Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
37. Felix


__ADS_3

Felix POV


Felix Dwinson, adalah nama yang orang tuaku sematkan ketika aku lahir. Sedari dulu aku biasa dipanggil F, oleh orang-orang terdekat ku. Aku merupakan anak salah satu orang paling berpengaruh di Z1. Kedua orang tuaku adalah donatur terbesar di Z1. Ayah dan ibuku merupakan pengusaha sukses dan orang berpengaruh di negeri ini.


Sedari kecil, aku sudah menjadi idola bagi orang orang di sekelilingku, karena Tuhan menganugerahi wajah dan fisik yang mampu membuat orang lain mudah jatuh hati padaku, khususnya kaum hawa.


Prestasi yang ku miliki juga tak kalah mentereng. Baik akademis maupun non akademis, aku selalu menjadi yang terbaik. Ayah dan ibuku tak ragu untuk mendatangkan tutor terbaik di negeri ini. Semua hal tentang diriku terasa sempurna kecuali satu hal. Cinta. Aku jatuh hati kepada Devina, sahabat ku sewaktu SMP. Namun perasaan itu tak pernah terbalas, walaupun aku sudah melakukan banyak cara untuk meluluhkan hatinya.


Singkat cerita, aku dan Devina kembali masuk SMA yang sama. Saat di SMA pun, aku berusaha untuk bisa menjadikannya pacarku, Namun usaha itu tetap gagal berkali-kali. Cinta dan perjuanganku tak kunjung membuat Devina luluh. Hingga saat awal kelas 11, aku terpilih mengikuti program pertukaran pelajar selama 1 tahun ke Amerika berkat nilai-nilai ku. Kupikir ini adalah jalan dari Tuhan, untuk aku bisa melupakan Devina.


Kupikir selama aku jauh di Amerika sana, Devina perlahan akan memudar dari hati dan pikiran ku. Namun ternyata itu salah, yang terjadi malah sebaliknya. Devina semakin kuat menguasai hati dan pikiranku. Waktu begitu cepat berlalu, program pertukaran pelajar selama 1 tahun telah usai kujalani dan waktunya aku kembali ke Indonesia.


Balik ke Z1 setelah setahun, aku kembali bertemu Devina. 1 tahun tak bertemu dirinya, ia semakin cantik dan mempesona. Aku tak bisa membohongi diriku, aku masih menyukainya meski sudah 1 tahun kita tak berjumpa. Tapi apalah daya, rasa tak bisa dipaksakan. Percuma jika saling memiliki tapi tak saling mencintai, itu tak lebih dari saling menyiksa batin.


Meskipun begitu kami tetap masih bersahabat. Masih nongkrong bersama dengan yang lainnya. Tak ada yang berubah sama seperti hari ini.


"Felix .. Felix .. Indonesia, Amerika, balik lagi ke Indonesia. Masih aja belum berhasil dapetin si Devina." Ujar Revan telak, saat kami nongkrong bareng akhir pekan di rumah Tommy.


"Lo juga Dev, lo gak tahu, apa pura-pura gak tahu?? F yang idola Z1 aja lo acuh, selera lo segimana? Entar dia pindah hati, baru tau rasa lo." Canda Tommy, si tuan rumah tepat kepada Devina.


"Perhatian dan kata-kata aja gak cukup, yang namanya cewek, butuh bukti!!" Ucap Devina membela diri.

__ADS_1


"Weitss .. Jadi maksud lo, kalau F berhasil naklukin sebuah tantangan, lo bakal kasih kesempatan F buat jadi pacar lo?" Tembak Revan mengartikan ucapan Devina barusan. Devina tidak menjawab apapun dan hanya menatapku dalam.


"Fix ini sih, diam artinya iya. Oke sekarang kita tinggal mikirin, tantangan apa yang cocok buat F jalanin, buat pembuktiannya ke lo." Jawab Revan mengartikan diamnya Devina.


"Gue ada ide buat F membuktikan kesungguhannya." Ujar Ken yang sedari tadi diam.


"Bahaya!! Bahaya kalo ni bocah kasih ide. Idenya dia gak ada yang aman, gak ada yang waras idenya dia. Siap siap lo F!!" Ucap Tommy mewanti-wanti, karena memang diantara kami, Ken adalah orang yang paling gila.


