Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
122. Surabaya


__ADS_3

Author POV


Seminggu sudah Uta dan Alber berpisah kelas. Walau kelas tak sama, Uta dan Alber tetap saja tetap saling kontak. Alber selalu istirahat ke kelas Uta. Ia sengaja membawa banyak makanan dan cemilan, agar bisa istirahat dengan Uta, tapi tanpa dicurigai oleh anak-anak yang lain.


Salah satu caranya adalah, mengajak Seto dan Sandi menikmati makanan dan cemilan yang ia bawa. Dengan kata lain mereka berempat makan bareng. Dengan begitu, benar saja anak-anak tidak curiga pada dirinya, yang setiap hari mendatangi kelas si gadis dasi.


Hingga hari Sabtu pun tiba. Namun Sabtu kali ini terasa berbeda. Uta yang sedang menjaga Putri di halaman belakang, mencoba menghibur bocah kecil itu. Bocah gemas yang sangat ia sayang itu, hari ini hatinya sedang mendung. Bahkan keberadaan Lele, tak berhasil mencerahkan hati mendung itu.


"Sayang ..." Ucap Uta lembut sembari membelai rambut Putri. Bocah itu tak menjawab, hanya tetap memasang wajah menunduk sedih.


"Sayangnya Tuta, sudah ah sedih-sedihnya." Ucap Uta lagi. Ia juga ikut sedih melihat Putri tanpa semangat seperti ini.


"Kan kita masih bisa ketemu nanti." Bujuk Uta dengan sabarnya.


"Tuta, tapi sekalang Putlinya jauh. Putli sama Tuta gak bisa lagi ketemu setiap hali libul." Ucapnya sedih menatap Uta. Mendengar itu, gantian Uta yang terdiam sedih.


Flashback starts

__ADS_1


"Assalamualaikum." Ucap Uta, memasuki ruang makan rumah megah Alber.


"Waalaikumsalam." Jawab Babam, Annem, Syiba dan Latifah alias Bundanya Putri bersamaan. Hanya Alber dan Putri yang tak tampak di sana. Dengan sopan Uta salim, pada empat orang yang lebih tua darinya di meja makan itu.


"Uta ayok sarapan dulu bareng-bareng." Ajak Annem dengan ramah, seperti biasa.


"Uta sudah sarapan tadi An. Uta langsung ke Putri aja. Putri dimana ya An?" Ucap Uta menolak halus, karena memang tadi ia sudah sarapan sebelum berangkat kerumah Alber.


"Putri di taman belakang sama Alber. Uta duduk dulu sini. Ada yang Annem sama Bundanya Putri mau bicarakan ke Uta, tapi abis sarapan. Boleh?" Ucap Annem dengan mimik serius. Seketika suasana terasa berbeda, tak sesemangat seperti biasanya


"I ... Iya Annem." Ucap Uta kemudian. Ia akhirnya duduk menurut sesuai yang Annem bilang. Ia memilih memakan buah, agar tak menimbulkan kecanggungan sementara yang lain makan.


"Jangan gugup, Annem sama Bunda Putri cuma mau ngobrol sedikit sama Uta." Ucap Annem yang mengerti apa yang Uta khawatirkan.


"He ... he ... he ... Keliatan banget ya An? Uta cuman khawatir, kalau-kalau ada buat salah pas ngejagain Putri." Ucap Uta jujur mengutarakan apa yang ia cemaskan sedari tadi.


"Enggak sama sekali Ta. Justru Kak Tifah lega Putri di jagain Uta." Ucap Bunda Putri, membantah kekhawatiran Uta sepenuhnya.

__ADS_1


"Ehm ... Terus Kak Tifah sama Annem mau bicara apa ke Uta?" Tanya Uta kemudian. Tanpa Uta duga, Annem menggenggam lembut telapak tangannya. Beliau mencoba menyalurkan ketenangan, lewat genggaman itu.


"Seperti yang Uta tahu, Kak Tifah sekarang sendiri. Ayahnya Putri udah enggak ada. Kak Tifah harus berdiri sebagai Ibu, sekaligus tulang punggung untuk keluarga kecil Kak Tifah." Ucap Latifah, mulai membuka percakapan. Secercah perasaan iba, menggelayut di hati Uta.


"Beberapa proyek perusahaan peninggalan Ayahnya Putri, mengharuskan Kak Tifah untuk lebih aktif di Surabaya, untuk beberapa waktu ke depan. Kak Tifah mungkin gak akan bisa bolak-balik Surabaya-Jakarta, seperti beberapa bulan belakangan ini." Ujar beliau lanjut.


"Ditambah lagi Putri, tahun depan akan sekolah. Sebagai Ibu, Kak Tifah juga pengen fokus menemani Putri, di masa-masa sekolah dia. Bagaimanapun, bonding antara ibu dan anak, harus sesering mungkin dibangun." Ucap beliau lagi.


"Oleh karena itu, Kak Tifah udah mikirin matang-matang segala sesuatunya. Kak Tifah mutusin untuk pindah ke Surabaya bersama Putri." Ucap Bunda Putri dengan berat hati.


DEG ...


Bersambung ............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2