![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Tok ... Tok ... Tok ...
"Boleh masuk?" Tanya Uta setelah membuka pintu ruang kerja Alber. Dirinya bertanya dengan suara setengah berbisik karena takut mengganggu Alber yang malam ini ada meeting melalui zoom.
"Always." Jawab Alber dengan senyum hangatnya. Laki-laki itu memundurkan sedikit posisi kursi tempat ia duduk, lalu merentangkan kedua tangannya. Ia ingin Uta masuk dan duduk di pangkuannya sekarang juga.
Melihat itu, Uta lantas masuk dan berjalan kearah suami tampannya. Dengan piyama super gemas, Uta lantas duduk di pangkuan Alber. Mereka berdua saling memeluk dalam diam. Menikmati sejenak kebersamaan dalam balutan pelukan.
"Jadi hari ini temanya pineapple?" Tanya Alber menepuk-nepuk punggung Uta yang masih nyaman dipelukannya. Sedari tadi Alber sudah menahan senyum, melihat kegemasan Uta dengan piyama pendek bergambar nanas-nanas kecil yang juga super cute.
"Pengennya piyama nasi tumpeng, tapi piyama gambar gitu gak ada." Jawab Uta masih pewe di pangkuan Alber.
"Uhuk ... Uhuk ... No. Jangan. Never..!! Udah pineapple paling bagus ini." Alber terbatuk saat mendengar kata tumpeng. Ingatannya melayang ke sore tadi.
Ia menjadi asisten Uta saat memasak menu nasi tumpeng untuk besok hari. Rencananya, besok Annem, Babam, Syiba dan Tibar akan merayakan kemerdekaan, dengan nonton bareng upacara di istana negara lewat TV, disusul makan bareng nasi tumpeng yang dibuat Uta Alber.
Oleh karena itu, Alber rela bekerja rodi didapur membantu Uta. Pertama kali dalam hidupnya, ia mencuci sayur-mayur, memotong ayam, sampai dengan memeras kelapa agar jadi santan, dan masih banyak lagi. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk membuat Uta senang. Tapi efeknya, ia jadi sebal mendengar kata nasi tumpeng.
"Wkwkwkwk ... Pinnepple best, bukan begitu sayang?" Uta tertawa geli mendengar jawaban Alber tadi, terlebih melihat ekspresi lucu suaminya.
"Sayang." Panggil Uta lembut, usai beberapa waktu lalu bercanda tentang tumpeng.
"Hemh ...? Kamu lagi pengen sesuatu?" Tanya Alber, menatap Uta yang menoleh melihatnya.
"Banget." Ucap Uta mengangguk dengan polosnya.
"Tumben? Apa itu?" Sontak kedua alis Alber hampir menyatu. Jarang-jarang istri simpelnya ini ingin sesuatu.
"Tapi janji dulu! Janji kalau aku kasih tau, jangan ketawa." Pinta Uta serius sungguh-sungguh.
"Janji!" Tanya Uta dengan mengacungkan jari kelingking pada Alber.
"Janji." Alber menyambut jari kelingking lentik itu.
__ADS_1
"Nah sekarang kasih tau apa itu yang kamu mau!" Pinta Alber.
"Aku mau kamu bacain aku buku sebelum tidur." Jawab Uta mengutarakan yang ia mau.
"Bacain buku?"
"Ehm ... Soalnya beberapa hari ini aku susah banget buat bisa tidur. Boleh gak?" Bujuk Uta. Ia sedikit takut Alber menolak permintaannya.
"Of course boleh sayang. Kamu mau aku bacain buku apa? Novel? Cerpen? Biografi?" Jawab Alber mengiyakan kemauan istrinya. Belakangan ini Uta memang seperti kesulitan untuk tidur. Nafsu makannya juga agak menurun, meski Uta mengatakan ingin mencoba banyak makanan. Mungkin peralihan cuaca membuat Uta jadi sedikit tak nafsu makan.
"Bentar." Tau Alber menyetujui permintaannya, Uta lansung bangkit dari pangkuan Alber. Ia lantas berlari keluar ruang kerja untuk mengambil sesuatu.
