![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
“WHATTTT …??!!! Jadi lo udah kenal sama tuh cowok ganteng?” Cecar Reta tak percaya. Matanya bahkan hampir lompat keluar.
“Ya enggak dong. Gue gak sengaja ketemu dia di gedung serbaguna tadi, dan lagian mana gue tau dia anak baru disini. Tadi waktu gue ketemu, dia gak pake seragam, cuma pake baju casual doang.” Mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar Reta tak berfikir yang aneh aneh.
“GILA… GILA… GILA..!!! Jadi dasi yang lo pakai sekarang, punya si anak ganteng rupawan itu? Wah kalo sampe yang lain denger, bisa geger satu sekolah. Lo bisa jadi artis viral dadakan di sekolah Ta.” Ucap Reta, sambil terus bertepuk tangan tanda takjub. Uta hanya geleng geleng melihat reaksi Reta.
"Ini Cinderella dan pangeran versi dunia nyata." Ucap Reta dengan segala kehaluannya. Entah apa yang dimakan anak ini. Pikirannya terlalu absurd.
“Apaan sih lo, halu gak naker naker banget. Intinya please banget lo diem- diem aja ya, jangan sampe ada yang tau. Gue aja puyeng banget ini, lagian Bu Meta maen suruh duduk sebangku sama gue, gak pake ba bi bu dulu, makin puyeng ini kepala.” Gerutu Uta yang disambut gelak tawa Reta.
“Ya iyalah Bu Meta langsung suruh sebangku sama lo, karena kan cuma sisa satu bangku yang kosong, yang lain udah pada keiisi. Gimana sih lo Ta.” Puas sekali Reta menertawakan kegalauan sahabatnya itu.
“Ah tau ah… Pusing gue.” Mendadak Uta pasrah tak berdaya.
“Hahaha santai aja sis, jangan terlalu dipikirin.” Ucap Reta melihat ekspresi lawan bicaranya itu. Namun begitu, ia tetap mencoba menenangkan kawannya itu.
Bel tanda masuk kelas membuat semua siswa menuju kelas masing-masing. Uta dan Reta memasuki kelas. Uta berjalan ketempat duduknya, ia melihat Alber sudah berada dibangkunya. Uta merasa canggung dengan teman sebangkunya ini. Bingung mau ngomong apa dengannya. Akhirnya Uta hanya menyapa dengan anggukan kecil. Mereka kemudian hanya fokus memperhatikan pelajaran, tanpa ada obrolan sampai dengan jam pulang.
“Ta ke gerbang bareng yok.” Ajak Reta dari bangku depan, sesaat setelah guru jam terakhir keluar ruangan.
“Yok.” Jawab Uta pada si pengajak.
"Ehm ... Alber gue deluan ya." Ucap Uta super canggung. Disatu sisi dia takut dikira SKSD, tapi di sisi lain ia juga tak enak, jika main pulang saja tanpa menegur.
"Ya ... Hati hati." Balas Alber singkat padat dan jelas. Meskipun singkat, tapi setidaknya Uta lega ucapannya direspon. Uta berjalan meninggalkan Alber yang masih memasukkan buku ke tasnya.
“Lo dijemput Ibu Ratu?” Tanya Reta yang sudah sejajar dengan langkah Uta.
__ADS_1
“Enggak Re, aku naik ojol aja, motor Mamah kan rusak.” Ujarnya menjawab pertanyaan Reta.
“Oh iya ya, tadi kan lo udah cerita. Ehm ... Lo gak mau ikut gue aja?” Ajak Reta sedikit cengengesan, karena sadar sudah lupa cerita Uta tadi di kantin.
“Gak usah Re, gue udah pesen ojol, naik ojol aja sekalian mau mampir ke pusda (perpustakaan daerah).” Tolak Uta baik baik ke Reta. Dirinya juga tak suka merepotkan kawannya itu.
“Yaudah kalau gitu, gue duluan ya. Lo hati hati ya my friend.” Uta menjawabnya dengan anggukan. Mereka berpisah di depan gerbang sekolah. Reta masuk kedalam sebuah sedan mewah bewarna hitam, yang memang Papanya sediakan beserta supir yang khusus antar jemput Reta. Reta melambaikan tangan ke Uta, seiring mobil berjalan meninggalkan area sekolah.
