![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Aduh asik banget sih ini. He .. he .. he .. Tapi udah sore nih sayang. Tutanya mesti pulang dulu, besok dilanjut lagi ya sayang." Ucap Annem kepada keponakan mungilnya ini. Tentu saja Putri yang tadi tertawa ceria mendadak diam. Mungkin ia merasa sedih, sebab ia merasa hari ini mendapat teman main senada seirama. Putri yang sedih kemudian memeluk Uta.
"Tuta mau pulang?" Ucap Putri sedih menatap Uta.
"Iya boleh gak? Tapi besok kesini lagi ketemu Putri pagi-pagi. Gimana? Boleh?" Uta yang tahu perasaan sedih Putri mulai membujuk anak mungil di hadapannya.
"Boleh, tapi Tuta mesti plomise dulu." [Promise : janji] Ucap Putri menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Uta.
"Janji, janji, janji. Sekarang boleh pulang Tutanya?" Ucap Uta sembari mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking paling mungil di situ.
"Boleh." Merasa Tutanya sudah berjanji maka Putri membolehkan Uta pulang.
"Ya udah Ta, Uta pulang diantar sama sopir Annem aja ya, gak usah naik ojek." Ujar Annem bermaksud gadis itu tak usah susah-susah naik ojol untuk pulang ke rumah.
"Gak usah An, Uta naik ojek aja An. Lagian belum malam juga An, masih keburu kok An." Tolak Uta sehalus mungkin agar Annem tidak tersinggung.
"Pergi dulu An." Alber yang dari tadi hanya menjadi penonton meraih jasnya dan berjalan mendekat ke arah Annem, kemudian mencium pipi ibunya sebelum berlalu jalan ke arah luar rumah.
"Mau kemana Ber?" Tanya Annem yang bingung, karena Alber tiba tiba meminta izin keluar.
"Antar Uta An." Jawab Alber yang masih tetap berjalan dengan santainya. Lain halnya dengan Uta yang mendengar jawabannya tersebut. Gadis itu terdiam bengong karena bingung siapa yang Alber maksud. Masa iya dirinya, pikirnya dalam hati.
"Sayang kok malah bengong. Buruan, itu Alber udah ke parkiran. Susul sana Ta!" Ucap Annem memecah kebengongan yang terjadi pada Uta. Annem bahkan mendorong pelan bahu Uta, agar gadis itu berjalan menyusul Alber yang sudah duluan ke depan rumah.
__ADS_1
"Tapi Annem." Uta berusaha menolak. Ia merasa tak enak karena Alber harus mengantarnya pulang. Ia benar-benar bisa saja menaiki ojol ataupun busway dan Alber tidak perlu repot-repot mengantarnya pulang.
"Udah jangan pakai tapi tapi, mumpung pak sopir Alber mau nganter. Udah sana Ta, rezeki jangan ditolak." Bagai tak mendengar protes Uta, Annem terus saja mendorong Uta sampai dengan ke depan rumah.
Melihat Alber sudah duduk di kursi kemudi dengan kondisi mesin mobil menyala, Uta akhirnya buru buru berpamitan dengan Annem dan Putri yang sedang digendong oleh Annem. Ia lalu kemudian naik ke dalam mobil sport hitam milik Alber. Mobil itu perlahan melaju meninggalkan istana megah milik keluarga Farabaks.
"Alber ngapain pake nganterin gue segala." Ujar Uta membuka obrolan pertama di mobil.
"Aku." Ucap Alber mengkoreksi kata gue dari Uta.
"Iya maksudnya ngapain kamu nganterin aku pulang?? Aku bisa pulang pakai busway atau ojol." Mendapat koreksian tersebut, Uta mengulangi aksi protesnya sekali lagi.
"Kenapa enggak?" Jawab Alber pendek dengan balik bertanya.
Kruyuuukkk ... Kruuyuukkk ...
