![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Lanjutan flashback
Uta POV
"Maaf ..." Ucap ku di sela sela isak tangis. Aku benar-benar merasa bersalah pada Edgar. Sahabat yang sudah sering mengingatkanku namun kata katanya tak ku ikuti, tapi disaat begini justru dialah orang terdepan yang membela ku.
Bahkan dia tak ragu menghajar Kak Felix habis habisan, padahal risiko bisa saja sudah menantinya di depan mata. Kak Felix bukanlah orang sembarangan, sebab orang tuanya adalah donatur terbesar yang seringkali mensponsori Z1.
Meskipun Edgar juga merupakan anak orang kaya, tapi tetap saja ini bisa menjadi catatan buruk untuk Edgar, terlebih dia atlet berprestasi Z1. Kebodohanku pada akhirnya malah menjerumuskan sahabatku sendiri.
"Lo nggak salah Ta, tuh orang yang brengs*k manfaatin ketulusan lo. Jangan minta maaf, lo korban di sini." Air mataku tambah mengalir deras, mendengar Edgar yang telah ku kecewakan mengatakan hal seperti itu.
"Maaf ya Gar, seharusnya gue dengerin lo sejak awal. Gue emang bener bener bodoh, sampai sampai gak dengerin lo dan percaya sepenuhnya ke Kak Felix. Maafin gue Gar." Ucap ku tulus dari dasar hati kepada Edgar. Aku tak ingin menambah rasa bersalah lagi kepadanya.
Mendengar itu bukannya memarahiku, Edgar malah merengkuh ku dalam pelukannya. Ditepuk-tepuknya pelan punggungku, agar tangisku mereda.
"Udahlah Ta, semua sudah berlalu. Kedok manusia brengs*k itu juga udah kebuka. Gue emang sempat kesel karena lo gak denger kata-kata gue dari awal, tapi yang gue tau, sahabat gue bukan orang bodoh. Keputusan lo mutusin Felix barusan itu, bener-bener keputusan yang cerdas. Lo bukan bodoh, hanya terlalu tulus sama orang, sampai-sampai gak mikir kalau ada manusia jahat kayak begitu di dunia ini." Ucapnya lembut di telingaku.
__ADS_1
Tak kudapati sama sekali Edgar menyudutkan ku. Setidaknya kata-kata Edgar barusan, mampu menjadi pelipur hati yang penuh luka saat ini. Diurainya pelukan kita saat dia merasa, tangisanku sudah tak sederas tadi.
"Gar, bisa bawa gue ke tempat Reta aja nggak?? Gue takut Mamah khawatir lihat gue nangis sampai mata bengkak gini. Entar aku tinggal telpon, mau kerja kelompok ke Mamah." Pintaku pada Edgar, semata-mata karena aku tak ingin membuat Ibu Ratu khawatir.
"Mamah Celine bukan orang yang berpikiran sempit dan lo tau itu. Mending lo dari awal cerita ke Mamah Celine." Ucap Edgar memberikan pandangan yang berbeda dari jalan pikiranku.
"Percuma juga kalau sembunyi Ta, manusia brengs*k itu tahu rumah lo dan kenal sama nyokap lo. Gimana kalau dia nekat ke rumah lo, sementara lo di rumah Reta. Yang ada Mamah Celine malah jadi panik, tahu kondisi lo dari orang lain." Ujarnya lagi yang membuatku berpikir ulang sekali lagi.
"Mending lo jujur dan cerita dari awal ke beliau. Terserah lo mau cerita sedetail detailnya atau enggak ke beliau. Intinya lo kasih tahu kalau lo udah nggak ada hubungan dengan Felix lagi. Lo bisa pilih kata-kata yang bisa mengurangi ke khawatiran nyokap lo, tanpa menghilangkan inti pembahasan. Gue yakin Mamah Celine bakal lebih plong, kalau tau ceritanya dari lo langsung." Otakku berpikir keras mendengar uraian dari Edgar. Apa yang ia katakan sebenarnya ada benarnya, membuatku diam tercenung.
