Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
97. Kenang Untuk Selamanya


__ADS_3

Author POV


"Ka .. Kak Felix." Tutur Uta terbata-bata. Ia benar-benar terkejut, saat Felix tiba-tiba menarik tangannya dan memeluknya erat sekarang.


"Please izinin aku peluk kamu sebentar aja." Ucap Felix lembut penuh harap.


"Tapi Kak .." Protes Uta mencoba sedikit memberontak, agar pelukan itu terlepas.


"Hanya sebentar Ta. Please .." Mohon Felix lagi. Laki-laki itu bahkan mempererat dekapannya, tak membiarkan Uta terlepas sedikitpun.


"Kamu mesti tau, betapa menyesalnya aku kehilangan gadis baik seperti kamu." Ucap Felix dengan intonasi suara sedikit berbeda. Terlebih Uta merasakan bahu bidang itu sedikit berguncang. Ya, seorang Felix Dwinson saat ini menangis tanpa suara di pelukan Uta.


Ia yang selama ini tampak tangguh, tak mampu lagi menahan gejolak perasaannya. Terlebih rasa rindu yang teramat sangat ia pendam, semenjak terakhir kali mereka bertemu. Pesan terakhir yang Uta kirimkan pada padanya, membuatnya tak kuasa lagi nekat mendekati Uta.


Gadis itu sudah meminta untuk tak lagi bertemu dengannya, setelah tragedi itu. Rasa bersalah membuat Felix, menerima permintaan itu, meski dengat berat hati. Semenjak itu Felix bagaikan pengagum rahasia Uta, yang hanya bisa mengamatinya dari jauh.


"Aku menyesal sekaligus bersyukur ngejalanin taruhan itu. Bersyukur, karena taruhan itu aku jadi mendekati kamu dan akhirnya bisa mengenal kamu. Tapi aku juga menyesal, karena taruhan itu aku menyakiti kamu teramat dalam." Ucap Felix penuh kejujuran. Dilema memang, taruhan itu membuat Felix yang tak pernah tau gadis bernama Uta, jadi mau tak mau mendekatinya. Tapi semakin ia kenal, semakin ia jatuh hati tanpa bisa ia cegah.


"Tapi kamu mesti tau, aku ngerasa bahagia sama kamu. Selalu kangen kalo kamu jauh. Gak suka kalo kamu sedih." Ucap Felix mengeratkan pelukannya. Tak pernah terduga olehnya, wanita yang membuatnya nyaman ternyata bukan Devina yang selama ini ia perjuangkan, melainkan Uta. Gadis sederhana yang penuh kejutan.


"Di akhir hubungan kita, kamu mungkin gak akan tau, seberapa khawatirnya aku kalau kamu tau tentang taruhan kami. Tapi jujur saat itu, sebenarnya aku sudah bertekad untuk membatalkan taruhan itu dan memilih kamu. Aku sudah tak sama sekali ingin bersama Devina. Gak peduli aku akan kehilangan sahabat-sahabatku dan dibully mereka seumur hidup, karena menurutku seberharga itulah kamu. Tapi sayangnya, kamu deluan tau kebenarannya." Ucap Felix mengaku jujur, menjelaskan keadaan kala itu pada Uta.


Saat itu Felix bahkan sudah melewati batas waktu berpacaran dengan Uta, karena memang ia tak pernah punya niat melepas Uta dari hidupnya. Andai saja ia yang lebih dulu menyampaikan niatnya itu pada sahabatnya, mungkin saat ini Utalah yang menemaninya wisuda. Uta yang masih dalam pelukan Felix, hanya diam mendengarkan.

__ADS_1


"Tuhan memang adil, perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik. Dan aku memang tak sebaik itu, gak pantes buat wanita sebaik kamu." Ucap Felix dengan seutas senyum mengejek, yang ia peruntukkan bagi dirinya sendiri. Dirinya berkali-kali merutuki diri sendiri manusia bodoh, sebab kehilangan wanita baik ini, karena hal tolol yang ia dan teman temannya perbuat.


