Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
52. Aku Kamu


__ADS_3

Author POV


Uta dan Alber kini duduk saling berhadapan, sedangkan Putri duduk di samping Uta. Tak seperti tadi, Alber yang hanya bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer. Saat ini Alber telah memakai pakaian rumah dengan wajah yang lebih segar sehabis mandi. Mata tajam Alber menatap lawan bicara yang berada tepat di hadapannya.


Sementara lawan bicara yang dimaksud, sedari tadi mengalihkan pandangan menatap Putri yang sibuk mengunyah. Bocah kecil itu dengan asyiknya memakan buah yang sudah dipotong-potong cantik oleh asisten rumah tangga di rumah Alber.


"Jadi ini yang kamu maksud itu janji penting?" Tanya Alber langsung ke Uta, mengenai ucapan gadis itu kemarin. Dan Uta mengangguk mengiyakan. Meskipun barusan Alber sudah mendapat penjelasan dari Annem alias Ibunya. Tetap saja jawaban dari Uta langsung yang ingin dia dengar.


"Kenapa gak bilang sama aku?" Tanya Alber lagi.


"Gue ..." Ujar Uta terpotong.


"Ehemmh." Alber sengaja berdehem untuk memberikan kode kepada Uta. Ya, Annem memberikan satu aturan dirumah ini, yaitu siapapun termasuk Uta dan Alber tidak boleh bicara lo gue di sekitar Putri. Annem takut Putri akan langsung mencontoh hal tersebut, sebab usianya belum mengerti yang mana sopan dan kurang sopan.


Takutnya anak itu langsung mencontoh mentah-mentah dan menerapkannya kepada orang dewasa yang lain. Jadilah sekarang Uta dan Alber berbicara dengan 'aku kamu' jika ada Putri di sekitar mereka.


Tak sampai di situ saja, saat tante Rose mengetahui Uta adalah teman satu kelas Alber. Ditambah Uta juga yang menyelamatkan dompet Syiba, plus Uta sekarang menjaga kemenakannya. Maka Tante Rose berinisiatif menyuruh Uta memanggil beliau dengan sebutan Annem juga, sama seperti Alber. Agar mereka merasa lebih dekat. Uta mau tak mau mengikuti.


"Maksudnya aku... Aku juga nggak tahu kalau bakal kerja di rumah kamu. Mana kepikiran aku kalau Tante Rose itu Ibu kamu." Ucap Uta canggung, karena harus menggunakan aku kamu bicara dengan Alber.


"Annem." Ucap Alber mengoreksi sedikit ucapan Uta.


"Iya maksud aku Annem kamu." Merasa terkoreksi, Uta buru-buru membenahi perkataannya barusan. Alber mati matian menahan tawa melihat ekspresi lucu Uta. Ini belum saatnya ia tertawa. Karena mendapatkan jawaban dari Uta atas pertanyaannya jauh lebih penting.


"Sebelumnya kamu kerja di mana?" Tanya Alber lagi, tak ada maksud menyinggung atau mengecilkan gadis itu. Hanya saya Alber tidak bisa menahan pertanyaan yang satu ini, dia benar-benar ingin tahu, apakah selama ini Uta harus bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya.

__ADS_1


"Gak dimana mana, ini pertama kali aku kerja." Jawab Uta jujur. Jawaban yang membuat hati Alber lega.


"Apa kamu ada masalah sampai harus bekerja?" Tanya Alber lagi, kali ini dengan intonasi suara yang hati-hati. Alber sadar bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan sensitif.


"Gak ada masalah apa-apa." Jawab Uta berusaha sesantai mungkin. Tapi lawan bicaranya terlalu jenius untuk dibohongi. Alber masih diam menatapnya dengan tatapan menelisik, seolah ia tak percaya dengan jawaban Uta barusan.