"Masih pengen ke tempat Reta??" Ucapnya memecahkan sunyi atas kediaman ku. Edgar tahu aku sedang berpikir keras, untuk menentukan apa yang akhirnya kupilih.
"Good." Ucap Edgar menepuk pelan bahuku. Edgar mulai melajukan mobilnya menuju kediaman ku. Di nyalakannya radio untuk mengusir suasana sedih di dalam mobil. Setelah mobil sampai tepat di depan rumahku, aku masih tak langsung turun. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Mamah.
"Sehancur apapun hati lo, lo mesti ingat kejadian hari ini bukan tanpa alasan. Semua pasti sudah Tuhan takdirkan, dan lo mesti percaya tujuan Tuhan pasti baik meskipun pahit. Tuhan buka topeng si brengs*k itu, karena dia memang nggak pantas sama sekali buat lo." Ucap Edgar menguatkan hatiku. Nampaknya dia sadar bahwa aku sesedih itu. Hatiku yang drop, merasa sedikit lebih baik karena perkataannya.
"Lo cewek baik-baik Ta. Dan ingat kata-kata gue, orang yang baik bakal dipersatukan dengan orang yang baik. Jadi, jangan bersedih terlalu lama. Jangan buang air mata lo buat sampah seperti dia." Ucap Edgar dengan ekspresi penuh ketulusan yang membuatku tersentuh. Aku mengangguk balik padanya, karena sejujurnya aku juga meyakini bahwa, Tuhan akan mempersatukan yang baik dengan yang baik.
__ADS_1
Aku turun dari mobil karena perasaanku sudah lebih tenang, diikuti Edgar di belakang. Mamah langsung membuka pintu tak lama setelah pintu diketuk, sudah bisa ku pastikan Mamah menungguku, karena aku terlambat pulang hari ini dan tak memberi kabar sama sekali.
"Ya Allah ... Kalian berdua kenapa Nak?? Uta kenapa sayang? Edgar Kenapa tangan kamu luka-luka begini? Edgar kamu habis berantem??" Seperti yang kuduga, Mamah pasti panik melihat kami. Wajahku dengan mata bengkak habis menangis dan Edgar yang tangannya luka-luka habis berantem. Komplit sudah latar yang mendukung kepanikan Mamah Celine.
"Mamah jangan panik dulu, kita enggak kenapa kenapa Mah." Ucap Edgar setenang mungkin, agar Mamah tak perlu panik.
"Iya Mah, kita berdua nggak apa-apa. Mamah jangan panik dulu, nanti Uta bakal ceritain semua ke Mamah. Sekarang Uta pengen ganti baju dulu, entar baru cerita semua ke Mamah." Ucapku mempertebal perkataan Edgar sebelumnya, untuk menenangkan Mamah yang keburu panik duluan. Mendengar itu Mamah mulai mereda.
Ya, aku dan Mamah sedari dulu membangun trust satu sama lain. Sehingga apapun yang kukatakan, Mamah akan memberi kepercayaan sebesar-besarnya, begitupun sebaliknya. Saat kurasa Mamah sudah lebih tenang, aku memutuskan naik ke kamarku untuk membersihkan diri, sekaligus membuang penat seharian tadi. Kulihat Edgar sesaat sebelum naik dan dibalas anggukan olehnya.
"Edgar duduk dulu!! Mamah obatin tangan kamu dulu, baru kamu boleh pulang." Sayup-sayup kudengar ucapan Mamah kepada Edgar. Meskipun badan Edgar tak terkena satupun pukulan balasan dari Kak Felix, tapi tangannya penuh luka lecet akibat memukul Kak Felix terlalu keras. Dalam hati aku bersyukur memiliki Mamah seperti Mamah Celine, yang begitu tulus menyayangi orang orang yang sayang kepadaku. Terlebih Reta dan Edgar yang sudah seperti anaknya sendiri.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND