![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Menjelang sore hari Uta diantar pulang ke rumah dengan mobil Tante Rose. Putri yang sudah lelah ketiduran, sepanjang jalan pulang ke rumah Uta. Tante Rose menceritakan banyak hal tentang Putri yang membuat Uta sangat amat terkejut.
Hatinya sedih mendengar gadis sekecil itu harus kehilangan Ayahnya tiba-tiba, karena serangan jantung. Ia juga harus rela tak mendapatkan perhatian full sang Bunda, karena Bundanya harus melanjutkan mengelola perusahaan yang Ayahnya rintis sebelum berpulang.
Rupanya hari dimana ia mengantarkan Putri ke pusda, merupakan hari terakhir Bundanya bekerja di sana. Kak Latifah mengundurkan diri bekerja dari Pusda, karena harus mengelola perusahaan peninggalan suaminya. Kak Latifah juga tak bisa selalu bersama Putri, karena harus memantau langsung proyek perusahaan ke beberapa kota.
Pantas saja anak itu, ketika bertemu Uta menjadi sangat cerewet. Rupanya ia sangat kesepian dan tak punya teman cerita. Tante Rose mengatakan bahwa Putri hanya bermain dengan beberapa pelayan di rumah. Tapi menurut beliau, tak ada yang bisa selengket itu dengan Putri, seperti layaknya Putri dengan Uta tadi.
Ngobrol dengan Tante Rose yang pembawaannya asik, membuat waktu cepat berlalu. Tak terasa laju mobil sudah sampai di depan kediaman Uta.
"Terima kasih Tante, udah anterin Uta ke rumah." Ucap Uta benar benar berterima kasih atas kebaikan hati Tante Rose.
"Sama-sama sayang. Jangan lupa tawaran Tante tadi dipertimbangkan ya. Tante tunggu kabar baiknya." Ucap beliau menatap Uta, sebelum akhirnya Uta turun dari mobil mewah tersebut. Uta yang sudah di depan rumah, memilih tak langsung masuk, melainkan dirinya menunggu sampai mobil mewah tersebut berlalu menjauh dari area rumahnya.
Diraihnya sebuah kartu nama, bertuliskan nomor kontak Tante Rose. Alasan dibalik kartu nama tersebut bisa berada ditangan Uta adalah, sebab beliau menawarkan pekerjaan kepada Uta. Tante Rose menawarkan Uta untuk menjaga Putri di akhir pekan Sabtu dan Minggu.
Ia hanya cukup bermain dan menemani Putri saja, sebab di akhir pekan Kak Latifah, Bundanya Putri hampir pasti keluar kota untuk urusan pekerjaan, sehingga Putri merasa kesepian.
Bunda Putri baru akan di Jakarta dari Senin hingga Jum'at siang. Weekday beliau hanya akan bekerja di kantor pusat Jakarta. Tapi Weekend beliau akan meeting, sidak kantor cabang atau memantau proyek yang berjalan. Sehingga disela sela kesibukan beliau Senin hingga Jum'at, beliau masih bisa menyisihkan waktu untuk Putri.
__ADS_1
Tante Rose bahkan menawarkan gaji sangat besar dan meminta Uta untuk mempertimbangkan penawarannya. Di simpannya kembali kartu nama tersebut di dalam tasnya. Ia harus berpikir matang-matang dan mesti meminta izin kepada Ibu Ratu terlebih dahulu, sebelum mengiyakan tawaran tersebut.
Karena mobil Tante Rose sudah menghilang dari pandangan, Uta memutuskan berjalan masuk ke arah rumah. Tak tampak satupun pegawai catering Ibu Ratu di samping rumah. Ia berpikir mungkin mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, mengingat ini sudah sangat sore. Mendekati pintu rumah, sayup-sayup terdengar suara dari arah kamar Ibu Ratu.
"Apa kamu nggak mikir Mas, ini tabungan untuk kuliah Uta, untuk biaya sekolahnya Tama, untuk modal usaha besok. Dari mana aku dapat biaya hidup sehari-hari dan anak-anak, kalau uang ini kamu ambil Mas??" Ucap Mamah Celine di sela-sela isak tangisnya, mendengar Papah Uta mengamuk membabi buta. Terdengar suara barang-barang yang jatuh akibat dilempar.
Mendengar itu, Uta yang berada didekat meja makan bergegas ingin ke kamar Mamah Celine, namun pintu kamar lebih dulu terbuka. Papahnya keluar dari kamar, membawa sebuah amplop coklat tebal yang diperkirakan Uta berisi uang tunai. Uta dan Papahnya berpapasan di ruang makan, karena memang kamar orang tuanya berdekatan dengan ruang makan.
