat suaminya itu salah satu pebisnis kelas kakap. Sudah pastilah berpergian ke berbagai kota sudah jadi makanan Alber.
__ADS_1
"Tapi sayang, kenapa warna kamar ini beda banget sama kamar Jakarta?" Tanya Uta lagi.
"Soalnya Annem yang menata segala sesuatunya di Jakarta. Kalau kamar ini, aku yang atur. Sejujurnya, aku dulu gak mau pindah ke Jakarta, tapi Annem Babam bersikeras aku harus pindah. Ya gitu deh jadinya." Cerita Alber mengenang kala itu. Uta yang baru tahu fakta ini, sempat agak kaget.
"Andai waktu itu kamu kekeh tetap di Bali. berarti jodoh aku cowok lain dong." Ucapnya menarik kesimpulan dari fakta barusan.
"Enggak. Enggak boleh. Aku gak rela kamu berjodoh sama cowok lain. Rasanya hati aku patah Ta." Alber yang sadar ucapan Uta ada benarnya, buru-buru memeluk erat istrinya itu. Ia seolah tak membiarkan Uta kabur sedikitpun.
"Wkwkwkwk. Ududuh, tayang-tayang. Sini aku tiup biar sembuh hatinya." Melihat reaksi panik Alber, membuat Uta tertawa. Ia sengaja mengisengi Alber layaknya anak kecil. Ditiupnya dada bidang suami tersayangnya itu.
"Ditiup mah, gak akan mempan. Obatnya cuman ada satu cara." Ucap Alber dengan wajah misterius. Uta yang melihat ekspresi misterius itu langsung paham, obat apa yang suaminya maksud.
"Sa ... Sayang wait." Perlahan ia mencoba mundur. Melepaskan diri dari predator yang mulai ON. Alber tersenyum jahil, melihat tingkah Uta yang mencoba kabur darinya. Dengan sekali gerakan, badan Uta sudah melayang diatas lantai.
"Aaaaaaaa ... Sayang nooooooo ...!" Teriak Uta mendemo suaminya yang membawanya ke tempat tidur. Namun sayang seribu sayang, kamar Alber di Bali sejak dulu ia setel kedap suara.
..._____________ Z _____________...
"Sayang, kamu tuh gak bisa di becandain dikit. Selalu aja endingnya begini." Protes Uta pada laki-laki yang berbaring di sampingnya.
"Wkwkwkw ... Masalahnya tuh bukan di becandaannya. Tapi di kamunya, cinta. Otak aku isinya kamu semua." Jawab Alber memblokade protes Uta, usai ia dan istrinya itu berbuat yang tidak-tidak di kamar ini.
"Heleh, kamu sekarang pintar ngegombal. Malas deh aku. Jangan-jangan bibir ini udah banyak ngegombal cewek-cewek lain yah?" Ucap Uta curiga sembari mencubit gemas bibir Alber.
"Wkwkwkwk ... Yes, aku di jealous-sin. Ternyata asik juga di cemburuin." Bukannya kesal dituduh begitu, Alber malah kegirangan Uta cemburu.
"Siapa juga yang cemburu. Aku gak cemburu yah!" Tolak Uta dibilang cemburu.
__ADS_1
"Iya, iya. Istri aku tuh gak cemburuan orangnya. Best pokoknya. Wkwkwkwk..." Goda Alber mengikuti klaim Uta. Meski nada dan tawanya mencerminkan sebaliknya.
"Ishhh ... Sayang serius ihhh." Uta yang tau digoda Alber, memukul gemas dada bidang suaminya yang belum dibungkus baju.
"Wkwkwkkw ... Serius ini. Aku tuh serius banget ngadon Farabaks junior. Jadi anak kita, biar made in Bali." Jawab Alber kini penuh keseriusan.
"Ishhh ..!! Nemu aja ngelesnya." Kesel Uta yang tak bisa membantah ucapan itu.
"Wkwkwkwkwk ..."
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.
Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa
__ADS_1
❤ ZEROIND