"Dan Tuhan kembali selalu adil. Aku menerima taruhan itu dengan tujuan bisa berpacaran dengan Devina. Tapi sampai saat ini, tak ada rasa yang tersisa untuknya. Semua perasaanku kamu bawa pergi tanpa terkecuali. Dan itu karma yang setimpal untukku." Ucap Felix mengatakan tentang hatinya.


Uta yang mendengar itu jujur kaget, sebab ia pikir Felix dan Devina sudah berpacaran. Ya, Felix seolah mati rasa terhadap Devina atau siapapun. Tak ada debaran yang timbul saat dekat dengan Devina, berbanding terbalik saat ini. Uta tak tahu, jantung Felix serasa hidup kembali saat memeluknya.


"Kamu terlalu tulus untuk aku yang membohongimu. Dan aku menyesal kehilangan kamu dari hidupku. Aku seperti orang bodoh, hari demi hari berharap waktu bisa di ulang, meskipun tahu itu mustahil." Ucap Felix diiringi kekehan tipis. Menertawakan diri sendiri beberapa waktu terakhir. Jujur Uta merasa sedih, Felix berubah seperti sekarang. Uta tak pernah sekalipun berpikir, Felix jadi seperti ini.


"Satu yang pengen aku bilang ke gadis baik, yang sedang aku peluk ini." Ucap Felix membelai lembut, pucuk kepala Uta yang masih dalam dekapannya.


"Jangan pernah minder dengan dirimu. Kamu terlalu worth it dari yang kamu kira. Siapapun laki-laki yang bersamamu kelak, adalah laki-laki yang beruntung, karena dia mendapatkan gadis tulus yang baik hati ini. Gadis sederhana yang gak pernah neko-neko. Gak banyak menuntut dan selalu support dalam keadaan apapun. Selalu positif thingking, menyenangkan dan terlalu gemas, jadi bikin kangen kalo jauh." Ucap Felix lembut pada Uta.


Mendengar itu, Uta yang sedari tadi hanya diam di pelukan Felix, mendadak menitikkan air mata. Perasaannya terasa seperti diaduk-aduk oleh Felix. Biar bagaimana pun, Felix sempat jadi orang tempatnya berbagi cerita. Felix tahu betul rasa minder dalam diri Uta. Entah sandiwara atau tidak, laki-laki itu pernah selalu mensupportnya untuk jadi Uta yang percaya diri.


"Ingat baik-baik kata-kata aku, kamu terlalu worth it lebih dari yang kamu pikir." Tegas Felix sekali lagi.


Kamu pantas untuk bahagia Ta. Sangat.*Felix.


"Kak Felix juga, terima kasih sempat hadir di hidupku. Setiap manusia gak ada yang sempurna, jadi ke khilafan yang dulu, jangan lagi di pikirkan. Terlepas apapun itu, di mataku Kak Felix tetaplah orang baik. Sampai kapanpun akan tetap baik. Terima kasih sekali lagi Kak. Sampai jumpa lagi dilain waktu. Aku balik sekarang ya Kak, takut Reta nyariin. Sekali lagi, selamat atas kelulusannya. Deluan ya Kak." Ucap Uta sembari menahan tangis. Ia memang tak lagi merasakan debaran hati untuk Felix, tapi jujur dari hatinya, ia mengakui Felix adalah orang yang baik.


Uta bergerak mundur untuk melepaskan diri dari dekapan Felix. Ia memilih langsung pergi, karena tak ingin Felix melihat air matanya. Ia tak ingin Felix salah sangka, mengira dirinya masih mencintai laki-laki itu.


Cinta itu mulai mati perlahan, saat tau kenyataan yang sebenarnya terjadi. Saat ini, Uta benar-benar menganggap Felix hanya bagian dari masa lalu. Tak ada niat melanjutkan lembaran lama itu.

__ADS_1


Felix yang terpaksa mengakhiri pelukan itu, hanya diam membeku di tempatnya. Tercenung melihat Uta yang pergi menjauh. Mungkin ini pelukan terakhir dengan Uta, yang bisa ia kenang untuk selamanya.


Terlepas dari pada itu, tanpa Uta dan Felix sadari, seseorang melihat dan menangkap pembicaraan mereka sedari tadi.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.


Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2