Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
145. Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Author POV


Dua minggu sudah berlalu dari hari wisuda. Uta berusaha menikmati masa-masa liburnya, menunggu transisi dari siswa SMA menjadi anak kuliahan. Ia masih mencari-cari info beberapa universitas dan fakultas apa yang ingin ia coba daftar. Ada banyak pilihan universitas, tapi Uta mencoba mencari universitas yang menawarkan kuota beasiswa.


Disela-sela kekosongan ini, Uta memilih memakai tenaganya untuk membantu usaha catering Mamah Celine. Usaha rumahan ini pelan tapi pasti, semakin berkembang. Ia juga memilih menyibukkan diri, agar pikirannya tak selalu tertuju pada seseorang. Dan beraktifitas ternyata cukup membantu mengalihkan pikirannya.


"Ta, Mamah ke dalam bentar yah. Lupa tadi ngecas HP, belum dicabut sampe ini. Alamat baterai gembung ini mah." Pamit Mamah Celine masuk kedalam. Beliau sedari tadi memang sibuk menghitung nota belanjaan, sementara Uta dan dua pegawai beliau sedang menyelesaikan packing seratus porsi nasi kotak. Jadilah beliau harus mandiri ke dalam, tanpa bisa menyuruh orang.


"Iya Mah." Jawab Uta, yang tangannya tetap sibuk membungkus nasi yang sudah ditakar memakai kertas nasi. Uta bersama-sama mbak Ana dan Bu Nani, bahu-membahu mengisi kotak makanan, pesanan salah satu event acara tahunan sebuah pabrik swasta.


Mamah Celine masuk kedalam. Beliau yang merasa haus, menyempatkan untuk minum barang 2-3 teguk air dingin, sebelum menginjakkan kaki ke kamar pribadinya. Saat masuk pun, langkah beliau langsung tertuju ke arah meja rias, tempat handphone beliau anteng terisi daya.


Tampak sebuah panggilan tak terjawab, dari sebuah nomor yang tak dikenal. Mamah Celine berpikir, mungkin ini customer usahanya. Meski beliau punya handphone dan kontak khusus untuk usaha cateringnya, tapi sesekali ada saja orang yang memesan catering ke nomor pribadinya. Hal itu dikarenakan, mereka mendapat kontak tersebut dari tetangga atau teman-temannya arisannya dulu.


Tanpa ragu, Mamah Celine memilih untuk menelpon balik nomor tersebut. Beliau tak mau orang jadi kecewa, terlebih apabila betul itu telepon calon pembeli. Namun tampaknya beliau kurang cepat. Nomor tak dikenal tersebut, terlebih dahulu melakukan panggilan sekali lagi. Tanpa menunggu, beliau memencet tombol dial.


"Halo, apa ini dengan Celine?" Tanya si penelpon, sesaat telepon berhasil terhubung.

__ADS_1


"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa ya?" Jawab Mamah Celine membenarkan. Ia sedikit menerka-nerka, siapa kira-kira si penelpon berdasarkan dari suara.


"Celine, ini aku Lin. Fatma. Istrinya Hendra, teman suamimu." Ucap orang diujung telepon. Mamah Celine sempat terdiam sejenak, menelah satu demi satu kata. Mencoba mencocokkan memori ingatan dangan perkataan si penelpon.


"Fatma?? Apa kabar? Lama ya kita gak ketemu. Kamu sehat? Kamu ganti nomor Fat?" Ucap Mamah Celine ketika berhasil mengingat orang yang ia kenal.


"Alhamdulillah aku sehat. Tapi Lin, sekarang bukan waktunya kita ngobrol begini. Ituh... ituh... suamimu ngerencanain sesuatu Lin. Dia mau ngejual anak perempuanmu ke tuan tanah disini." Ucap Fatma dengan suara pelan namun sedikit bergetar, seolah beliau bicara dalam tekanan.


DEG ....


Jantung Mamah Celine serasa terjun bebas mendengar perkataan Fatma temannya barusan.


"Anakmu si Uta. Aku gak sengaja denger waktu Roy ngomong sama suamiku, dia mau ngejual Uta ke tuan tanah buat dapet uang." Ucap Fatma menjabarkan situasi yang tak sengaja ia dengar.


DEG ....


Bersambung .............

__ADS_1


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2