"JADI ANAK, KERJANYA NYUSAHIN AJA!!!" Teriak Papah Uta dengan intonasi melampiaskan kejengkelannya pada Uta. Mimik wajahnya juga terlihat jelas, sangat tak suka dengan putrinya itu. Tatapan yang melotot serta rahang yang mengeras, membuat tenggorokan Uta rasanya tercekat. Uta hanya bisa menunduk, menghindari tatapan marah Papahnya.
Keberaniannya mengecek apa yang terjadi pada Mamah Celine, hilang entah kemana. Ia hanya bisa diam di tempatnya berdiri, hingga Papahnya berjalan melewatinya. Tubuhnya terasa membeku, sampai sampai tak bisa berbuat apa-apa hingga Papahnya pergi meninggalkan rumah, dengan membanting pintu begitu kuat.
Banyak sekali barang-barang yang berserakan, serta lemari pakaian yang kondisinya sangat acak-acakan. Sambil berderai air mata, Uta memeriksa kondisi Mamahnya. Dia khawatir Papahnya ada memukul Mamahnya. Gadis itu memastikan jangan sampai terdapat memar atau luka, pada tubuh sang Ibu.
"Enggak. Mamah gak papa sayang. Gak perlu khawatir. Papahmu yang emosi cuman lempar barang ke dinding, bukan lempar ke Mamah. Don't worry, Mamah oke." Ucap Mamah Celine lembut, sembari membelai pucuk kepala putri semata wayangnya itu. Diusap nya air mata yang mengalir membasahi pipi Uta.
Uta tak habis pikir dengan Papahnya yang tega berlaku seperti itu ke keluarganya sendiri. Tak pernah bertanggung jawab akan istri dan anaknya. Bahkan sampai hati mengambil uang tabungan yang Mamah kumpulkan, untuk dipakai judi dan bersenang senang.
Terkadang Uta bersyukur Papahnya memilih tinggal di luar kota dan tak tinggal bersama mereka. Setidaknya kejadian seperti ini tak mesti terulang setiap hari. Biarlah Papah mencari kebahagiaan sesuka hatinya di luar sana. Terserah saja.
Dua jam berikutnya, ia baru kembali ke kamarnya setelah membantu sang Mamah merapikan kamar yang seperti kapal pecah itu, rapi kembali. Di hiburnya sang Mamah, sembari tangannya aktif melipat pakaian yang berhamburan, untuk segera bisa disusun kembali ke dalam lemari.
__ADS_1
Ibu dan anak itu saling bercerita mencurahkan isi hati. Ya memang Uta adalah tempat curhat dari Ibu Ratu, begitupun sebaliknya. Mereka sedari dulu sudah terbuka dan percaya satu sama lain. Trust yang dibangun sedari dulu berbuah manis. Ketika masalah datang, Uta maupun Mamahnya tak perlu cerita ke orang lain. Cukup mereka saling cerita, biar hati terasa lebih plong.
Cerita ke orang lain tak selamanya baik. Justru lebih banyak tidak baiknya. Orang yang kita curhati belum tentu jujur. Sangat mungkin mereka ikut sedih di depan kita, tapi dalam hati tersenyum akan masalah yang menimpa kita. Sebaliknya, mereka tersenyum saat kita sedang menceritakan kebahagiaan kita. Namun siapa tau hati mereka menyimpan rasa iri, tak suka akan kebahagiaan kita.
Untuk itulah Uta dan Mamah Celine lebih nyaman, saling curhat satu sama lain. Bukan saja karena nyaman, tapi juga aman. Minimal mereka sudah punya koneksi batin dan paham satu sama lain. Jauh lebih tulus dan pasti untuk kebaikan kedepannya.
Dari curhatan itu Uta akhirnya tahu, bahwa Papahnya mengambil uang simpanan Mamahnya yang sudah sejak lama ditabung. Papahnya yang kecanduan berjudi, bukan sekali dua kali melakukan hal itu. Meskipun itu bukan hal yang baru, tetap saja membuat rasa sedih dihati menyeruak.
Melihat Mamahnya tak berdaya ketika uangnya diambil oleh suaminya sendiri, membuat tak habis pikir. Mengapa keluarga mereka tak sama dengan keluarga lain pada umumnya. Mengapa Mamahnya ditakdirkan menikah dengan dengan laki-laki yang tak bertanggung jawab? Kenapa mesti terjadi pada Ibu Ratu kesayangannya.
Sebuah Ironi yang tak akan pernah bisa selesai jika hanya diratapi. Uta memutuskan menegarkan hatinya dan menghibur sang Mamah. Tak ada yang bisa dilakukannya selain hal itu.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, tanpa melepas tas maupun berganti pakaian terlebih dahulu. Rasa lelah di badan tak seberapa, dibandingkan rasa lelah di hati. Diputarnya kembali kejadian seharian ini. Hingga pikirannya terhenti pada kartu nama pemberian Tante Rose yang ia simpan. Lelah menimbang nimbang, tanpa sadar dirinya jatuh tertidur pulas.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1