Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
112. Fix


__ADS_3

Lanjutan Flashback


Alber POV


Satu jam sudah aku melakukan olah tubuh dengan berbagai alat-alat di ruang gym. Meskipun sedikit berat berolahraga saat perut kosong, tapi ini lebih mending daripada kikuk bertemu Uta.


Kuputuskan untuk mandi dan membersihkan diri. Aku ingin bertemu Uta dengan tampilan yang lebih segar. Saat menuju kamar, samar-samar ku dengar suara heboh Abla dan Annem. Kupikir biasalah, cewek kalau sudah berkumpul maka heboh tak mungkin terhindarkan.


Suara ketukan pintu yang terdengar berkali-kali, mengganggu aku yang baru selesai mandi. Dengan masih memakai handuk di pinggang, kubuka pintu kamar.


"Abla?? Apaan sih ribut-ribut." Protesku pada Abla, pelaku yang sedari tadi mengetuk pintu.


"Buruan turun, ada tamu penting." Ucap Abla, kemudian langsung melengos pergi. Aku sampe terheran-heran dengan kakakku satu itu.


"Gak jelas." Kataku menutup pintu, kemudian menuju ke walking closet untuk berpakaian. Kata-kata Abla seolah menguap begitu saja, lagian Abla tak menyebut tamu penting itu siapa. Jadi kupikir, mungkin tak penting-penting amat.


Kupilih kaos rumahan dan celana selutut yang santai. Baru akan mengeringkan rambut, terdengar kembali sebuah ketukan pintu sopan. Meski tak se bar bar tadi, tapi tetap saja mengganggu aktivitasku. Dari suara ketukan pintunya, bisa ku prediksi kemungkinan ini karyawan rumah.


"Ada apa Bi?" Benar dugaan ku, kali ini rupanya Bi Darmi yang mengetuk.


"Maaf tuan, Tuan besar memanggil tuan muda, untuk ke ruang keluarga. Beliau minta segera tuan." Tutur beliau menyampaikan perintah dari Babam.


"Ya saya kebawah sekarang Bi." Jawabku pada beliau. Aku langsung menyetujui hal itu, karena Babam tak akan memanggil jika tak ada yang penting.


Kuputuskan langsung turun dan menuju ruang keluarga seperti yang Bi Darmi sampaikan. Saat melewati ruang makan, kulihat Uta dan Abla sedang menikmati makanan sambil bercanda. Karena rasa gugupku, aku langsung melewati ruang makan menuju ruang keluarga tanpa menyapanya.


Saat memasuki area ruang keluarga, kulihat Putri sibuk mencari-cari sesuatu di laci DVD, sementara Annem dan Babam sedang bicara seorang perempuan. Terkecuali Putri, 3 orang lainnya menoleh ke arahku. Aku kaget karena perempuan itu adalah Ayleen. Kenapa dia bisa disini? Apa yang dia bicarakan ke Annem dan Babam? Apa ini yang Babam maksud penting?

__ADS_1


"Hai Ber." Kata Ayleen, melemparkan senyum padaku.


"Ayleen?" Aku benar-benar kaget, kenapa bisa ada Ayleen di rumah?


"Ya, aku Ayleen." Jawabnya dengan sedikit tertawa kecil. Mungkin dia merasa perkataan ku lucu.


"Kenapa kamu bisa disini?" Tanyaku to the point.


"Aku rencananya pindah sekolah ke sini Ber, jadi mulai dari liburan sekolah, aku tinggal di Jakarta buat adaptasi. Kan aku udah kasih tau kamu lewat AppWhats, tapi kayaknya kamu belum read pesan aku." Jawabnya memberi tahu alasan ia disini. Apa lagi ini?


"Alber, kamu temani Ayleen melihat apartemen kita. Kalau Ayleen nyaman, biar dia tinggal sementara disana." Titah Babam padaku, sebelum aku sempat bertanya alasan Ayleen pindah sekolah di Jakarta. Bukankah di Bali juga banyak sekolah yang bonafit.


"Tapi Bam ..." Aku sedikit merasa keberatan pada titah Babam, tapi beliau seperti biasa, tak mendengar bantahan.


"Sekalian nanti, sempatkan untuk mengecek renovasi rumah Ayleen yang rencana mau ditempati. Nanti laporkan sama Babam hasilnya." Titah beliau lagi, malah memberikan tugas tambahan yang tak kuharapkan.


Dengan segala kesal, aku mau tak mau mengiyakan titah Babam. Kulihat Ayleen tersenyum senang, membuatku entah kenapa sedikit merasa kesal. Aku meninggalkan mereka yang masih lanjut berbincang.


Kakiku melangkah ke ruang makan tempat dimana Abla berada, aku ingin mencari tau informasi yang Abla punya tentang peristiwa pagi ini. Bukannya mendapat informasi, Abla malah merecokiku dengan kehadiran Ayleen.


"Cieh ... cieh ... Yang hatinya lagi berbunga-bunga Ayleen dateng." Ucap Abla dengan wajah jahilnya.


"ABLA!!" Spontan aku meneriakkan namanya, agar Abla berhenti bicara yang tidak-tidak. Bukan apa-apa, Uta ada disana. Aku tak ingin Uta berpikiran, aku punya hubungan spesial dengan Ayleen.


"Apa?? Rejeki nomplok tuh, pake disuruh Babam lagi temenin Ayleen hari ini. Kan jadi bisa beduaan Ber." Seolah tak peduli, Abla kembali menggoda aku. Berduaan apanya? Alamat Uta beneran salah paham kalau begini.


"Abla apaan sih.!!! Pagi-pagi bikin kesel." Protesku kesal. Kulihat Uta diam menunduk, aku makin khawatir ia sudah salah paham.

__ADS_1


"Wkwkwkkwk, kesel karena kamu terlalu gugup ya??" Ujar Abla makin menjadi-jadi. Gugup apa lagi ini maksudnya? Yang ada, aku gugup Uta mikir aku suka Ayleen.


"Ngaco!! Gak bener sama sekali tau gak!!" Bantahku pada Abla. Kali ini serius menegaskan, bahwa itu tak benar sama sekali.


"Ya udah buruan sana siap-siap, entar Babam marah kalo di tunda-tunda. Yang ganteng pokoknya, biar Ayleen klepek-klepek." Ucap Abla makin menjadi-jadi. Cobaan apa lagi ini? Abla benar-benar tak mendengar protesku.


"Gak lucu tau gak!!" Sangkin kesalnya, aku minum air untuk meredakan deg-degannya hatiku sekarang.


"Wkwkwkwkkwkwk." Abla tertawa sengakak-ngakaknya. Benar-benar puas mengobrak-ngabrik perasaanku pagi ini. Uta bahkan tak menatapku. Aku benar-benar bingung, bagaimana meluruskan omongan Abla pada Uta.


Ditengah kebingungan itu, bocil datang mengajak Uta pergi, membuatku semakin bingung. Bagaimana ini? Aku tak tau Uta sudah salah paham, atau tidak sama sekali mengambil hati ucapan Abla tadi.


Kulihat bocil yang tak sabar, menarik tangan Uta untuk pergi mengikutinya. Saat ia akan berjalan melewatiku, ia mengucapkan kata-kata yang menjawab pertanyaan yang berseliweran di benakku.


"Alber semangat, jangan gugup." Ucapnya.


DEG


Hatiku terasa nyilu, saat Uta berkata seperti itu. Fix, dia sudah salah paham tentangku.


Bersambung .............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2