![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"File nya sudah kami copy. Mas nya mau pilih mug nya yang warna atau pake yang biasa hitam putih?" Menjelaskan dengan senyum selebar lebarnya.
"Ada contohnya?" Tanya Alber singkat.
"Kita ada sampelnya mas di ujung sana, boleh dilihat sebagai referensi." Tunjuk pegawai itu ke salah satu sudut toko. Alber dan Uta berjalan ke sudut yang ditunjukkan oleh pegawai barusan. Dan benar saja terlihat berbagai macam mug yang terpanjang di sana. Mulai dari variasi bentuk dan ukuran mug, variasi warna sampai dengan variasi design tertata manis di dalam rak dinding.
"Mau pilih yang mana Ta? Pilihannya banyak banget." Tanya Alber pada Uta. Uta tampaknya lebih seksama dalam menilai tipe varian sementara Alber tampak biasa saja, ia bingung pilih yang mana.
"Hem ... Sepertinya gue pilih yang ini aja Ber. Warnanya bagus terus bahannya juga lebih tebal dari yang lain. Kemungkinan akan tahan dipakai untuk minuman dingin maupun panas." Pilihan Uta jatuh pada varian mug two tone warna dalam berwarna merah marun sementara bagian luar berwarna putih.
Mug two tone adalah salah satu mug yang menjadi favorit banyak orang. Biasanya mug ini memiliki dua pilihan warna yaitu warna putih dan warna lainnnya. Bisa berupa garis diagonal warna putih di bagian bawah dan warna lain di bagian atas. Bisa juga warna putih di bagian luar dan warna lain pada bagian dalam atau sebaliknya.
"Oke kalau gitu kita ambil 4 warna yang berbeda." Ucap Alber pada Uta yang langsung membuat Uta bingung.
"Kenapa 4 Ber? Kan Bu Maya cuman minta 2 aja perkelompok." Protes Uta ke Alber, sesuai instruksi guru mereka. Bukannya menjawab Alber malah memberikan kode seolah meminta Uta mendekat karena ia ingin membisikkan sesuatu. Melihat itu, Uta dengan polosnya mendekat ke Alber.
"Biasanya cetak-mencetak seperti ini tuh kemungkinan besar pasti ada aja yang error. Jadi buat jaga-jaga kita cetak aja empat, biar enggak bolak-balik. Pegawainya rese." Ucapan Alber berbisik di telinga Uta.
"Oke ide bagus." Bisik Uta balik kepada Alber. Uta langsung setuju saat mendengarkan alasan terakhir Alber yaitu 'pegawainya rese'. Dua kata itu bagai mantra sakti yang membuatnya langsung ACC tanpa ada sanggahan balik.
Uta kemudian mengambil 4 buah mug yang bagian dalamnya masing-masing berwarna marun, navy, coklat dan oranye. Sedangkan bagian luar mug sama-sama berwarna putih. Dengan Sigap Alber mengambil 2 mug lalu membawanya ke arah kasir, diikuti Uta yang membawa dua sisanya.
"Total 4 mug plus cetak custom, jadi 340.000 rupiah." Ucap pegawai kasir menyebutkan total prakarya mereka. Mendengar nominal pembayaran tersebut Uta buru-buru mengambil dompet dari dalam tas ransel nya.
"Pakai ini aja mbak." Alber menyerahkan kartu tanpa limit deluan kepada petugas kasir, disaat Uta baru mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Mbak tunggu mbak, ini juga." Ucap Uta hendak mengeluarkan uang dari dompet. Ia bermaksud membayar separuh dari total yang disebutkan.
"Gak usah Ta. Pake itu aja mbak." Ucap Alber tak ingin dibantah. Ia juga menahan tangan Uta yang memegang dompet. Uta sempat protes melalui ekspresi wajahnya tapi Alber dengan tegas menggeleng pertanda 'tidak'. Terdengar suara tercetaknya struk belanjaan yang artinya pembayaran telah berhasil dilakukan. Uta menurunkan dompet yang ia pegang.
"Mug nya diambil satu jam lagi ya mas. Terima kasih." Ucap pegawai kasir sambil menyerahkan struk belanjaan beserta kartu tanpa limit milik Alber.
"Terima kasih." Ucapan Alber saat menerima struk belanjaan dan kartu miliknya. Uta pergi keluar toko duluan meninggalkan Alber yang berjalan di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Alber yang menyadari nampaknya ada yang Uta tak suka.
"Alber lo gak adil banget tau nggak?" Ucap Uta menatap kesal Alber.
"Gak adil gimana maksudnya?" Tanya Alber bingung. Ia dapat menangkap jelas wajah kesal gadis itu.
"Tadi lo sendiri yang bilang kalau nyetak mug nya harus bareng bareng dan nggak boleh gue sendiri, karena ini tugas kelompok. Tapi giliran bayar, lo bayarin ini sendiri. lo nggak bolehin gue ikut bayar. Kenapa?? Uang jajan gue masih cukup buat bayar setengahnya. Gak adil." Ucap Uta pada Alber. Alber menangkap ada nada kekecewaan dalam protes gadis itu. Buru buru ia luruskan agar tak terjadi salah faham.
"Kalau gitu gue kasih uangnya ke lo aja ya Ber." Ucap Uta hendak mengeluarkan lembaran uang dari dompet.
"Mana bisa gitu, kan gue bukan petugas kasir." Elak Alber secerdik mungkin.
"Ya udah kalau begitu, tapi besok besok semoga kita gak sekelompok lagi." Ucap Uta sungguh sungguh. Rupanya ia menangkap gelagat Alber yang tak ingin dirinya ikut patungan uang prakarya.
"Wait ... wait. Gue belum selesai ngejelasin Ta." Ternyata perkataan Uta tadi mampu membuat Alber agak panik.
"Sebenarnya gue tadi begitu karena gue mau minta lo bawa gue makan di daerah sekitar sini. Kan daerah ini lo lebih familiar. Nanti tolong lo yang bayarin soalnya gue gak punya cash. Gimana Ta?? boleh gak??" Tanya Alber harap harap cemas. Khawatir alasannya kurang bagus dan Uta tetap marah. Gadis itu tampak sedang berfikir keras sambil menundukkan kepala. Perlahan Uta mengangkat kepalanya dan menatap Alber.
"Ehm ... apa gak apa apa kalau cuma warung pinggir jalan dan bukan restoran??" Tanya Uta takut takut. Khawatir Alber minta di restoran sementara uangnya sudah pasti tak cukup.
__ADS_1
"Justru gue paling suka street food. Yok ... gue udah laper banget ni." Ucap Alber dengan senyum lebar, ia berjalan ke arah mobilnya. Uta menyusul Alber dengan hati yang lebih lega. Setidaknya ia merasa tak sekedar nebeng di kelompok ini. Ia juga ikut iuran meski lewat jalur traktir makanan.
Sekarang permasalahannya, Uta harus berpikir makanan street food apa yang enak walaupun harganya terjangkau. Kalau kata orang-orang itu 'harga kaki lima tapi rasa bintang lima'. Terlebih ia dan Alber baru kenal beberapa hari, tentu saja ia belum tau selera makan teman sebangkunya itu.
Uta mencoba mengingat ingat, apa makanan yang sekiranya enak dan rasanya lumayan familiar, sehingga bisa diterima di lidah sejuta insan. Setidaknya dirinya tak ingin Alber kecewa makan makanan pinggir jalan yang ia pilihkan, toh Alber sudah berbaik hati tak minta di traktir di restoran mewah.
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
ZEROIND
__ADS_1