![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Hala okey Hala. Tuta lets go ..." Jawab putri senang karena permintaannya diizinkan oleh Halanya. Uta dan Annem tertawa seiring riangnya Putri. Mereka berdua kemudian berjalan ke arah dapur.
Setelah bertanya kepada Bi Darmi mengenai bahan yang diperlukan, beliau kemudian mengarahkan Uta dan Putri ke arah pantry penyimpanan berbagai jenis bahan makanan. Uta benar-benar tak habis pikir, ruangan pantry tersebut berisi lengkap seluruh bahan makanan.
Bahkan di dalam pantry itu terdapat keranjang bagaikan di supermarket, untuk memudahkan saat mengambil bahan-bahan masakan dalam jumlah banyak sekaligus. Luas pantry itu saja, jauh lebih besar dibandingkan kamarnya di rumah. Benar-benar istana.
Setelah bahan-bahan yang diperlukan sudah berada di keranjang, Putri dan Uta keluar pantry menuju dapur untuk mengolah bahan-bahan tersebut. Uta mengeluarkan bahan-bahan tersebut dari keranjang, lalu menaruh bahan-bahan tersebut di atas counter table atau bisa dikategorikan meja dapur.
"Okey, hari ini kita bakal bikin cookies kesukaan Tuta yang namanya 'palm cheese cookies'." Ucap Uta sedikit menjelaskan cookies apa yang akan mereka buat.
"Palm Cheese Cookies." Ucap Putri membeokan apa yang Uta barusan bilang.
"Yes, Palm Cheese Cookies. Nah gimana sekarang kita mulai bikin cookies nya. Siap?" Tanya Uta pada Putri.
"Siap." Jawabnya penuh semangat. Mereka memulai step kedua, yaitu mulai menimbang bahan-bahan sesuai dengan resep satu persatu.
"Tuta yellow ini apa?" Tanya Putri menanyakan butter dalam wadah yang berada di depannya.
"Ini namanya butter sayang. Putri baru tau butter?" Jelas Uta pelan-pelan mengenalkan bahan untuk membuat kue.
"Emh .. Tuta tapi rasanya gak manis Tuta." Seperti halnya anak-anak yang selalu punya rasa ingin tahu tinggi, Putri mencoel sedikit butter tersebut lalu mengecapnya.
"Ha .. ha .. ha .. Ya Iya dong, namanya juga butter. Butter kan bukan gula sayang." Jawab Uta pada Putri. Mereka melanjutkan timbang menimbang, sampai dengan semua bahan di resep sudah ditimbang sesuai ukuran.
"Tuta lagi?" Tanya anak itu menuang gula ke timbangan.
"Ya satu sendok lagi sayang." Ucap Uta mengarahkan dengan sabar.
__ADS_1
"Ehm .. Yummy." Sempat-sempatnya Putri mencicipi gula tersebut. Uta tertawa melihat tingkah bocah di sampingnya.
Setelah selesai menimbang segala bahan dan menaruhnya ke dalam wadah kecil masing-masing. Mulailah Uta ke step selanjutnya, yaitu mencampur bahan-bahan tersebut.
Uta mengambil alih mixer dan memberikan Putri tugas, untuk mengambilkan bahan-bahan di wadah yang sudah ia kenalkan namanya tadi. Di luar dugaan, Putri mengingat semua namanya. Anak itu benar-benar pintar dan punya ingatan yang sangat kuat.
"Duh pinter banget sih anak cantik ini. Jadi bangga banget deh Tutanya." Puji Uta atas kecerdasan Putri.
"Putli ingat Tuta." Ucapnya polos.
"Ingat banget, best deh." Ucap Uta memuji, kemudian memberikan satu jempolnya, mengakui kekuatan memori Putri. Sementara tangan lainnya masih fokus memegang hand mixer.
Setelah dirasa cukup, Uta kemudian menaruh mixer dan menggantinya dengan memakai silikon spatula, untuk mengaduk adonan lebih lanjut.
"Nah sekarang Putri bantuin Tuta yuk bulat-bulatin adonan biar cepat-cepat di masukin ke oven." Ucap Uta mengajak bocah kecil yang senantiasa berdiri di sampingnya, sambil memperhatikan apa yang ia lakukan.