Bunyi perut Alber yang sedang keroncongan terdengar jelas di antara mereka berdua.
"Duh makin gak enak deh jadinya." Ucap Uta sungguh-sungguh tak enak, karena Alber mengantarnya pulang dalam kondisi perut lapar.
Benar saja jika diingat-ingat lagi, Alber langsung bergabung dengannya dan Putri mewarnai buku bergambar segera setelah dirinya pulang dari urusan di luar. Alber bahkan tidak mengganti setelan jasnya dengan pakaian rumah.
"Nah berhubung kamu ngerasa gak enak, kita singgah makan dulu kalau gitu." Kedua sudut bibir Alber tertarik ke atas. Dengan santainya ia mengucapkan hal tersebut, membuat Uta lantas menoleh ke arah dirinya.
"Eh ... kok gitu? Maksud aku kan bukan gitu?" Protes Uta kembali dengan menyilangkan kedua tangannya, pertanda ia tidak setuju. Tapi Alber tetaplah Alber, di mana si ahli dunia tipu-tipu kembali beraksi. Si hitam melaju berlawanan arah dengan jalan pulang ke rumah Uta, hingga akhirnya terparkir di parkiran sebuah Mall.
__ADS_1
Alber mengajak Uta ke salah satu restoran sedang hype yang menawarkan menu masakan ala Jepang. Usut punya usut tempat tersebut rekomendasi dari Syiba yang sudah terlebih dahulu merantau dikota ini. Bahkan Syiba menjamin disana hampir seluruh menunya super enak, membuat Alber tak berpikir dua kali untuk kesana.
Sepanjang jalan mulai dari parkiran sampai dengan masuk ke dalam restoran, orang orang tak henti melirik mereka berdua. Bagaimana tidak, ia berjalan dengan Alber yang dengan penampilan baju biasa saja tampannya luar biasa. Kali ini laki-laki itu memakai setelan jas yang sangat pas di tubuhnya yang atletik. Sudah tentu akan menjadi pusat perhatian terkhusus kaum hawa. Sedari tadi kaum hawa tidak ada yang tidak terpesona dengan Alber.
Berbanding terbalik dengan respon orang terhadap dirinya yang berada di dekat Alber. Saat mereka duduk berhadapan di salah satu meja, beberapa remaja perempuan yang lain saling berbisik sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Hal itu membuat Uta menjadi tidak nyaman.
Ia yang memang insecure dan tak suka mendapat attention dari banyak orang, membuatnya seketika menjadi gugup dan kagok. Gadis itu lebih banyak menundukkan kepala dan memilih tak banyak bicara.
Sampai tibalah makanan yang Alber pesan datang satu persatu di meja. Bahkan pelayan wanita yang menganter pesanan mereka sampai salah tingkah, melihat ketampanan Alber. Untung saja ramen yang diantarnya tak sampai tumpah. Pelayan wanita itu langsung tersenyum selebar lebarnya saat Alber mengucapkan terima kasih karena sudah mengantar makanan mereka.
"Apa kamu kurang nyaman? Mau pindah aja ke restoran lain?" Tanya Alber menyadari Uta yang agak tidak nyaman. Bahkan sampai makanan diantarkan ke meja mereka, gadis itu terus menunduk.
"Eh ... gak usah!! Ini aku mau makan." Uta yang sedari tadi menundukkan kepala langsung menoleh menatap Alber untuk menggeleng menolak. Dirinya juga langsung menyambar sendok untuk mencicipi kuah ramen yang lezat itu.
Uta tak ingin berpindah restoran, sebab makanan yang terhidang jatuhnya akan mubazir. Di tempat lain pun kemungkinan besar orang-orang akan bereaksi seperti itu. Jadi percuma saja pindah restoran. Selama masih berjalan bersama Alber, reaksi khususnya kaum hawa rasa-rasanya pasti akan seperti itu.
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
ZEROIND
__ADS_1