Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
58. Malu


__ADS_3

Author POV


Reta sedang berdiri di depan cermin, dalam rangka memilih baju paling oke dari beberapa baju yang ada di lemarinya. Dari sekian banyak baju yang sudah ia coba, pilihan jatuh kepada sebuah dress berwarna teracota setinggi lutut. Selesai urusan perdress-an, ia kemudian beralih memoles wajahnya dengan sedikit make up.


Reta yang biasanya memang tak terlalu terobsesi dengan make up, hanya memakai make up sangat-sangat tipis. Make up ia pergunakan hanya untuk terlihat lebih segar dan tak seperti orang baru bangun tidur.


Tak banyak banyak, cukup pelembab untuk menghidrasi kulitnya yang agak kering. Disusul dengan BB cream yang mengandung SPF 50 PA++++. Setelah BB cream rata, di tambahkannya sedikit concealer di area bawah mata. Tipis aja, yang penting mata pandanya agak tersamarkan.


Setelah itu barulah bedak tabur ia kuaskan secara merata di wajahnya. Sedikit sapuan blush on warna peach di kedua pipinya. Dan terakhir lipstik warna senada dengan si blush on. Terakhir disemprotkannya setting spray khusus untuk make up, agar make up lebih awet dan menyatu.


"Dah siap Re?" Tanya Mama Reta memastikan anaknya sudah siap untuk berangkat menuju rumah Edgar. Mama Reta sudah rapi dengan memakai dress longgar bewarna hitam dengan sedikit motif bunga warna-warni.


"Udah Ma." Jawab Reta, kemudian mengambil tas selempang mini dengan warna senada sebagai sentuhan terakhir.


"Ya udah yuk berangkat sekarang." Ucap Mama Reta. Mama Reta memang dari dulu selalu berusaha on time. Ibu dan anak itu kemudian berangkat ke rumah Edgar diantar oleh supir keluarga.

__ADS_1


Sesaat di ceknya handphone miliknya. Tampak pesan yang ia kirimkan pada Edgar belum dibalas. Bukan, lebih tepatnya belum di baca. Reta berusaha berpikir positif, mungkin Edgar tidur sampe siang. Belakangan ini, jadwal latihannya sangat padat guna mempersiapkan keikut sertaan tim basket Z1 di turnamen nasional antar SMA. Jadi Reta maklum, Edgar mungkin masih di alam mimpi. Hampir satu jam barulah Reta dan Mamanya sampai di rumah Edgar.


Weekend rupanya membuat mobil keluarga hanya mampu padat merayap pelan di jalan. Padahal mereka berangkat 15 menit dari awal perkiraan. Setibanya di sana, keramahan Mama Edgar menyambut kedatangan mereka.


"Maaf ya Mbak, haduh macetnya gak ketolongan." Ucap Mama Reta sambil bercipika cipiki dengan Mama Edgar. Biasalah sapaan ibu ibu jika sudah bertemu. Menceritakan garis besar karena apa jadi terlambat sambil cipika cipiki. Very template.


"Gak apa apa Mbak, namanya juga weekend. Sudah pasti macet." Jawab Mama Edgar yang sangat-sangat mamaklumi hal tersebut. Namanya Jakarta, macet bukan hal baru. Jarak harusnya ditempuh hanya 10 atau 20 menit, bisa banget berubah menjadi 40 menit hingga 1 jam. Hanya karena macet di mana-mana.


"Aduh cantik banget ini anak gadis mu Mbak. Gak kerasa ya, Reta udah mau dewasa aja. Perasaan kamu, Uta sama Edgar baru kemarin deh masuk SMP. Kok udah mau dewasa aja sekarang." Mama Edgar menepuk nepuk bahu belakang Reta lembut. Tak lupa Reta mencium tangan Ibunda Edgar yang sudah ia anggap ibu sendiri.


"Edgar baru aja pergi beberapa menit yang lalu." Jawab Mama Edgar apa adanya.


"Latihan basket Tan?" Tanya Reta polos, setaunya memang terkadang latihan basket dengan tim basketnya pada saat weekend.


"Izinnya sih tadi mau ketemu orang, tapi gak bilang orangnya siapa. Tapi tumben-tumbenan banget deh, dia tadi tampil rapi banget sampai bolak-balik ngerapihin rambut, gak biasa-biasanya banget. Udah ah, yuk masuk Re, tante ada masakin makanan kesukaan kamu." Jawab Mama Edgar. Hati Reta sedikit mencelos. Feeling nya mengatakan bahwa Edgar kemungkinan pergi menemui Elma.

__ADS_1


Selama ia mengenal Edgar, Edgar bukan pribadi yang terlalu memperhatikan penampilan. Selama pakaian yang ia gunakan bersih, tak kusut dan tak salah kostum maka itu sudah cukup baginya. Urusan gaya rambut, Edgar hampir tak pernah peduli. Apalagi sampai bolak-balik memastikan rambutnya rapi segala, itu sangat-sangat bukan itu Edgar.


Kemungkinan yang paling masuk akal, Edgar ingin terlihat rapi dan keren karena mau bertemu Elma. Ya, itu alasan yang paling logis bagi Reta. Pantas saja pesannya tak Edgar hiraukan. Teringat kembali bagaimana interaksi keduanya saat pulang sekolah sebelumnya. Reta hanya bisa pasrah. Ia tak punya hak mengatur perasaan Edgar.


"Ayuk masuk Mbak, cobain puding pandan kelapa tadi saya buat, Mbak cobain kira kira kurang apa." Ucap Mama Edgar merangkul Mama Reta masuk ke dalam ke rumah, sambil mulai berbincang- bincang. Berbanding terbalik dengan Reta, perasaan ceria lenyap seketika. Dirinya yang jujur berharap bertemu Edgar, hanya bisa menelan kekecewaan.


Terbersit rasa malu pada diri sendiri. Bagaimana semangatnya ia tadi bersiap siap untuk menemani Mamanya arisan di rumah Edgar. Ia bahkan sampai mengeluarkan setengah isi lemari hanya untuk memilih baju yang paling terlihat cantik jika ia pakai. Memakai make up yang sebenarnya tak terlalu suka ia pakai. Semua itu semata mata karena ia berpikir akan bertemu Edgar nanti.


Malu. Hanya itu gambaran paling pas yang mewakili apa yang ia rasakan sekarang. Perasaan malu itu sudah sering kali Reta rasakan. Terkadang ia merasa seperti perempuan yang tak tahu malu. Tak menyerah mengejar Edgar, padahal yang dikejar jelas jelas tak punya perasaan padanya.


Bersambung ............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2