![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Puas olahraga, kuputuskan untuk balik ke kamar dan membersihkan diri. Selesai mandi kupilih celana jeans panjang dan kaos putih yang comfort, karena aku berencana akan mengantar Uta pulang.
Meskipun ia selalu menolak setiap kali aku ingin mengantarnya pulang, tapi jujur aku tidak pernah merasa keberatan mengantarnya pulang. Selalu menyenangkan mengisenginya, atau mendengar celotehannya yang seringkali tak tertebak sama sekali olehku.
Saat aku menuruni tangga, pas bertepatan dengan Uta yang baru keluar dari kamar Putri.
"Udah bangun?? Pulas tidur siangnya?" Tanyaku yang sebenarnya, jawabannya sudah ku ketahui.
"Banget. Hoaahhhhhh ..." Jawabnya lengkap dengan nguap panjang setelah puas tidur. Benar benar tak ada kata menjaga image, bagi gadis ini. Ia tampak masa bodoh berkelakuan absurd di hadapanku.
"He .. he .. he .." Aku terkekeh melihatnya, tak mampu lagi menyembunyikan tawa jika sudah begini.
"Putri mana?" Tak melihat keberadaan Putri.
"Pasukan aku masih asik di alam mimpi, mungkin karena efek kerja rodi tadi pagi. He .. he .. he .." Dia yang jawab lucu, dia juga yang ketawa. Aneh, tapi membuatku entah mengapa ikut senang. Setidaknya moodnya sudah kembali membaik dan tak murung seperti tadi.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanyaku saat Uta hendak berjalan menjauh.
"Ambil minum." Jawabnya cuek melengos ke arah dapur. Terkadang aku heran kenapa gadis ini tidak ada jaim jaim nya di hadapanku. Jauh berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan yang pernah kutemui. Mereka rata-rata menjadi lebih pemalu, namun perhatiannya tetap terpusat terhadapku.
Berbeda sekali dengan Uta. Bahkan kalau dipikir pikir, aku kalah dengan karakter Sadam di film Petualangan Sherina kemarin. Uta lebih heboh melihat akting Sadam ketimbang diriku. Aku hanya bisa mengelus dada untuk menyemangati diri sendiri. Saat Uta sudah tak terlihat lagi dari ruang keluarga, salah seorang asisten Babam datang dan mendekat kearahku.
"Permisi tuan muda, saya mengantar barang milik tuan besar." Ucap Paman Murat memberitahu perihal kedatangannya. Paman Murat adalah sekretaris daripada Babam, yang lebih tepatnya tangan kanan Babam yang paling dipercaya. Aku telah bertemu dan mengenal beliau sedari aku kecil.
"Paman Murat, Babam lagi diluar rumah." Jawabku jujur bawa Bos Besar sedang keluar.
"Bi Darmi mungkin di dapur Paman." Jawabku mempermudah Paman Murat agar berkomunikasi dengan kepala staf pelayan di rumah, untuk berkoordinasi barang oleh-oleh Babam di mana akan disimpan untuk sementara.
"Permisi tuan muda." Pamit Paman Murat ingin langsung menemui bi Darmi
"Paman tunggu ..." Kupanggil kembali Paman Murat karena sebuah ide terlintas.
"Ya tuan muda?" Paman Murat balik badan kemudian menjawabku.
__ADS_1
"Paman tolong siapkan satu set oleh-oleh untuk siap dibawa sekarang." Pintaku dengan senyum tipis merekah.
"Baik tuan muda."Beliau melihatku sesaat, namun langsung mengiyakan tanpa bertanya balik. Mungkin tadi beliau sempat bingung, tumben-tumbenan aku sendiri yang minta disiapkan set oleh-oleh sekarang. Biasanya Annem lah yang sibuk menge-list guru atau teman temanku, untuk nanti diberikan oleh-oleh. Seperginya Paman Murat, kuraih handphone yang berada di saku celana, kemudian mengetikkan beberapa kalimat yang akan kukirimkan kepada seseorang. Dan tak berapa lama notif balasan muncul di layar handphoneku.
[Boleh]* Babam
Yes!! Barusan aku mengirimkan pesan ke Babam, untuk meminta izin membawa satu set oleh-oleh kepunyaan Babam, untuk ku berikan pada Uta dan Tante Celine. Ide yang baru saja ku temukan tadi saat berbincang dengan Paman Murat. Sebuah ide yang bisa menjadi alasan mengantar Uta pulang dan sepertinya kali ini gadis itu juga tidak akan bisa mencegah ide cemerlangku ini.
Nice*Alber
Bersambung ............
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
❤
ZEROIND
__ADS_1