Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
69. Murung


__ADS_3

Alber POV


Seusai Annem dan Babam pergi, kami berempat duduk di ruang keluarga. Bersama-sama menonton film kartun sepanjang masa. Doraemon the movie 'Petualangan Nobita di Negeri Wan Nyan' sambil menikmati palm cheese cookies dan lidah kucing cookies berbagai rasa, yang tadi kami buat.


Sepanjang kartun itu tayang, tentu saja orang yang paling antusias menontonnya adalah Putri, disusul oleh Syiba, tapi tidak dengan Uta. Gadis itu mendadak berubah menjadi murung dan jadi lebih pendiam, semenjak selesai membuat cookies. Bukan, lebih tepatnya saat Babam dan Annem menghampiri kami di dapur, untuk pamit menghadiri undangan teman Babam.


Entah Apa alasannya, tapi aku bisa menangkap perubahan air mukanya, saat Babam dan Abla berinteraksi. Hal itu semakin jelas ketika ia termenung diam, saat Annem mengajaknya bicara. Tatapannya kosong dan sempat sepersekian detik terdiam, tak menjawab saat Annem bertanya padanya.


Satu hal yang tak pernah Uta lakukan sebelumnya. Hal itu disadari oleh Annem. Annem bahkan berinisiatif mengecek Uta untuk memastikan ia fit atau tidak. Entah apa yang mengganggu pikirannya, tapi yang jelas melihatnya murung, lumayan mengganggu pikiran ku. Aku jujur lebih suka gadis dasi yang ceria.


Aku teringat saat pertama kali aku nekat bertamu ke rumahnya. Saat itu seingatku, aku sempat bertanya mengenai Papanya Uta ke tante Celine, namun tante Celine hanya menjawab tipis dan kemudian mengganti topik pembicaraan.


Beliau seolah enggan membahas tentang Papah Uta. Tentu aku menghargai keputusan beliau. Aku sangat menyadari, diriku tak punya hak atas privasi keluarga mereka. Apakah itu ada hubungannya dengan alasan murungnya Uta hari ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?


Tak berapa lama seusai film kartun berakhir, Uta membawa Putri tidur siang, setelah memastikan perut anak lucu itu kenyang makan siang. Memang dia beberapa kali tertawa dengan tingkah gemes Putri, tapi tawa itu tak bisa menipuku. Meskipun ia tertawa, tapi aku yakin, tawa itu hanya untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya di hati.

__ADS_1


Aku yang biasanya naik ke kamar atau ke ruang gym ketika Putri dan tidur siang, kini memilih untuk tetap di ruang keluarga, menonton film rekomendasi di platform flixnet. Entah kenapa aku merasa tak nyaman naik ke lantai dua, sementara Uta dan Putri di lantai satu. Aneh memang, perubahan mood Uta, bisa sebegitunya mengganggu perasaanku.


"Mau kemana bi?" Tanyaku melihat bi Ida berjalan celingak celinguk, seolah mencari sesuatu di sekitar ruang keluarga.


"Eh Tuan Alber, Non Putri udah tidur siang tuan?" Rupanya Putri yang bi Ida cari.


"Barusan aja Uta bawa Putri tidur siang, kenapa bi?" Ucapku pada bi Ida.


"Ini tuan, kemarin malam boneka non Putri kotor ketumpahan susu. Ini udah bibi cuci, udah bersih. Eh non Putrinya keburu tidur siang. Biasanya non Putri selalu bawa bonekanya kalo tidur." Ujar bi Ida menunjukkan boneka beruang abu abu.


"Iya tuan." Jawab bi Ida berjalan mendekati kamar Putri. Entah apa yang mendorong langkah kakiku mengarah juga ke kamar Putri. Kulihat bi Ida pelan-pelan membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Melangkah ke dalam kamar, kemudian beliau meletakkan boneka beruang abu-abu tersebut di pinggir tempat tidur.


"Loh tuan Al .. ber." Tampak bi Ida kaget karena keberadaanku. Beliau hampir saja berteriak, sebab mungkin beliau mengira aku masih menonton film di ruang keluarga. Rupanya bi Ida tidak menyadari kalau aku berjalan tak jauh di belakangnya.


Buru buru aku memberikan tanda agar beliau tak bersuara, dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulutku. Bi Ida yang paham, kemudian mengangguk mengiyakan perintahku untuk tak berisik.

__ADS_1


"Saya permisi tuan." Ucap bi Ida sepelan mungkin. Kini gantian aku yang mengangguk menjawab bi Ida. Aku kemudian berjalan mendekati tempat tidur di mana Putri dan Uta berbaring di sana.


Perasaan khawatir tadi berubah menjadi lega, sebab dua-duanya tidur saat amat tenang. Putri tidur dengan memeluk leher Uta, sementara Uta terlihat nyaman tidur dipeluk Putri. Sepertinya Putri juga bisa merasakan Tutanya sedikit lebih murung hari ini.


Ku perbaiki selimut yang sedikit tertarik, agar kembali menjalankan fungsinya menyelimuti dua gadis chubby, agar semakin pulas tidurnya. Setelah memastikan Uta baik-baik saja, aku memutuskan untuk keluar kamar Putri tanpa menimbulkan suara.


Kuputuskan untuk pergi ke ruang gym, olahraga untuk mengisi waktu kosong sepertinya tak buruk. Mudah mudahan setelah bangun nanti mood Uta sudah jauh lebih baik.


Bersambung ............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2