"Mau kemana sayang?" Protes Alber saat mangsanya melarikan diri.
"Wait ..." Tak lama Uta masuk kembali ke ruang kerja Alber. Ia mengambil sesuatu dari kamar mereka, yang mana kamar mereka dan ruang kerja Alber tersambung lewat sebuah pintu conecting.
Alber sengaja mendesain ruangan kerjanya menyatu dengan kamar utama, agar tetap bisa fokus namun tetap tak jauh dari Uta. Terlebih kalau ia harus mengecek proyek sampai tengah malam. Ia tetap bisa memantau Uta dengan membiarkan pintu conecting terbuka. Sehingga Uta tak merasa sendirian.
"Jeng jeng ..." Ucap Uta menunjukkan sebuah buku yang akan Alber baca nantinya.
Bagaimana mungkin? Kok bisa? *Alber
"Sayang, itu buku tentang Fisika. Kamu kan anti banget yang ada fisikanya?" Alber yang bingung bertanya sejelas mungkin. Kali saja istrinya salah mengambil buku.
"Kamu gak mau bacain aku buku ini?" Tanya Uta berubah murung.
"Bu ... bukan gitu. Dengan senang hati aku bacain buat kamu, tapi yakin bukunya yang ini?"
"Aku maunya yang ini." Ucap Uta yakin.
"Yaudah sini peluk lagi sambil aku bacain." Alber tak lagi mendebat permintaan istrinya. Meskipun ini fenomena yang membuatnya kaget tak percaya, tapi akhirnya ia luluh melihat Uta benar-benar ingin dibacakan buku fisika itu.
Uta lantas kembali duduk dipangkuan Alber. Menyederkan kepala di dada bidang favoritnya, sembari melingkarkan tangan diperut sixpack suami tampannya. Tau mangsanya sudah kembali masuk dalam dekapan, Alber lantas mencium kening Uta. Dibukanya halaman pertama buku itu, sambil satu tangan lainnya menepuk-nepuk lembut pinggang Uta, layaknya menidurkan seorang bayi.
"Sir Isaac Newton, born in 1643, was one of the most influential scientists of all time." [Sir Isaac Newton, lahir pada tahun 1643, adalah salah satu ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa.] Ujar Alber mulai membaca buku itu.
__ADS_1
"Sayang, serius dilanjut baca ini?" Tanya Alber memastikan sekali lagi.
"Emh ... Sayang tolong suaranya lebih kenceng dikit." Ucap Uta menepuk dada kekar yang menopang tubuhnya.
"Oke."
"Isaac Newton was born in 1643 in Woolsthorpe, England. His father was a wealthy, uneducated farmer who died three months before Newton was born. Newton's mother remarried and he was left in the care of his grandmother." [Isaac Newton lahir pada tahun 1643 di Woolsthorpe, Inggris. Ayahnya adalah seorang petani kaya dan tidak berpendidikan yang meninggal tiga bulan sebelum Newton lahir. Ibu Newton menikah lagi dan dia dititipkan pada neneknya.] Baca Alber dengan suara sedikit lebih kencang, seperti yang Uta minta.
..._____________ Z _____________...
"As the years progressed, Newton completed his work on universal gravitation, diffraction of ... li ...ght ..." [Seiring berjalannya waktu, Newton menyelesaikan karyanya tentang gravitasi universal, difraksi ca ... haya ...] Setelah hampir 15 menit, bacaan Alber terputus saat menyadari, Uta sudah tertidur pulas. Terdengar deru nafas yang mulai teratur dari gadis itu.
Alber tersenyum. Diletakkannya buku tersebut di meja kerja dengan hati-hati. Dipandanginya Uta yang tertidur begitu lucu dipangkuannya. Alber selalu merasa perasaannya begitu tenang setiap kali Uta didekatnya.
"I love you sayang." Ucap Alber mengecup bibir pink Uta, sebelum akhirnya menggendong lembut gadis gemas itu ke tempat tidur mereka.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.
Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa
❤ ZEROIND
__ADS_1