Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
61. Tujuh Keajaiban Dunia


__ADS_3

Author POV


Esok harinya seperti yang sudah diberitakan di group chat kelas, mereka menjalani ulangan matematika. Hasil ulangan pun dibagikan ke masing-masing orang, segera setelah dikoreksi bersama dengan sistem tukar acak.


Seperti sudah tak asing lagi, Alber dan Reta mendapat nilai sempurna, baru kemudian diikuti oleh teman-teman lain, yang nilainya beda tipis di bawah mereka berdua.


Satu hal yang membuat Uta terkejut. Dilembar jawabannya tertera angka 80. Ya, ia mendapat nilai 80. Untuk pertama kalinya ia tak remedi matematika. Luar biasa spektakuler. Ini mungkin bisa dikategorikan, satu dari tujuh keajaiban dunia.


"Ber cubit aku Ber." Uta menoleh dan menyodorkan tangannya untuk dicubit, kepada teman sebangkunya tersebut.


"Kenapa?" Tak langsung mencubit tangan Uta, dirinya pertama tama menanyakan alasan terlebih dahulu.


"Kayaknya aku lagi mimpi deh." Ucap Uta polos dengan muka blank nya. Benar-benar tak habis pikir dengan hasil ulangannya. Alih-alih mencubit tangan Uta, Alber malah mencubit pipi chubby Uta.


"Alber iseng banget ih!! Cubitnya tuh mestinya di tangan aku, bukan di pipi aku!!" Protes Uta menarik tangan Alber, agar berhenti mencubit pipi gendutnya. Yang di protes malah terkekeh puas karena berhasil menjahili dirinya.


Tapi secara jujur Uta mengakui bahwa dirinya bisa tak remedi matematika, karena andil besar Alber. Laki-laki itu bukan hanya mengajari Uta dengan cara yang paling mudah dimengerti, tapi juga sangat sabar dalam membimbing dirinya.


Alber hanya suka menjahilinya, tapi untuk urusan marah, sekalipun Alber tidak pernah. Meskipun ia berulang kali salah mengerjakan soal, Alber akan sabar menjelaskan ulang padanya. Benar benar mentor terbaik.


Hari demi hari di sekolah berjalan begitu cepat. Tugas dan PR seakan sudah bagai ritme kehidupan, berputar putar setiap harinya. Tak terasa Sabtu sudah tiba. Uta seperti biasa, dirinya menjaga Putri setiap hari weekend tiba. Dirinya saat ini sedang menemani bocah kecil itu menonton TV. Annem juga duduk di kursi pijat dan ikut menonton bersama mereka.

__ADS_1


Syiba ada kelas Sabtu pagi. Namun tak tampak Alber di sana, sebab Alber sedang diutus Babam ke perusahaan. Tersisa mereka bertiga saja yang menonton sebuah series anak-anak kesukaan Putri tentang buku ajaib. Saking sukanya dengan series tersebut, anak itu bahkan sudah membawa buku gambar miliknya, lengkap dengan pensil dan krayon setnya.


Series tersebut lebih tepatnya bercerita tentang, sebuah buku gambar kosong ajaib yang ditemukan dalam sebuah peti misterius, di dalam gudang rumah kakek nenek tokoh anak di serial tersebut. Buku yang awalnya dikira hanya buku biasa, ternyata buku ajaib, karena apapun yang di gambar dalam buku tersebut, akan menjadi kenyataan.


Putri senang banget menonton itu, ia bahkan bagai terhipnotis dan percaya hal itu nyata adanya. Uta dan Annem yang melihat reaksi anak kecil itu, hanya tertawa geli, karena ekspresi Putri terlalu gemas bagi mereka.


"Tuta kenapa gambal Putli gak bisa kayak gitu?" Tanya Putri menunjukkan buku gambar yang sudah ia corat-coret ke Uta. Uta bingung melihat hasil coret-coretan Putri yang bentuknya sulit di deskripsikan.


"Maksudnya sayang?" Tanya Uta pada akhirnya.


"Putli udah gambal cookies, tapi kenapa gambal cookies Putli gak bisa jadi cookies benelan? Kan Putli pengen makan cookies nya." Ucapnya menjelaskan kepada Uta.


Oh rupanya gambar ini cookies toh. Seni tingkat tinggi emang beda. He .. he .. he ..*Uta


"Memangnya iya Tuta?" Tanya Putri penuh harap. Meskipun agak tak enak hati tapi Uta memilih untuk jujur dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Melihat Putri kecewa karena sedih gambarnya ternyata tak bisa berubah menjadi kenyataan, membuat Uta mencari inisiatif untuk sedikit menghibur bocah kecil itu.


"Hemh ... Gimana kalau cookiesnya kita bikin aja?" Ucap Uta menyarankan sebuah ide dengan tujuan mengurangi sedih yang Putri rasakan. Tadi kan Putri bilang, ingin sekali makan cookies.


"Tuta, maksudnya gimana Tuta?" Ekspresinya langsung berubah, matanya berbinar-binar saat bertanya.


"Maksud Tuta itu, kan gambar jadi kenyataan itu kan cuman bisa di TV. Putri, Hala ataupun Tuta gak bisa bikin cookies dari gambar kayak di TV itu. Tapi kan Putri tadi bilang, pengen banget makan cookies. Gimana kalau kita bikin aja cookiesnya sendiri. Mau?" Ucap Uta memberi penjelasan pelan-pelan, agar dimengerti bocah usia 4,5 tahun itu.

__ADS_1


"Mau. Putli mau Tuta." Sedihnya sudah berubah menjadi senyum. Bocah kecil itu bahkan melompat-lompat sangking girangnya.


"Kalau gitu, Putri izin dulu ke Hala. Boleh gak pinjam dapur Hala buat bikin cookies nya." Uta mengajarkan Putri untuk terlebih dahulu meminta izin kepada Annem, sang pemilik dapur dan lain-lain yang akan mereka gunakan nanti.


"Hala boleh gak Hala?" Ucap anak itu langsung kepada bagian akhir pertanyaan. Benar benar meng-cut segalanya, dan hanya tinggal menyebut bagian akhir kalimat.


"Ha .. ha .. ha .. Bisa aja bocah kecil ini, gak mau ngomong panjang lebar, langsung di cut ke bagian 'boleh gak Hala?' Ha .. ha .. ha .." Annem menangkap tepat, hal lucu yang Putri lakukan. Anak itu langsung cengar cengir mendengar perkataan Halanya.


"Hala tapi boleh?" Tanya nya ulang lagi penuh harap.


"Ya boleh dong sayang, yang penting kesayangan Hala senang. Nanti bahan-bahannya minta sama Bi Darmi, terus Putri mesti janji sama Hala, kalau nanti bikin cookies nya hati-hati. Okey?" Jawab Annem mencium ponakannya itu.


"Hala okey Hala. Tuta lets go ..." Ujarnya riang gembira.


Bersambung ............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2