![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta yang juga kaget dengan perkataan Alber, bukan balik menatap mesra Alber, melainkan melotot menatap mantan teman sebangkunya itu. Biji matanya hampir saja keluar dari tempatnya, karena Alber menyatakan ia adalah kekasih pria berwajah bule itu.
Tapi Alber tetaplah Alber. Bukannya mundur, ia bahkan mendekatkan wajahnya ke wajah Uta. Uta yang ingin mundur terhalang oleh, lengan kekar Alber yang melingkar manis di pinggangnya. Alber yang niatnya ingin membisikan sesuatu di telinga Uta, terhalang oleh seseorang.
"Mbak, mbak pacarnya mas bule kan. Mbak, saya lagi hamil mbak. Ngidam pengen cium pacarnya mbak. Boleh ya mbak. Saya ndak ada maksud gimana-gimana sama mas ganteng. Cuman ini ngidamnya gak ketolongan mbak. Takut anaknya ileran kalo ngidamnya ndak kesampaian. Janji deh, cuman cium pipi kiri mbak." Ucap bumil itu membujuk Uta, yang ia kira beneran pacar dari Alber. Ibu itu bahkan sampai memegang telapak tangan Uta, agar Uta luluh dan mengizinkan.
"Ibu kenapa cuman kiri? Kiri kanan dong. Masa sebelah aja. Sok kalo Ibu mau cium, boleh. Saya gak akan ngambek kok." Ucap Uta dengan santainya, ia akhirnya memilih mengikuti alur cerita yang Alber buat. Uta yang mendalami peran sebagai pacar Alber, lantas memberikan izin kepada bumil tersebut untuk mencium Alber.
Alber? Jangan ditanya! Kini gantian biji matanya lah yang hampir keluar, sanking kagetnya ia mendengar ucapan Uta, yang justru membolehkan bumil cetar itu mencium dirinya. Bahkan Uta berinisiatif menambahi lebih bagian yang akan dicium.
"Ta???" Protes Alber, dieratkannya rangkulan tangan di pinggang Uta sebagai bentuk kode menolak.
"Bener mbak? Saya izin cium ya mbak." Ucap bumil cetar antusias. Tanpa menghiraukan kode dari Alber, Uta langsung mengangguk pada bumil, sebagai tanda mempersilahkan beliau.
__ADS_1
"Mas bule, Ya Allah Gustiiiii. Mas bule kok ya ganteng banget. Dek kamu nanti lahir, semoga kayak mas bule ya gantengnya." Ucap bumil itu, masih sempat-sempatnya mengelus perutnya sambil menatap Alber.
"Amin ..." Jawab Uta mengaminkan tanpa merasa berdosa.
"Mas bule ... sini mas bule ..." Ucap si ibu sembari berjalan mendekati Alber. Alber yang sedari tadi merengkuh pinggang Uta, perlahan mundur untuk menghindari bumil gonjreng yang berjalan mendekatinya. Namun terlambat, dengan kekuatan emak-emak, Alber pun tertangkap si Ibu.
"Bu ... Bu tunggu ... tung ..." Ucap Alber berusaha untuk menolak Ibu dengan mencoba bernegosiasi ulang. Namun sang Bumil gonjreng sudah tak lagi mendengar apapun perkataan Alber.
Muachhhhhhh .... Muachhhhhhh ....
"He ... he .... he ..." Uta yang melihat adegan itu, tak bisa nyembunyikan tawanya. Ia terkekeh pelan karena tak enak jika tertawa ngakak terang-terangan. Namun berbeda dengan si bocil di sampingnya.
"Wkwkwkwkwkwkw ..." Putri yang masih memegang tangan Uta, tertawa ngakak melihat Yabernya yang pengen kabur tapi gagal, dan akhirnya dicium juga oleh si Ibu gonjreng. Tawanya bahkan jadi semakin keras, ketika melihat bekas lipstik yang tercetak jelas di pipi Yabernya. Menurut Putri, itu sangat lucu.
"Ya Allah Gusti ... Kesampean aku cium mas bule. Guaannnnteeeenggg banget Gusti. Makasi ya mbak udah boleh cium mas ganteng." Bukannya berterima kasih ke Alber, si Ibu yang senang ngidamnya keturutan, malah mendatangi Uta kembali. Beliau menggenggam tangan Uta, sebagai rasa terima kasih sudah mengizinkannya mencium sang pacar.
__ADS_1
"Iya sama-sama Bu, semoga entar lahirannya lancar ya Bu." Jawab Uta masih tetap tersenyum pada bumil.
"Iya makasih Mbak. Saya permisi ya mbak. Ayo Dayat kita pulang! Mama udah capek keliling ini." Ucap si Ibu mengajak anak laki-lakinya pulang, seusai berterima kasih pada Uta. Uta hanya mengangguk sembari dadah-dadah tangan, ke arah si Ibu pergi.
"Seneng ya numbalin aku ...!" Ucap Alber dengan intonasi rendah dan jauh dari suara ceria. Ia juga menyilangkan tangan di depan dada sembari menatap lurus Uta.
Uta yang mendengar hal itu, lantas menoleh ke arah suara. Dilihatnya Alber memasang wajah serius dan sedang tak bercanda. Alber yang menatapnya lurus, tak menunjukkan sorot mata main-main layaknya tadi. Hal itu membuat seketika Uta berpikir sesuatu.
Oh no ... Oh no ... Oh no no no no no...!!! *Uta
Bersambung ..............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
__ADS_1
ZEROIND