Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
16. Mission Clear


__ADS_3

Author POV


Tak lama pesanan mereka diantarkan ke meja. Uap panas masih mengebul, dari makanan yang pelayan pindahkan dari nampan ke atas meja. Pertanda semua masih fresh from the 'wajan'.


"Makasih mas." Ucap Uta ke pelayan yang menghidangkan makanan.


"Iya, silahkan dimakan." Ucap mas itu ramah, kemudian kembali ke dapur. Uta menggeser seporsi tongseng kambing, nasi dan es teh ke depan Alber. Sementara untuk dirinya, ia memesan tongseng sapi, nasi dan jus jambu.


"So what is this?" Tanya Alber ingin tau makanan di hadapannya. Visual makanan berkuah Itu tampak menggiurkan. Wangi yang tercium pun bagai memberikan informasi, betapa lezatnya menu yang Uta pesankan ini. Belum lagi kuahnya yang agak kental, seolah menegaskan makanan ini memiliki rempah-rempah yang melimpah. Khas masakan Indonesia pada umumnya, yang tak pernah pelit akan bumbu rempah berkualitas.


"Ini namanya Tongseng. Ada banyak jenis tongseng, tergantung bahan utama yang dipakai. Punya lo pakai daging kambing, jadi namanya tongseng kambing sedangkan punya gue tongseng sapi." Ujar Uta mulai menjelaskan bab pendahuluan.


"Tongseng kambing. Oke terus terus?" Tanya Alber antusias ingin tau lebih.


"Makanan ini kuliner khas Jawa Tengah. Kata orang orang sih tongseng ini awalnya terinspirasi dari para pedagang Timur Tengah yang datang ke Indonesia." Lanjut Uta menjelaskan bab kajian pustaka. Lucunya Alber menyimak perkataannya seksama. Melihat itu Uta melanjutkan ceritanya.


"Tapi, tongseng sudah diadaptasi menyesuaikan cita rasa orang Indonesia. Isinya bisa daging kambing, sapi atau ayam. Ditambahkan kol dan tomat yang dimasak bersama kuah gulai kaya rempah dan santan dengan cara di oseng - oseng atau ditumis. Cobain deh." Ucap Uta menjelaskan bab pembahasan. Ia lalu mempersilahkan Alber mencobanya untuk melengkapi bab kesimpulan dan penutup nanti. Tapi untuk hal itu, tentulah Alber harus mencicipinya terlebih dahulu, agar mendapatkan hasil yang akurat.


Mendengar penjelasan Uta yang meyakinkan, membuat Alber tanpa ragu menyendok tongseng tersebut dan menyuapkan kuah hidangan itu kedalam mulutnya.


"Wow ... Gila ..." Ucap Alber dengan wajah kaget.


"Kenapa Ber?? Gak enak ya??" Tanya Uta panik. Khawatir Alber gak suka rasanya.


"Justru enak banget Ta, plus dagingnya nggak bau." Diseruputnya sekali lagi kuah tongseng itu.

__ADS_1


"Kok gue baru tau ada makanan enak begini?? Gila, kemana aja gue selama ini." Ucapnya menyendok 1 sendok penuh tongseng, lengkap dengan daging, sayur dan kuah kuahnya. Uta lega Alber terlihat menikmati makanan pinggir jalan yang ia pesan. Setidaknya hasil berpikir kerasnya, menyortir makanan pinggir jalan yang enak tidak sia- sia.


"Tongsengnya boleh dituangin ke nasi?" Tanya Alber polos. Uta yang mendengar itu spontan tertawa kecil.


"Ya, memang sebagian orang cara makannya begitu. Tongsengnya di tuang ke piring nasi, kayak sistem refill. Dan kalau mau lebih enak lagi pakai ini ..." Uta memamerkan kerupuk ke Alber. Diberikannya 1 kerupuk ke pria itu untuk testing. Alber memakannya tanpa ada rasa risih. Bahkan pria itu meminta kerupuk lagi dan lagi.