"Ehm .. Tuta okey Tuta. Go .. go .." Yang diajak menjawab dengan sangat antusias. Rupanya dirinya juga merasa boring hanya melihat Uta saja, ia juga ingin ikut serta melakukan sesuatu.
"Tuta lihat Tuta." Menunjukkan dengan bangga, cookies yang telah berhasil ia bulat-bulati. Ia ingin Tutanya melihat hasil karya yang ia buat.
"Wow bagus banget. Hebat banget. Top deh." Ucap Uta bangga, membuat Putri tersenyum lebar. Anak itu senang, Tutanya bangga dengan apa yang ia kerjakan.
Bagaimana Uta tidak bangga, tangan yang masih sangat mungil itu berhasil melaksanakan apa yang ia contohkan. Sebuah adonan palm cheese cookies, kini berada di tangan mungilnya saat ini.
"Nah hasil bulat bulatannya susun di sini sayang." Diarahkannya Putri untuk meletakkan hasil kreasinya di atas nampan oven yang sudah dialasi oleh kertas loyang, agar hasil cookies tak lengket saat diangkat nanti.
Dan anak cerdas tersebut langsung meletakkan cookies ditangannya, sesuai dengan yang Uta instruksikan. Mereka berdua bekerja sama dengan baik, sampai beberapa nampan loyang terisi penuh dan segera di oven dengan suhu tertentu. Satu jam kemudian, wangi cookies sudah tercium di seisi dapur.
"Sayang kita ke dapur yuk, cookies kita kayaknya udah matang deh." Ajak Uta pada Putri di mana mereka sedang duduk di ruang keluarga tadi. Mereka berdua mewarnai buku bergambar untuk mengisi waktu kosong menunggu cookies matang. Putri yang Tak sabar menyantap Cookies yang dia inginkan, segera berdiri
__ADS_1
"Hem ... Wangi banget Ta, pasti enak deh." Ucap Annem yang merapat ke dapur karena wangi cookies yang menguar.
"Annem mau coba? Mudah-mudahan rasanya enak ya An." Melihat Annem menghampiri mereka ke dapur, Uta otomatis menawarkan cookies yang telah siap disantap untuk dicicipi oleh beliau.
"Hala enak Hala?" Tanya Putri ikut penasaran cookies buatannya enak atau tidak.
"Enak banget Put, Ta. Duh pecah di mulut, begitu dimakan langsung meleleh." Ucap beliau jujur memberikan testimoni.
"Yey ... Tuta cookies kita belhasil Tuta. holeee." Mendengar itu Putri sontak teriak kesenangan.
"Kamu berbakat baking deh Ta. Rasanya enak banget. Kelihatannya simple, tapi rasanya juara. Kejunya kerasa, manisnya pas, wangi juga, gurih dapet dari keju dan yang paling penting itu langsung pecah di mulut. Duh bisa khilaf Annem kalau begini." Ucap Annem yang kembali mengambil sepotong cookies lagi dari dalam toples.
"Ah Annem pujiannya terlalu banyak, tapi syukur deh kalau Annem suka, lega Uta jadinya. Ini semua karena dibantuin sama Putri si anak cerdas. Iya kan sayang?" Ucap Uta yang tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Tak lupa ia memberikan credit title atas performa bocah pintar itu.
"Iya dong, kesayangannya Hala gitu loh. Iya kan sayang?" Jawab Annem memuji anak dari mendiang adiknya.
"Benal." Jawab anak itu pede. Lengkap dengan ekspresi super pede atas kinerja bagusnya. Membuat Annem dan Uta tak bisa tak tertawa.
"Tapi kok kayaknya Annem pernah cobain rasa ini. Tapi di mana ya? Duh kok gak inget gini Annem." Ucap beliau berusaha mengingat-ingat setelah mencicipi cookies kedua kalinya.
"Oh iya An?" Jawab Uta menanggapi ucapan beliau. Annem benar-benar berusaha mengingat dimana ia pernah mencoba rasa ini.
"Ah ingat sekarang, kayaknya Annem pernah nyobain cookies yang rasanya mirip banget sama ini. Kalau gak salah, cookies yang Alber bawa sepulang sekolah waktu awal dia baru masuk. Seingat Annem bentuknya juga persis kayak gini. Atau jangan jangan ... ? Jangan jangan itu cookies buatan kamu Ta?" ucap Annem menatap Uta dan palm cheese cookies secara bergantian untuk memastikan.
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
❤
ZEROIND