Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
68. Family Man


__ADS_3

Author POV


"Lidah kucing? Tuta kenapa namanya lidah kucing, kenapa gak lidah ayam?" Ujar Putri penasaran kenapa dinamakan lidah kucing. Alber yang mendengarnya pun terkekeh karena lucu, tapi ia memaklumi rasa penasaran Putri. Namanya juga anak anak pikir Alber.


"Kenapa namanya lidah kucing, soalnya kalau udah matang bentuk cookies ini mirip sama lidah kucing. Adiknya Tuta suka banget sama cookies yang satu ini, karena teksturnya crispy, rasanya manis gurih, bisa kita variasikan mau rasa original, coklat, pandan atau keju. Terus entar kita tambahin selai ditengahnya biar tambah enak. Dijamin Putri pasti suka." Ucap Uta sedikit memberikan sinopsis tentang lidah kucing cookies, untuk sekedar gambaran saja.


"Tuta go .. go .." Jawab Putri penuh semangat.


Uta mencampurkan semua bahan bahan untuk membuat lidah kucing, kemudian kembali mencampurnya dengan mixer. Setelah dirasa pas, kemudian Uta membagi adonan ke dalam empat mangkok berbeda.


"Nah sekarang kita kasih perasa lidah kucingnya. Putri mau warna apa?" Ucap Uta sembari memegang beberapa botol perasa makanan, dengan warna yang berbeda.


"Putli mau walna melah." Jawab Putri menunjuk warna yang menarik perhatiannya.


"Okey Putri yang merah rasa red velvet, Yaber berarti tolong campurin yang hijau, buat rasa pandan. Tolong campurin perasanya tiga tetes aja, terus diaduk sampe rata." Uta memberikan perasa red velvet kepada Putri, lalu menyerahkan perasa pandan pada Alber.


"Telus Tuta campulin walna apa?" Tanya Putri, karena hanya Uta yang tidak mengambil botol perasa makanan.


"Tuta mau campur yang coklat, tapi pake bubuk cocoa." Ucap Uta menjawab penasaran Putri.


"Tuta bubuk cocoa itu apa? Kecoa?" Tanya Putri menoleh pada Tutanya.


"Ya masa Tuta kasih kecoa ke cookies yang mau dimakan? Bubuk cocoa itu, bubuk coklat pekat sayang. Bukan coklat yang biasa langsung bisa dimakan. Memang coklat khusus kue. Gitu sayang." Jawab Uta dengan sabarnya pada bocah kecilnya.


"Oke .. Tuta okey." Jawabnya antusias.

__ADS_1


Mereka bertiga fokus melaksanakan tugas masing-masing. Setelah adonan lidah kucing di masing-masing mangkok sudah tercampur dengan merata, Uta kemudian memandu Alber dan Putri untuk memindahkan adonan di mangkok ke piping bag, atau lebih dikenal dengan plastik segitiga, untuk mempermudah mencetak adonan dengan tekstur lembut seperti cream.


Keduanya melakukan sesuai dengan instruksi yang Uta katakan, namun bisa di bayangkan bagaimana belepotannya dapur cantik Annem di tangan Alber dan Putri, belepotan level maksimum.


Sesudah adonan lidah kucing cookies berada dalam piping bag masing-masing, Uta kemudian mencontohkan, bagaimana mencetak adonan tersebut di cetakan khusus lidah kucing milik Annem. Beruntungnya mencetak adonan lidah kucing tidak perlu harus cantik dan rapi, karena nanti ketika di oven, adonan tersebut akan meleleh lalu kemudian mengikuti bentuk dari cetakan tersebut.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Satu jam kemudian, mereka sudah menyelesaikan urusan palm cheese cookies. Kini mereka bertiga sedang mengerjakan perkara lidah kucing. Uta yang memberikan selai dilidah kucing cookies yang sudah matang sempurna dan sudah dalam keadaan dingin.


Lidah kucing cookies yang sudah diolesi selai oleh Uta, kemudian ditutup dengan lidah kucing cookies lainnya oleh Putri, hasil yang sudah siap kemudian disusun rapi oleh Alber, di sebuah toples mewah milik Annem.


Mereka bertiga benar-benar membentuk team work yang luar biasa, membuat pengerjaan dua jenis cookies terasa lebih cepat. Tak berapa lama Syiba turun dan menghampiri trio cookies itu.


"Wanginya ... Bagi Ciba dong, Ciba pengen cobain." Ucap Syiba benar benar segera ingin mencicipi cookies buatan mereka.


"Mau banget." Jawab Syiba lengkap dengan beberapa kali anggukan.


"Ciba a..." Ucap Putri meminta Syiba membuka mulutnya. Bocah kecil itu menyuapkan lidah kucing red velvet dengan selai keju yang lezat. Dengan sekali lahap, Syiba memakan lidah kucing cookies itu langsung.


"Hem ... Sumpah demi apa, enak banget." Ucapnya jujur, bahkan dengan mata membulat.


"Ciba tau gak, ini namanya lidah kucing." Ucap Putri memberi tahu Syiba, padahal sendirinya baru tau tadi dari Uta.


"Ciba suka banget lidah kucing ini. Enak banget parah." Puji Syiba tanpa ragu.

__ADS_1


"Ternyata ngumpul disini, Babam cariin dari tadi, untung bi Darmi kasih tau." Suara bariton pemimpin keluarga di rumah itu, tiba-tiba mengagetkan orang-orang di dapur.


"Babam mau kemana pake jas rapi. Syiba masih kangen banget sama Babam." Syiba yang baru mencicipi cookies buatan trio cookies, langsung mendatangi Babam dan memeluk Ayahanda nya itu. Babam yang memang family man memeluk balik Syiba, anak gadisnya itu. Terlihat jelas bagaimana beliau menyayangi anak-anaknya.


"Ada rekan bisnis Babam ngundang ke acaranya." Jawab beliau membelai rambut indah putri sulungnya.


"Sendiri atau bareng Annem Bam?" Tanya Syiba kepo.


"Ya bareng Annem dong. Wah .. wah pantesan wangi banget dari jauh Annem cium, pasti enak. Cookies bikinan Uta kemarin juga enak banget. Iya kan sayang?" Tanya Annem antusias, namun Uta hanya terdiam melamun. Melihat bagaimana perlakuan Babam yang begitu sayang dengan Syiba, membuat pikirannya sedikit membeku. Alhasil saat Annem bertanya, Uta hanya terbengong.


"Sayang kenapa melamun, Uta okey?" Annem menghampiri Uta, bahkan memeriksa dahinya. Beliau takut Uta tak enak badan.


"Eh maaf An, Uta baik baik aja An, gak sakit sama sekali. Tadi lagi mikirin sesuatu tapi lupa. Annem Babam mau cobain cookiesnya? Baru banget matang ini An, masih krenyes krenyes." Jawab Uta yang lebih tepatnya ngeles, agar Annem tidak tahu apa yang sebenarnya dalam benak sanubarinya.


"Mau banget, tapi cookiesnya tolong di taroh di food container yang kecil aja yah. Annem baru minum obat maag, jadi belum boleh makan sampe setengan jam. Entar Annem Babam makan cookiesnya di mobil aja." Jawab Annem membenarkan beberapa helai rambut Uta, yang sedikit berhamburan di depan area pipinya.


"Iya Uta siapin bentar ya An." Uta kemudian berlalu mencari food container kecil, untuk diisi cookies hasil buatan mereka bertiga, agar mudah Annem bawa.


Apa yang Uta pikirkan tadi? Apa yang membuatnya jadi terdiam seperti itu?


Bersambung ............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2