"Gak ada apa-apa Alber. Aku baik-baik aja. Keluarga ku aman-aman aja. lagi pula aku gak menganggap ini kerja. Aku anggap ini lagi main bareng Putri tiap weekend. Lagian tiap weekend aku gak ngapa ngapain juga. Nah daripada gabut, mending aku cari aktivitas yang positif. Urusan bisa menghasilkan, itu aku anggap sebagai bonus." Jelas Uta panjang lebar meyakinkan Alber.


"Yabel Tuta okay. Putli senang main sama Tuta. Ya kan Tuta?" Bocah kecil yang sudah memakan buahnya setengah mangkok berkomentar menjawab Alber. Sama halnya dia memanggil Uta dengan sebutan Tuta, anak itu memanggil Alber sebutan Yabel. Maklumlah, bocah kecil itu belum terlalu lancar di beberapa huruf.


"Iya dong, Tuta senang banget main sama anak cantik yang celemotan aja, tetap imut. He .. he .. he" Uta tertawa melihat Putri yang kedua pipinya comel karena memakan buah naga belepotan.


"Ya ampun ini anak belum siap siap. Alber cepetan siap-siap, jangan sampai kamu terlambat gantiin Babam." Annem yang datang dari arah tangga, geleng-geleng melihat Putra semata wayangnya itu masih duduk santai dengan baju rumahan.


"Iya An." Ucap Alber kemudian bangkit berdiri. Sebelum dirinya pergi, Alber menciun pucuk kepala gadis kecil yang celemotan itu.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Alber yang sudah selesai bersiap-siap keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Alber memang akan meeting dengan salah satu investor, menggantikan sang Babam alias Ayahandanya. Ia memakai setelan suit waistcoat slim fit, dengan jas berlengan panjang bewarna abu-abu gelap.


Setelan tersebut cocok untuk menghadiri acara-acara formal, seperti pertemuan bisnis atau saat bertemu kolega penting. Setidaknya ada tiga lapis pakaian yang dikenakan, yaitu kemeja, rompi, lalu jas sebagai outer. Setelan ini sudah tentu terbuat dari bahan terbaik yang berkualitas super.


Desain yang slimfit, namun elegan menjadikan tampilan Alber lebih keren dan kharismatik. Alber yang memang sudah tampan dan memiliki fisik tinggi atletis dari sananya, semakin tampan berkali-kali lipat dengan setelan tersebut.


Dirinya menghampiri Annem untuk pamit sebelum berangkat. Annem sedang di ruang keluarga bersama Putri yang sedang menonton kartun anak anak. Namun sejauh Alber memandang, Uta tak nampak di sana.

__ADS_1


"Buruan berangkat Ber, entar telat gak enak. Masa ngewakilin Babam telat. Apa kata orang orang nanti." Ucap Annem memecah fokus pikiran Alber.


"Uta mana An?" Tanya


Alber to the point bahwa memang dirinya mencari keberadaannya Uta.


"Barusan ke WC sebentar, kenapa?" Jawab Annem tanpa berbelit-belit, yang kemudian ditutup kembali dengan pertanyaan.


"Ehm ... Gak kenapa napa. Alber berangkat dulu An." Pamit Alber kemudian mencium kedua pipi wanita yang melahirkannya itu.


"Bocil, Yabel pergi dulu ya. Bocil jangan nakal sama Tuta okey!" ucap Alber kemudian mencium pipi tembem Putri beberapa kali.


"Okey ... Yabel bye bye." Putri yang merasa geli karena pipinya dicium, langsung menjawab sepupunya itu. Tak lupa ia melambaikan tangan mungilnya saat mengatakan bye bye pada Alber. 10 menit setelah Alber berangkat barulah Uta keluar dari kamar kecil.


Gadis itu kembali menghampiri Putri dan Annem berada. Putri yang asyik menonton kartun kesukaannya, membuat Uta tak perlu bersusah payah menjaga bocah itu. Cukup menemani duduk di sebelahnya.


Sementara Annem yang merasa tidak relate dengan kartun tersebut, mulai menginterogasi Uta mengenai Alber. Mereka akhirnya bertukar cerita dengan topik utama yaitu Alber Syargan Farabaks.


Bersambung ............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2