Tak lama setelah Reta pergi bang ojol datang, kami menempuh perjalanan sampai di pusda dengan selamat. Setibanya disana Uta naik ke lantai 2 untuk mengembalikan buku.
Hari ini gak usah minjem buku dulu deh.*Uta
Selesai urusan perbukuan dari pusda, Uta memutuskan berjalan menuju ke mini swalayan yang berjarak 3 bangunan dari pusda, karena ingin ice cream. Teriknya matahari siang ini, memang paling benar disejukkan dengan dinginnya ice cream.
Mini swalayan itu tampak sepi tak ada pembeli, Uta pergi ke area Ice cream dan memilih rasa tiramisu, lalu membawanya ke kasir. Selesai membayar dirinya memilih jalan ketaman di belakang dekat swalayan.
Tiba disana ia melihat anak perempuan sekitar umur 4 atau 5 tahun memakai kaos mini mouse lengkap dengan celana kodok, senada dengan kaosnya. Anehnya gadis kecil duduk sendirian di ujung bangku taman yang memanjang. Uta sempat melihat sekitar, tapi tak ada satupun orang dewasa selain dirinya. Ia berpikir mungkin orang tuanya pergi sebentar atau anak ini memang tinggal di sekitar sini.
“Adek kenapa nangis? Mana yang sakit? Ada yang luka?” Tanya Uta lembut khawatir.
“Ga da dulu ya.” Kata anak kecil itu, dengan suara polos imutnya.
“Gak ada apanya?” Tanya Uta lagi, karena masih bingung dengan jawaban anak itu.
“Ga da yang sakit.” Kata anak itu lagi pada Uta. Jawaban gadis kecil itu membuat Uta sedikit lega. Minimal ia menangis bukan karena merasakan sakit.
“Terus kenapa adek nangis?” Tanya Uta lagi.
“Soalnya mawu es kim.” Ucap anak itu, sambil menatap Ice cream yang Uta pegang di tangan kirinya.
__ADS_1
“Tapi udah digigit dikit, kita beli yang baru aja ya.” Jawab Uta menunjukkan ice cream, yang memang sudah ia gigit di salah satu ujungnya.
“Tapi Putli mau.” Katanya dengan muka gemasnya yang sangat menginginkan ice cream itu.
“Oke deh, tapi jangan nangis lagi ya.” Gadis kecil itu langsung mengangguk. Uta lantas memberikan ice cream yang dipegangnya. Fokus gadis kecil itu teralihkan ke Ice cream, sementara Uta fokus memperhatikan bocah manis itu.
Bocah kecil itu sepertinya berdarah campuran alias bukan darah Indonesia tulen. Perawakannya seperti anak-anak bule ke Arab Araban. Kulitnya putih cerah, sangat kontras dengan rambut hitam tebalnya. Mata bewarna coklat terang terbingkai dengan indah, lengkap dengan bulu mata super lentik. Dambaan semua kaum hawa. Hidung yang sudah terlihat mancung meski masih anak-anak. Bibir merona dengan bentuk yang sangat cantik. Belum lagi pipi chubby geyal geyol yang menggemaskan.
“Adek namanya siapa?” Tanya Uta penasaran.
“Nama aku Putli auntie (tante dalam bahasa inggris), tapi bunda suka panggil aku Puput. Auntie siapa namanya sapa?” Jawab Putri dengan suara imutnya. Meskipun artikulasinya belum sempurna, tapi tetap saja terdengar menggemaskan.
“Ehm ... Putri jangan panggil auntie dong." Tawar Uta, seolah belum siap dipanggil tante. Setidaknya coba tawar dulu pikirnya.
"Telus Putli panggil auntie apa?" Tanyanya polos, sambil tetap memakan ice cream.
"Ehm ... Apa ya?? Oh ya ... panggil Tuta aja gimana?" Tawar Uta lagi membuat bocil di depannya bingung.
"Nama auntie kan, auntie Uta. Jadi Putri panggil aja Tuta. Tuta itu, Tante Uta atau auntie Uta, okey?” Kata Uta lengkap dengan senyum manis.
“Tuta okey.” Jawab bocah itu langsung setuju. Membuat Uta terkekeh.
“Tos dulu dong.” Ajak Uta sambil menggangkat telapak tangannya, yang langsung disambut dengan tangan mungil itu.
Bersambung ........
..._____________ Z _____________...
❤
__ADS_1
ZEROIND