![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Alber sedang mengeringkan rambut Uta dengan hair dryer. Ia sedang membujuk istrinya yang tadi sempat mendemonya.
Uta yang kaget diserang kembali oleh Alber di kamar mandi, kembali harus kaget saat melihat tubuhnya di cermin. Tubuh mulusnya dipenuhi jejak cinta Alber.
"Sayang ..." Ucap Alber masih mengeringkan rambut Uta, yang masih setengah kering.
"Stop, boleh ngomong 10 menit lagi." Ucap Uta melarang suaminya bicara lewat cermin dihadapannya. Uta sedang duduk di meja rias kamar mereka. Ia yang masih memakai bathrobe, kini sibuk membalurkan pelembab dan krim wajah tipis-tipis di kulit mulusnya.
Predator tampan itu sedang dihukum oleh istrinya. Alber tak boleh bicara dan dilarang menyentuh Uta selama 30 menit. Hal itu karena dirinya sangat-amat syok dengan hasil karya Alber ditubuhnya.
Tapi bukan Alber kalau tidak bisa menawar. Alber yang tentu saja tak rela, jika 30 menit tak menyentuh istrinya, mengatakan akan membantu Uta mengeringkan rambut. Hanya rambut, bukan bagian tubuh yang lain. Mendengar alasan Alber, Uta akhirnya menyetujui.
"Tapi cinta, kita kan ..." Tawar Alber sekali lagi, namun Uta menggeleng sambil menatapnya di cermin.
"Heeaahhhh ..." Alber mau tak mau mengalah. Ia hanya pasrah melanjutkan meng-hair dryer rambut indah itu.
Meski sedang dihukum, tapi hatinya tetap senang berbunga-bunga. Hatinya bermekaran karena dirinyalah yang menjebol keperawanan Uta. Ia bersyukur karena bisa memperistri perempuan yang bisa menjaga kehormatannya sampai halal menjemput. Mereka sama-sama yang pertama untuk satu sama lain. Senyum terus terukir di wajah tampannya.
Sementara Alber dengan dunianya, Uta lanjut membubuhkan sedikit make up di wajah yang sudah ia lembabkan terlebih dahulu. Ia merasa tampil cantik dan enak dipandang justru yang utama di hadapan suami. Minimal, ia tidak boleh kucel.
Merasa rambut Uta telah kering sempurna, Alber mematikan hair dryer. Karena masih dalam masa hukuman, Alber hanya memberikan kode finish, lewat tangannya di depan cermin. Uta juga sama. Alih-alih bersuara, ia hanya mengangguk menjawab kode suaminya.
__ADS_1
Uta lalu bangkit dari tempat duduk, untuk berganti pakaian di kamar mandi. Bahaya jika menggantinya di dekat predator. Bisa-bisa ia disantap untuk ketiga kalinya saat ini juga.
Uta ingin sarapan, karena perutnya meronta-ronta minta diisi. Dirinya lantas memakai baju dengan tipe turtle neck, alias pakaian dengan model kerah bagian leher yang menjulang tinggi. Pakaian yang awalnya ia bawa hanya untuk jaga-jaga, kalau kisah dibanyak novel sekiranya benar. Kini benar-benar menjadi penolongnya, agar lukisan Alber tak terlihat.
Dipakainya baju turtle neck tanpa lengan bewarna kuning mustard itu. Tak lupa ia padu padankan dengan rok span selutut dengan warna sama persis. Rencananya, ia akan memakai cardigan panjang jika keluar dari kamar.
Baju turtle neck saja tak cukup. Jejak cinta Alber bahkan terukir dikedua lengannya. Maka dengan terpaksa, cardigan menjadi opsi wajib.
Dirapikannya rambut lurus miliknya dengan sisir. Lalu menyemprotkan sedikit parfum agar tetap wangi. Terakhir mengoleskan sedikit liptint dibibir mungilnya.
Merasa sudah rapi, Uta lalu keluar dari kamar mandi. Ia mati-matian menahan tawa melihat suaminya. Alber yang sudah rapi memakai baju santai dengan warna sama persis dengannya, kini duduk diam di tempat tidur. Predator buasnya sekarang bagai seekor anak kucing.
Aaaaaaa ... Gimana mau marah lama, kalau lucu begini. *Uta
"Sayang ... Hukuman aku udah selesai. Please lah, bolehin aku peluk." Ucap Alber berdiri dan langsung merentangkan tangannya.
"Ahhhh .... Akhirnya udah boleh peluk. Sayang jangan marah lagi." Ucap Alber menciumi wajah cantik itu. Uta hanya membiarkan suaminya menciumnya. Kedua tangannya hanya melingkar erat di pinggang pria tampan itu.
"Aku gak marah." Jawab Uta usai Alber menyudahi aksinya.
"Lalu?" Tanya Alber masih memeluk Uta erat.
"Aku cuman kesel. Gimana nanti kalo yang lain lihat badan aku? Udah pasti Kak Syiba sama Reta bakal ngeledekin aku habis-habisan." Jawab Uta dengan ekspresi khawatir, membayangkan jejak cinta Alber ketahuan orang lain.
__ADS_1
Melihat ekspresi panik Uta, membuat Alber gemas luar biasa. Diciumnya pipi mulus itu dengan gemas.
"He ... he ... he ..." Ia tak dapat menyembunyikan tawa, melihat tingkah manja, lucu, tapi juga tegas istrinya itu. Semua campur jadi satu. Gemas.
"Jadi kalo yang lain gak tau, gak apa-apa?" Goda Alber pada gadis yang ia peluk. Uta lantas mengangguk, lalu cepat-cepat menyembunyikan wajahnya karena malu.
"He ... he ... he ... Gimana aku gak buas melukis, istri aku cantik gemas begini." Ucap Alber membelai rambut indah Uta.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cheese Palm Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode diatas.
__ADS_1
Novel+Cookies \= Experience Yang Luar Biasa
❤ ZEROIND