![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Dua Minggu sudah Uta di Jakarta. Ia berangkat bersama Alber dan Baris dari Padang Panjang menuju Jakarta kala itu. Uta terlebih dahulu ke Jakarta untuk mengurus persiapan pernikahan.
Rencananya Mamah Celine, Tama dan Reta baru akan terbang ke Jakarta H-3 dari tanggal acara. Hal itu dimaksudkan agar Mamah Celine dan Reta tidak kelelahan. Selain itu, biarlah Tama menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Sebentar lagi ia akan menetap di Jakarta untuk kuliah.
Satu yang Uta syukuri, Alber tak mempermasalahkan hal itu. Laki-laki itu justru mendukung keputusan Uta. Keluarga Alber juga begitu. Mereka tetap antusias mempersiapkan kebutuhan pernikahan, walau calon besannya tak berada di Jakarta. Hanya kadang berdiskusi lewat video call saja.
Selama dua Minggu ini, Uta dan Alber wara-wiri memenuhi checklist persiapan pernikahan. Hal yang Uta tidak kira adalah, Annem dan Syiba yang jauh lebih bersemangat membantu mengurus banyak hal. Mulai dari gedung, sampai dengan undangan.
Beberapa kali Alber tak bisa menemani Uta karena ada meeting penting, malah menjadikan ajang para ladies seru-seruan.
Uta begitu bersyukur calon mertua dan dan kakak iparnya mesupport dirinya. Rasanya penat mengurus pernak-pernik pernikahan, tak terlalu terasa karena bantuan Annem dan Syiba. Terlebih Annem yang selalu punya link koneksi dan Syiba yang menjadi pawang Annem, saat beliau mulai heboh berlebihan.
..._____________ Z _____________...
Khusus hari ini berbeda. Sedari pagi, Uta dan Alber sudah menempuh perjalanan jauh menuju Sukabumi. Mereka sengaja ke kota itu untuk sebuah tujuan.
"Assalamualaikum Pah. Papah apa kabar disana?" Ucap Uta membelai nisan sang Ayah. Alber ikut duduk berjongkok menemani calon istrinya itu.
Ya, Papah Uta sudah berpulang satu tahun setelah mereka pindah. Papah Uta menjadi luntang-lantung karena terlilit hutang, akibat tak berhasil membawa Uta ke tuan tanah yang sudah mengirimkan uang pada beliau.
Karena tak bisa mengembalikan uang tuan tanah, Papah Uta harus menyembunyikan diri dari anak buah tuan tanah yang mengejarnya.
Namun naas, persembunyian beliau terendus. Papah Uta dihajar habis-habisan oleh anak buah tuan tanah, lalu ditinggalkan di rumah tak berpenghuni.
Tiga Hari kemudian, orang sekitar menemukan Papah Uta sudah tak bernyawa. Warga lalu membawanya ke puskesmas terdekat. Dokter puskesmas menduga, Papah Uta meninggal karena kehabisan darah.
Kabar kematian itupun sampai di telinga Mamah Celine lewat Bu Nani, mantan pegawainya dulu.
Bu Nani tau hal itu dari suaminya. Salah seorang teman suami bu Nani bekerja di puskesmas, tempat Papah Uta dibawa. Beliau mengatakan, ada korban meninggal di kota sebelah yang beralamatkan, tak jauh dari rumah bu Nani. Beliau lantas mengirimkan foto identitas korban.
Suami bu Nani langsung mengenali nama yang tertera di KTP. Beliau langsung memberi tahu sang istri. Bu Nani yang memang masih terhubung dengan Mamah Celine lewat e-mail, lantas memberi kabar ke Mamah Celine mengenai kondisi yang terjadi.
Mamah Celine kemudian terbang langsung ke Sukabumi hari itu juga, untuk mengurus penguburan suaminya itu. Namun beliau tak mengikut sertakan kedua anaknya.
"Pah, Ini Uta Pah. Uta datang." Ucap Uta berurai air mata. Alber merangkul Uta, menguatkan gadis itu.
"Uta datang sama Alber. Calon suami Uta." Ucap gadis itu menoleh pada Alber.
__ADS_1
"Assalamualaikum Om." Ucap Alber memegang gundukan tanah di hadapannya.
"Perkenalkan saya Alber Om. Calon suami Uta, putri cantik Om Roy."
"Alber mau minta izin sama Om. Minggu depan Alber sama Uta akan menikah. Alber mau minta restu sama Om Roy." Ucap Alber menggenggam tangan Uta. Gadis itu masih terus menangis dalam diam.
"Alber janji akan menjaga putri Om. Alber akan perlakukan Uta sebaik yang Alber bisa. Gak akan Alber sia-siain sampai kapanpun."
