![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Uta POV
Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar Mamah menuju pintu keluar. Kuambil sepasang sepatu dan kujinjing alas kaki itu untuk kukenakan di depan rumah. Saat di depan pintu, aku teringat akan sesuatu.
"Oh iya lupa, aku gak bisa pesen ojol. Handphone aku kan disita Mamah." Ujarku pada diri sendiri. Akhirnya ku kuputuskan untuk menaiki transportasi lain.
Aku menaiki busway dan turun dihalte terdekat area rumah Alber. Karena masih lumayan jauh jika berjalan kaki, kuputuskan menghampiri seorang abang ojol yang sedang duduk menunggu orderan. Aku mengorder ojol secara langsung tanpa melewati aplikasi.
Untungnya beliau bersedia. Kami melanjutkan perjalanan menuju alamat rumah Alber. Namun baru tiga perempat jalan, motor si abang mendadak mati.
"Aduh mbak maaf, motor saya mogok kehabisan bensin. Maaf ya mbak. Mbaknya neduh aja dulu di bawah pohon situ. Saya mau jalan kedepan bentar nebus bensin. Entar saya tetap anter ke tempat tujuan." Ucap si abang merasa bersalah, motornya mogok saat kami belum sampai ketujuan.
"Ehm ... Gak usah deh mas. Saya jalan kaki aja. Dikit lagi mas. Masnya fokus aja nyari bensin. Ini ongkos saya, lebihnya buat bensin mas." Kulepaskan helm, kemudian menyerahkan helm itu bersama beberapa lembar uang pada beliau.
"Alhamdulillah, makasih mbak. Tapi apa gak apa-apa mbaknya turun disini? Gak mau nunggu saya nebus bensin aja?" Si abang menerima helm dan lembaran uang yang kuberi. Ia kembali bertanya sekali lagi, aku mau menunggunya atau memilih lanjut jalan saja.
__ADS_1
"Gak usah mas, saya buru-buru soalnya. Lagian, ini tinggal jalan bentar lagi dah nyampe kok." Tolakku halus pada beliau. Kasihan juga kalau beliau harus bolak-balik. Toh aku tidak sampai 5 menit sudah sampai.
"Ya udah kalo gitu, sekali lagi maaf ya mbak. Tapi makasih juga buat lebihannya mbak." Ucap bang ojol senang.
"Ya sama-sama mas. Saya deluan." Ucapku lalu melangkah melanjutkan perjalanan.
Saat mendekati gerbang istana Alber, samar-sama aku melihat Alber dan Ayleen saling barhadapan di halaman. Tampaknya, mereka baru saja kembali dari naik sepeda motor berdua. Sebab tampilan baju mereka, sama-sama memakai celana panjang dan jaket kulit. Dan ada 2 helm yang bertengger di jok motor sport Alber.
Aneh, tapi aku merasa rasa rinduku sedikit terobati hanya dengan melihat punggung Alber saat ini. Ya, aku tak melihat wajah Alber sebab laki-laki itu posisinya sedang membelakangi pagar tinggi menjulang rumahnya. Tepat di hadapannya, berdiri Ayleen dengan wajah cantik seperti biasanya.
Alber dan Ayleen sedang berciuman.
DEG ........
Ayleen berjalan mendekat kedepan tubuh Alber, lalu berjinjit sambil memegang kedua bahu Alber. Badan Ayleen yang tadi masih bisa terlihat olehku, kini tertutup sepenuhnya oleh tubuh tinggi atletis Alber. Sangking rapatnya tubuh mereka saat ini. Hanya kedua kaki Ayleen yang sedang berjinjit, yang bisa kulihat.
__ADS_1
Melihat kenyataan di depanku sekarang, membuat hatiku rasanya dihantam palu gada. Dadaku sesak, menarik nafas terasa berat. Mataku mulai terasa panas. Bulir bening mulai menetes tanpa bisa kutahan.
Kuputuskan untuk berbalik arah. Aku tak ingin mengganggu, pasangan yang serasi itu sedang mengekspresikan cintanya. Rasanya terlalu sesak. Dengan sisa-sisa tenaga, kulangkahkan kaki ini menjauh dari sana.
Alber, aku pamit pergi. Maaf dan terima kasih untuk segalanya. Selamat tinggal. *Uta
Aku memilih pulang.
Bersambung .............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1