"Lo mesti berhasil jadian sama maskot anak baru, 2 tahun lalu!!" Ucap Ken dengan wajah piciknya.


"Elma maksud lo? Putri Z1 dua tahun lalu?" Revan berusaha menebak siapa yang Ken maksud. Elma Ragia Dirandra adalah putri tercantik Z1 yang terpilih dua tahun lalu. Di akhir ospek setiap tahun, Z1 akan mengadakan pemilihan puteri sekolah yang digelari puteri Z1. Hanya ada satu siswi tercantik yang akan terpilih sebagai puteri Z1. Di angkatan Felix, Devinalah yang terpilih sebagai Puteri Z1, sementara 2 tahun lalu, Elma yang memenangkan gelar tersebut.


"Lagian, lo maksudnya apaan sih? Ambigu tau gak? Ngomong tuh yang jelas!!" Balas Revan balik pada Ken.


"Dua tahun lalu, ada anak baru yang dijuluki maskot, seingat gue namanya Uta. Kenapa gue tahu, karena gue salah satu yang ospek siswa baru. Tuh cewek yang badannya paling gendut di angkatan itu. Tapi tantangannya bukan cuman karena dia gendut, tapi karena tuh anak tertutup banget. Tuh anak gak bergaul dengan sekitarnya. Macam punya dunia sendiri. Dia cuman interaksi sama 2 orang temannya doang." Jelas Ken panjang lebar. Diantara kami memang hanya Ken yang menjadi anggota OSIS di Z1. Otaknya sangat encer untuk urusan memproduksi ide ide briliant.


"Maksud lo, F mesti taklukin tuh cewek maskot?" Tanya Tommy memastikan, maksud ide yang Ken sampaikan.


"Ya. F mesti jadiin tuh maskot pacarnya dan gue yakin itu gak akan mudah. Seperti yang gue bilang barusan, itu anak tertutup dan gak bergaul. Bisa gak lo taklukin dia. Dan challange kedua adalah, lo mesti tahan malu pacaran sama tuh cewek gendut, minimal 1 bulan. Lewat dari sebulan, biar Devina yang nentuin kapan lo boleh putusin dia. Kalau lo putus sebelum Devina suruh putus, berarti lo dianggap gagal. Gimana ide gue??" Pamer Ken bangga dengan ide gilanya, sebagai tantangan untuk diriku.


"Ide lo jahat, tapi sumpah gue akuin, itu ide menarik. Biar makin seru, gue taruhan 40 juta kalo lo berhasil taklukin tuh maskot." Ucap Tommy sambil menyilangkan jari telunjuknya di area jidat, pertanda ide Ken barusan benar-benar gila.

__ADS_1


"Wah tambah seru nih. Oke gue taruhan 40 juta juga, sama dengan Tommy. Lo Dev?" Ucap Ken tak kalah gila.


"Lo berdua kayaknya set*n deh. Gila lo yah!! Segila gilanya gue, paling enggak, gue gak mainin perasaan orang. Lo pikir barang, bisa lo jadiin taruhan segala??" Ujar Revan yang masih waras disini.


"Play station keluaran terbaru." Ucap Devina dengan gaya elegannya, mengacuhkan pendapat Revan.


"Nih lagi nambah nambahin. Dev, lo jangan ikutan gila kayak dua ibl*s ini deh!!" Ucap Revan mencoba menghalau ucapan Devina.


"Oke deal, gue ambil tantangan nya. Tapi kalo gue berhasil, sesuai perjanjian tadi, Devina mesti kasih gue kesempatan buat jadi pacarnya." Aku berdiri dari sofa yang sedari tadi kududuki. Berjalan menghampiri wanita yang kutaksir sejak SMP itu.


"Deal." Ucap Devina yang juga berdiri, sehingga kami saling berhadapan. Ia menjulurkan tangan yang kemudian kusambut dan kami berdua saling berjabat tangan, tanda 'deal'. Kutatap mata indahnya, aku yakin tak ada kebohongan di mata indah itu. Aku semakin yakin melakukan tantangan ini, karena ini tiket satu satunya agar aku bisa menjadi kekasih Devina, wanita yang mengisi hatiku sekian lama.


"Oh My God!!! Fix, gue rasa nih rumah tempat ngumpulnya para dajj*l." Ucap Revan geleng geleng kepala, menatap kami bergantian.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2