Mereka berdua menikmati hidangan itu benar benar lahap. Bahkan Alber menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Satu sisi seorang Alber yang Uta sadari adalah, Alber ternyata sosok yang sangat humble. Padahal jelas sekali dia berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi pria ini tak risih makan makanan pinggir jalan, padahal sebagian orang mungkin berpikir kebersihannya kurang terjamin. Belum lagi polusi dari kendaraan lalu lalang yang langsung menyapa tanpa permisi.


"Terima kasih udah ditraktir" Ucap Alber pada Uta, yang baru saja membayar makan siang super lezat itu.


"Sama sama. Tapi yang gue traktir gak sebanding dengan yang lo bayar tadi" Ucap Uta sedikit tak enak ke Alber. Bagaimana tidak, seporsi makanan mereka lengkap dengan minumnya hanya di banderol 23.000 rupiah. Uta hanya membayar total 50.000 untuk 2 set lengkap, ditambah dengan kerupuk. Tentu tak sebanding dengan mug yang Alber bayar tadi.


"Gak semua- muanya dihitung dengan angka. Hari ini gue dapat banyak pengalaman seru. Pertama kali nyetak mug, pertama kali makan di pinggir jalan, pertama kali makan tongseng yang rasanya ternyata enak banget. Hal-hal itu gak akan bisa di hitung dengan uang Ta." Ucap Alber tulus dari hati.


"Iya juga ya. Oke kalau begitu." Jawab Uta kembali ceria. Perkataan Alber benar juga kalau ia pikir-pikir. Ada banyak hal yang tak bisa di hitung dengan uang.


"Risih tentang apa?" Bukannya menjawab, Alber malah balik bertanya ke Uta, lengkap dengan ekspresi bingung di wajahnya.


"Banyak hal. Tentang tempatnya yang bukan tempat privat, malahan sederhana banget. Suara bising karena tempatnya tepat di pinggir jalan. Belum lagi polusi dari kendaraan yang lalu lalang di jalan, berpotensi bikin makanan kurang terjamin kebersihannya. Bukannya tadi lo bilang, ini pertama kalinya lo makan di warung pinggir jalan?" Jelas Uta sesederhana mungkin untuk Alber mengerti.


"Justru sebaliknya, next time gue pengen lagi nyobain street food pinggir jalan lainnya. Malahan menurut gue seru banget, rasa makanannya enak, harganya terjangkau plus punya vibes tersendiri." Ucap Alber sungguh-sungguh membuat Uta berbalik kaget. Uta bahkan terdiam seribu bahasa karena jawaban Alber diluar ekspektasinya.


"Udah hampir 1 jam nih. Kita langsung pergi ambil mug aja kayaknya ya Ta." Ucap Alber melihat penunjuk waktu di pergelangan tangan kanannya. Mendengar itu, keceriaan Uta perlahan menguap. Bagaimana tidak, mengingat mbak mbak pegawai disana yang bersikap berbeda pada Alber dan dirinya. Padahal faktanya, mereka berdua sama sama customer disana.


"Kayaknya itu toko cuman kamuflase aja jadi toko mug. Aslinya gue yakin, itu base camp nya Alber fans club." Ucap Uta spontan dengan wajah yakin. Mendengar itu Alber tertawa ngakak. Ia tak habis pikir mendengar ucapan absurd yang barusan terlontar dari gadis chubby itu.

__ADS_1


Selesai mengambil mug di toko awal tadi. Sesuai prediksi Uta, bahwa disana hanya ada Alber fans club, sementara dirinya diperlakukan acuh tak acuh. Tapi Uta gak ambil pusing, toh tugas keelompoknya yang penting udah selesai. Dirinya tak perlu lagi kembali ke toko mug tersebut. Anggap aja mission clear.


Mereka keluar dari toko dengan menenteng paper bag berisi mug design mereka, yang akan siap dikumpulkan ke Bu Melati, guru TIK.


"Ta katanya rumah lo deket toko mug ini, dimana Ta??? Yok gue antar pulang." Tanya Alber pada Uta tiba tiba saat mendekati Lamborghini hitam miliknya, membuat yang ditanya kaget luar biasa.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2