"Mungkin raga Om sudah tak bersama kami, tapi Alber yakin Om pasti melihat dan mendengar kami. Alber harap Om merestui jalan kami."
"Pah ... Maafkan segala kesalahan Uta. Maaf kalau Uta bikin Papah kecewa. Maaf." Ucapnya, mengingat Papahnya kecewa dan tak menginginkan anak perempuan.
"Uta mau bilang, yang lalu biarlah berlalu. Terima kasih sudah merawat Uta. Uta bisa sampai di titik ini, karena jasa Mamah dan Papah. Terima kasih Pah." Sebuah senyum terukir diwajahnya yang masih berderai air mata.
"Pah ... Uta mau minta restu dari Papah. Restui Uta menikah dengan laki-laki yang Uta pilih. Restu Papah sangat beharga untuk Uta dan Alber." Tatapnya sedih gundukan itu. Uta sadar sang Papah tak akan ada disaat dia menikah nanti.
Mereka lalu membacakan doa untuk Almarhum Papah Uta. Tak lupa Uta dan Alber menyiramkan air dan mebaburkan bunga di seluruh permukaan kubur. Uta sempat memeluk nisan sang Papah bagai sedang memeluk pemiliknya.
"Pah ... Uta sama Alber pamit ya Pah. Papah yang tenang ya disana. Uta, Tama dan Mamah akan selalu mendoakan Papah." Ucap Uta sebelum mereka kembali ke Jakarta.
_____________ Z _____________
"Muka kamu kok kayaknya murung. Capek banget yah?" Tanya Uta sesampainya mobil mereka di depan rumah Uta. Pasangan kekasih itu masih belum turun dari mobil. Hanya diam menatap jalan kosong di depan.
"Lalu?" Tanya Uta.
"Kenapa sih Ta, mesti pake dipingit segala?" Ucap Alber protes. Ternyata alasan wajah tampan itu ditekuk, karena mereka akan dipingit alias tak boleh bertemu, 1 minggu kedepan. Itu adalah permintaan khusus Mamah Celine. Alber merasa tak rela seminggu kedepan tak bertemu Uta.
"Iya ya, kenapa mesti ya?" Ucap Uta mengiyakan saja dulu ucapan Alber. Ia tahu laki-laki di sampingnya sekarang sedang gundah, karena mereka akan dipingit.
"Zaman sudah berubah. Sudah jauh lebih modern karena globalisasi. Mestinya gak usah lah pakai dipingit lagi." Alber masih belum terima, sampai bawa-bawa zaman. Uta yang mendengarnya, mati-matian menahan tawanya di dalam hati.
"Betul." Ujar Uta kembali membenarkan.
"Budaya Turki juga gak ada tradisi pingit Ta." Kini ia membawa-bawa Turki, membuat Uta semakin ngakak dalam hati.
"Makanya itu." Ucapnya dengan ekspresi dibuat sedih. Alber menarik nafas dalam sembari melihat jalan di depan.
Panas pemirsah. Negara api sedang menyerang. *Uta
__ADS_1
"Alber ..." Panggil Uta.
"Hemh ...?" Alber menoleh melihat Uta.
"Sebenarnya kata Mamah gak papa gak dipingit." Ucap Uta membuat wajah bete Alber langsung berganti senyum ceria.
"Tapi nikahnya akhir tahun depan." Lanjut Uta menyelesaikan kalimatnya.
"Dipingit yang terbaik." Ucap Alber tiba-tiba berubah haluan 180 derajat. Uta mati-matian menahan tawa.
"Aku suka dipingit. Tradisi best ini." Tambah laki-laki itu lagi.
"Gitu?" Tanyanya dengan muka dibuat seolah sedang bingung.
"Gitu." Ucap Alber lalu memeluk Uta. Ia sudah pasrah menerima tradisi pingit ini. Ia lebih tak siap jika pernikahan sampe diundur 1 tahun lamanya. Jangan. Diundur sehari pun jangan.
Uta hanya menurut saat Alber memeluknya sekarang. Ia bisa tersenyum lebar dibalik tubuh Alber. Percakapan ini terlalu lucu buat Uta.
"Kita harus menghargai tradisi dan meneruskannya. Gak boleh sampe punah." Ucap Alber lagi, sengaja memberikan pengertian agar Uta mengerti. Meskipun sebenarnya itu tertuju untuk dirinya sendiri.
"Amazing banget calon suami aku. Masya Allah." Jawab Uta menepuk-nepuk punggung Alber sambil terkekeh.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.
...Novel+Cookies \= ...
__ADS_1
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤ ZEROIND