![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Hari Sabtu ini adalah hari yang membuat perasaan Uta tak menentu. Bukan karena ia harus pergi bekerja, melainkan ia harus menghadiri acara wisuda kelas 3. Annem meliburkannya sebab kelas 1 dan 2, wajib menghadiri acara hari ini, bahkan akan ada absen datang dan pulang. Acara resmi ini akan dihadiri kepala sekolah dan jajarannya, beserta seluruh guru Z1. Acara ini juga akan dihadiri seluruh wali murid kelas 3.
Acara rutin tahunan ini, dilaksanankan di gedung serbaguna ZERO-01. Gedung yang masih satu kepemilikan, dengan gedung SMA ZERO-01. Gedung ini sangat luas dan terdiri dari dua tingkat, memiliki rooftop yang bisa digunakan juga untuk acara bernuansa outdoor atau ruang terbuka.
Lantai dua biasanya digunakan untuk tempat persiapan pengisi acara, ataupun penyimpanan properti yang diperlukan untuk mendukung lancarnya pertunjukan sementara acara inti berlangsung di lantai satu.
Kelas 1 dan 2 memakai seragam batik sekolah. Sementara angkatan yang akan segera menyandang status alumni Z1, memakai pakaian formal. Setelan jas untuk laki-laki dan setelan kebaya untuk perempuan. Selama prosesi wisuda, mereka akan memakai baju toga sebagai luaran.
Uta datang bersama Reta. Reta sangat amat peka keadaan hati sahabatnya itu. Uta pasti merasakan sedikit galau, sebab ini acara wisuda yang Felix juga termasuk diantara yang lulus. Ia pasti merasa kurang nyaman, jika sampai berpapasan dengan Felix.
Andai bisa tak hadir, sudah pastilah Uta memilih tak hadir. Tapi berhubung seluruh kelas 1 dan 2 diwajibkan hadir, mau tak mau Uta hadir. Sehingga Reta berinisiatif menjemput Uta, agar sampai di sana bersamaan.
Setidaknya Reta sendiri juga merasa terhibur, sebab Edgar datang ke acara itu dengan wanita gebetannya. Keberadaan Uta membuatnya tak sendirian. Dengan kata lain, mereka saling membantu.
Dan benar saja, saat tiba di tempat acara, tampak Edgar dan Elma berjalan beriringan. Senyum cerah di wajah tampan Edgar, jelas terukir sembari menatap Elma. Siapapun tau ia sedang jatuh cinta. Tatapan Reta bertemu sesaat, dengan mata elang Edgar.
Mati-matian Reta berusaha menegarkan diri, agar Edgar tak melihat sisi hati yang teriris itu. Uta refleks menepuk pelan pundak Reta. Tatapan sendu yang coba Reta sembunyikan memang berhasil untuk mengelabui Edgar, namun tampaknya tidak dengan Uta.
"Santai aja Ta, lagian bukan hal baru juga." Ucap Reta mencoba menghibur dirinya sendiri. Tapi mata tak bisa berbohong, dan Uta dapat melihat jelas luka di mata indah Reta. Ia merasa serba salah, sebab dirinya berada di tengah-tengah dua sahabatnya ini. Uta juga tak bisa menyalahkan Edgar, karena memang mereka tak terikat hubungaan apapun. Jadi baik Reta maupun Edgar, bebas dekat dengan siapapun.
Edgar banyak tersenyum pada Elma, bahkan senantiasa menjaga pujaan hatinya itu aman. Melihat itu, telak membuat hati Reta rasa tersayat. Tapi gadis itu berusaha tetap tegar, sebab ia sadar betul bahwa cinta tak bisa di paksakan. Tak ada yang bisa mengatur hati berlabuh dimana, membuat ia memahami Edgar juga tak bersalah disini. Edgar tentu bebas memilih dan memperjuangkan perasaannya, pada gadis yang ia cintai.
__ADS_1
"Kapan datang? Aku cariin kamu dari tadi." Ujar Alber menepuk bahu Uta. Uta sempat terpana sesaat, entah kenapa Alber terlihat sangat tampan memakai batik hari ini. Padahal kalau dipikir-pikir, semua siswa kelas 1 dan 2 memakai seragam batik yang sama.
Memang magic ini orang, tetap bersinar diantara yang lain. Uta mengalihkan fokusnya dari Alber ke sekitar, dan alhasil anak-anak sekitar situ juga seperti terhipnotis oleh Alber. Tak sedikit orang berbisik-bisik sambil melihat Alber. Tapi seperti biasa, orang yang menjadi fokus perhatian orang, malah cuek-cuek saja.
"Ta, aku ke toilet bentar ya." Ucap Reta memberi tahu sahabatnya, tempat tujuan yang akan ia tuju sekarang. Uta mengangguk dan menepuk pundak Reta sesaat. Reta kemudian berjalan meninggalkan Uta dan Alber, menuju toilet.
Uta kemudian berbalik menatap Alber, kemudian menarik laki-laki itu agak menepi dari kerumunan. Uniknya Alber super menurut, bahkan diam-diam ia tersenyum tipis.
"Mau kemana kita?" Goda Alber pada gadis yang menarik lengannya sekarang.
"Hustt ..!! Jangan gangguin aku, situasinya lagi ga enak ini." Ucap Uta dengan wajah dan intonasi serius. Gadis chubby itu melepaskan tangannya, dari lengan Alber.
"Why?" Tanya Alber bingung apa yang terjadi.
"Tuh." Uta mengarahkan pandangan Alber, ke arah Edgar dan Elma dengan gerakan dagunya. Alber mencermati dua insan yang Uta maksud.
"Kasian Reta sih, tapi itu haknya Edgar. Nasib jadi orang ditengah-tengah. Duh pusing aku tuh. Makanya kamu sekarang gak boleh usil, waktunya lagi gak asik buat bercanda right now, understand?" Ucapnya seolah sedang menceramahi Putri si bocil, lengkap dengan mimik wajah serius, tapi entah kenapa lucu dimata Alber.
Mati matian Alber menahan senyumnya, dengan tujuan ia ingin menghargai apa yang Uta ucapkan. Alber tau Uta sedang dilema, karena ia mesti netral di antara Reta dan Edgar.
"Yes boss." Jawab Alber akhirnya.
"He .. he .. he.." Puas dengan jawaban Alber, Uta sedikit terkekeh lega. Laki-laki yang suka iseng ini, ternyata bisa kong-kalikong dengan dirinya. Gak sia-sia ia kultum panjang lebar barusan. Uta kemudian berbalik badan dan mulai berjalan pergi meninggalkan Alber.
__ADS_1
"Hey mau kemana?" Tanya Alber saat Uta mulai melangkah menjauh.
"Hussttt..!!! Nyusul Reta." Jawab Uta, memberikan tanda ia menuju toilet. Alber yang paham, memilih untuk masuk ke gedung terlebih dahulu. Ia menduga 2 wanita itu pasti akan lama.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies, cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND