Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
7. Dimana?


__ADS_3

Uta POV


“Gue.” Ucapnya enteng sambil berjalan kedepan kelas, menyetor kertas nama kelompok yang tadi ditulisnya. Aku pun hanya bisa pasrah karena Reta ternyata sudah sekelompok dengan Seto. Seto mencatut nama Reta, seperti Alber mencatut namaku tanpa diskusi.


Selesai menyetor nama, Alber dengan langkah enteng kembali menuju kursinya. Ia bahkan duduk tanpa ada raut wajah penyesalan. Sementara itu, kulihat anak anak pada berbisik bisik sambil sesekali melihat kearahku dan Alber. Mungkin mengetahui akulah yang menjadi teman sekelompok Alber, membuat beberapa orang tak menyangka.


Padahal Aku juga sama kagetnya. Alber langsung menyetor nama tanpa ba bi bu terlebih dahulu. Apa daya, Reta juga sudah di kelompok lain. Sementara Edgar yang merupakan harapan terakhirku, belum muncul di radar Z1. Alhasil, ini mungkin hal terbaik yang tak usah lagi ku protes. Cukup diterima dengan lapang dada. Lagipula inisiatif Alber sudah seharusnya ku hargai, terlebih ia sebagai murid baru. Justru seharusnya sebagai murid lama, aku yang semestinya membantu Alber beradaptasi.


Kuputuskan untuk tak ambil pusing tentang orang berpendapat apa. Mau mereka bisik bisik atau gimana, terserah saja. Toh aku juga tak mendengar bisikannya. Jadi anggap saja mereka bicara hal hal yang baik baik. Tak ada salahnya berpikiran positif. Toh pikiran positif itu bukan hanya baik untuk orang lain, melainkan dampak paling besar untuk diriku sendiri. Karena apa yang kita pikirkan akan membentuk perilaku kita seperti apa.


Pikiran positif membuat kita juga jadi orang yang positif, sebaliknya berpikiran negatif membuat kita bisa jadi condong ke arah perilaku negatif. So, lebih baik masa bodoh orang mau beranggapan kita apa.


Setelah selesai penentuan kelompok tugas TIK. Kini masing masing kelompok fokus dengan tugas masing-masing, termasuk aku dan Alber. Kami mulai berdiskusi tentang arti Indonesia menurut kami masing-masing. Aku mencatat beberapa poin penting dari diskusi singkat kami. Jujur terlalu banyak hal yang ada di negeri ini, seolah tak ada habisnya jika mau dikulik. Kami berdua sepakat menggabungkan sekitar 5 icon dari daerah yang terkenal di Indonesia. Alber akan menggambar 3 sementara aku kebagian 2, itupun dia memberiku yang paling simple.


Alber mulai membuat sketsa di selembar kertas. Sedikit surprise karena ternyata dia jago menggambar, meskipun ini tergolong masih corat coret. Tak mau hanya duduk diam, aku juga mulai mencorat coret kertas kosong dimejaku. Jujur aku sedikit bisa menggambar, meskipun kalau dibanding Alber tentu saja kalah bagus.


Aku tenggelam dalam gambar oret oretanku. Namun fokusku buyar saat Alber duduk condong disampingku, wajah kami sangat dekat saat dia melihat sketsa yang kugambar. Refleks aku bergeser agar menciptakan sedikit jarak.


“Gambar lo bagus.” Pujinya melihat sketsaku.

__ADS_1


“Gambar lo lebih bagus.” Ucapku jujur sembari melirik kertas diatas meja Alber.


“Hemhh ... Langsung di design di komputer aja gimana? Sepertinya konsep Indonesianya udah oke banget.” Ucapnya lagi. Nampak sekali Alber karakter orang yang gerak cepat. Tapi hal ini membuatku sedikit bingung, aku tak terbiasa menggunakan aplikasi untuk menggambar atau design. Apesnya Alber tak membawa laptop dan hanya aku yang kebetulan bawa.


“Gimana ya, tapi aku gak begitu jago pake aplikasi design komputer.” Jawabku jujur.


“Sini laptop lo, gue ajarin.” Dia langsung mengambil alih laptop milikku lalu membuka salah satu aplikasi design. Ia menjelaskan masing masing kegunaan tools pada aplikasi itu. Aku menyimaknya dengan baik. Kucatat yang tak terlalu familiar, agar jika lupa tak perlu nanya berulang kali padanya.


Alber menyetel ukuran kanvas sesuai ukuran mug yang akan dicetak. Ia membuat pola dasar sesuai apa yang tadi sudah ia bubuhkan di kertas miliknya. Alber tampak jago menggunakan aplikasi design itu. Aku berusaha memperhatikan Alber mengerjakan sambil mengingat urutannya. Setelah pola dasar sudah ia selesaikan, ia pun menggeser laptop itu agar aku ambil alih untuk mengerjakan bagianku.


Aku mulai menggerakkan jari di touchpad sesuai dengan design awal di kertas tadi. Terasa agak kaku awal awalnya, apa boleh buat memang diriku tidak terbiasa. Tapi baiknya Alber, dengan sangat sabar menuntunku untuk menyelesaikan pola dasar design di layar laptop.


Garis yang awalnya mencang mencong perlahan mulai terbentuk. Lumayan lah untuk ukuran pemula. Anggap aja sebuah karya seni abstrak.


"Oke kita lanjut ke step berikutnya." Tentu saja si pemula ini mengikut titah sang mentor jago. Rupanya yang Alber maksud step berikutnya adalah pewarnaan pola yang sudah digambar tadi, plus penambahan detail untuk sentuhan akhir.


Seperti halnya tadi, Alber duluan yang melakukan pewarnaan dan penambahan detail untuk sketsa awal miliknya. Tapi anehnya kali ini ia tak semulus saat menggambar pola awal. Alber terlihat sedikit bingung dan hanya berputar-putar di bagian warna. Seolah pusing mencari warna yang cantik untuk di padu padankan.


"Hemhh ... Ta kira kira yang bagus yang mana ya? Gue paling pusing mix and match warna." Ucapnya sambil menggaruk garuk kepala yang aku yakin sebenarnya tak gatal.

__ADS_1


Binggo. Ternyata dugaanku tepat. Dari sekian banyak hal yang Alber mampu melakukannya dengan sangat baik, bahkan bisa dikategorikan sempurna, baru kali ini ada hal yang tidak bisa dilakukannya. Setidaknya ini membuktikan bahwa Alber masih manusia.


"Gimana kalau gue yang ngerjain bagian itu. lo tinggal ngasih arahan garis garis besarnya ke gue." Paling tidak aku mencoba berinisiatif menawarkan solusi. Yah meskipun gak jago - jago amat, paling tidak mix and match warna bukanlah hal yang terlalu sulit untukku.


"Deal." Jawab Alber cepat menyambar tawaranku barusan. Ternyata selain ia orang yang gerak cepat, mengambil keputusaan juga tak kalah cepat. Tawaranku di setujui tanpa berpikir lama. Benar benar manusia cepat. Jangan jangan waktu pembagian wajah dan fisik dari Tuhan, dia juga datang paling cepat. Aku bahkan sampai mengangguk angguk kecil sangkin yakinnya.


Sambil mendengar arahan Alber, aku fokus memberikan sentuhan warna plus membuat detailnya pelan pelan. Kulihat Alber menulis uraian tentang tugas ini sambil dengan sabar menjawab pertanyaanku, bila aku bertanya padanya. Bel tanda pelajaran kedua berbunyi, kami berdua menghentikan kegiatan kami.


“Gimana Ta?” Ucapnya saat bel penanda waktu habis.


“Ehm … sedikit lagi Ber, nanti gue selesaiin dirumah aja. Lagian tugas ini masih di kumpulnya minggu depan. Jadi waktunya masih cukup banget." Jelasku padanya. Tidak mungkin juga memaksakan menuntaskan tugas ini sekarang. Sudah pasti akan terburu buru. Mengerjakan tugas yang satu ini mesti tenang dan pelan pelan.


“Ta rumah lo dimana? Biar entar malam gue ke rumah lo.” Ucapnya enteng.


WHAT??? *Uta


Bersambung ...........


..._____________ Z _____________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2