![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Perjalanan pulang dengan bang ojol seperti biasa, melewati macetnya ibukota. Belum lagi ditambah teriknya matahari, lengkap sudah derita. Andai saja hari ini mendung, mungkin akan lebih baik. Hampir 1 jam barulah Uta tiba di rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Uta memasuki rumah. Tampak Mamah Celine dan dua karyawannya sedang rekap total belanjaan hari ini untuk pesanan besok. Mendengar salam Uta membuat mereka otomatis menoleh sembari menjawab salam.
"Waalaikumsalam." Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Udah makan belum Ta?" Tanya Ibu Ratu pada anaknya. Pertanyaan template yang sederhana tapi selalu dirindukan setiap anak dari ibunya.
"Belum Mah." Yang ditanya malah melengos langsung masuk ke dalam rumah. Berjalan secepat kilat menuju tempat kulkas berada. Tepat di depan kulkas, ada Tama yang sedang menuangkan air es ke dalam gelas.
"Wah ... thank you dek." Tanpa ba bi bu Uta menyerobot gelas yang telah diisi oleh Tama.
"Kakak tuh ya, kebiasaan nyerobot minuman aku." Protes Tama pada kakaknya itu.
"Ahh ... segaaarrrr." Yang diprotes malah senyum-senyum tak ambil pusing. Tenggorokannya yang gersang seperti gurun Sahara akibat dipanggang selama perjalanan pulang tadi, seketika dibasahi oleh hujan deras.
"Thanks dek." Menepuk-nepuk bahu Tama sebagai orang yang berjasa mengatasi kemarau tenggorokannya. Tama hanya bisa geleng-geleng. Dia sudah pasrah karena kejadian ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Nasib anak bungsu.
"Makan dulu Ta!! entar sakit perut." Teriak Ibu Ratu dari lantai 1.
"Iya bentar lagi Mah. Uta ngadem dulu bentar." Jawab anak gadisnya itu. Mendengar itu Mamah Celine hanya geleng kepala menatap Tama yang sedang asik menyantap makanan dengan lahap. Beliau kemudian memilih kembali pergi ke ruang depan. Risiko punya anak yang sifat dan kelakuannya berbeda 180 derajat. Yang satu nggak bisa haus sementara yang satunya lagi nggak bisa lapar. Mau heran tapi anaknya. Nasib nasib, pikir Mamah Celine.
___________ Z ___________
Malam harinya Uta mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai, setelah tadi sempat tidur siang dan
terbangun menjelang sore. Ia langsung mandi, ibadah dan terakhir barulah makan. Makan siang sekaligus makan malam ceritanya.
Dikeluarkannya laptop beserta chargernya dari dalam tas. Dia mencolokkan charger ke stop kontak lalu menyambungkannya ke laptop. Ia ingat di sekolah tadi baterai laptop sudah hampir habis.
Setelah daya mulai tersalur, di tekannya tombol ON agar laptop mulai menyala. Uta mulai membuka aplikasi design setelah menunggu beberapa saat.
Nyetel musik enak nih kayaknya. *Uta
Sama seperti kebanyakan orang, untuk menuju sebuah inti, terkadang ada saja belak belok yang harus dilewati. Tujuannya menyelesaikan tugas design, tapi belok dulu nyetel musik. Perlahan terdengar alunan musik sebuah lagu yang Uta pilih.
Ribuan hari aku menunggumu
Jutaan lagu tercipta untukmu
Apakah kau akan terus begini?
Masih adakah celah di hatimu
Yang masih bisa aku 'tuk singgahi?
Cobalah aku kapan engkau mau
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju?
"Itu aku~~~" Senandung Uta menikmati lagu.
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju?
"Itu aku~~~" Sekali lagi.
Coba keluar di malam badai
Nyanyikan lagu yang kau suka
__ADS_1
Maka kesejukan yang kau rasa (ah-ah-ah)
Coba keluar di terik siang
Ingatlah bintang yang kau sapa
Maka kehangatan yang kau rasa
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju? Itu aku
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju? Itu aku
Percayalah, itu aku, uh-uh
Percayalah, itu aku, hu-hu, ho-oh-oh
"Du ... du ... du ... du ... du, du ... du ... du ... du ... du ... du ... du, ah ... ah." Asik sendiri.
Itu aku
"Du ... du ... du ... du ... du, du ... du ... du ... du ... du ... du ... du, ah ... ah itu aku." Mulai menggila.
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju? Itu aku
"Du ... du ... du ... du ... du, du ... du ... du ... du ... du ... du ... du, ah ... ah
Ho ... ho ... ha ... ha ... haah, haah" Makin tak terbendung.
"Hei, itu aku, heiiiiiii." Tutupnya lagu legend itu.
"Hei hei, tugasmu hei." Ucapnya lagi menyadarkan dirinya.
Kali ini benar benar dibukanya aplikasi untuk merampungkan design mug yang belum selesai.
_____________ Z _____________
Hampir 1 jam sudah berkutat dengan touchpad. Memastikan detail-detail kecil pada gambar rapi tersemat di sana. Fokusnya melihat layar buyar saat bunyi handphone terdengar, tanda ada pesan masuk.
[Gimana design nya?]
Masuk sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Wajar Uta berpikir siapa pengirim pesan ini? Dan bagaimana bisa ia tahu, Uta sedang menyelesaikan sebuah design? Meskipun begitu seorang Uta tentu saja tak ada niat membalas pesan tersebut.
Derrtttt ... Derrrtttt ...
[Ada yang sulit? ]
[- Alber-]
Rupa-rupanya teman sebangkunya lah pengirim pesan tersebut. Darimana Alber mendapat kontaknya?? Seingat Uta mereka tidak pernah bertukar nomor telepon.
Mungkin dia ambil dari group kelas. Ya itu paling make sense.* Uta
Diraihnya benda berbentuk segi empat itu lalu mengetikkan pesan balasan.
[Ini lagi ngerjain design]*Uta
[Belum masuk fase sulit]*Uta
__ADS_1
[Kira kira fase sulitnya kapan?]*Alber
Jawaban Alber membuat Uta terkekeh.
[Tanya aja, jangan ragu]*Alber
[Fase sulit udah gue blokir]*Uta
[Okey thanks]*Uta
Gadis itu melanjutkan mengerjakan design di layar laptop. Tak terasa pekerjaannya selesai saat jam menunjukkan 21.00. Dia bangkit dari tempat duduk lalu meluruskan punggung yang sedari tadi tertekuk duduk. Dirapikannya meja belajar lalu memutuskan berjalan ke arah toilet. Uta mencuci muka, menyikat gigi dan mencuci kaki untuk bersiap tidur.
Derrttt ... Derrttt ...
Bunyi handphone kembali terdengar saat gadis itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
[Sudah 1 jam]*Alber
[Apa kabar designnya?]*Alber
[Gue bisa bantu apa?]*Alber
Di luar dugaan, rupanya Alber stand by menunggu kalau kalau dirinya mengirim pesan menanyakan sesuatu. Segera dibalasnya pesan itu mengatakan bahwa design sudah selesai.
[Sudah selesai kok]*Uta
Dikirimnya juga hasil design yang ia foto dari layar laptop dengan handphone ke Alber.
[Bagus]*Alber
[Berarti tinggal cetak di mug ya?]*Alber
[Iya Ber]*Uta
[Cetak dimana? Kapan mau dicetak?]*Alber
[Hemm rencana besok atau lusa sepulang sekolah Ber, ada tempat cetak mug dekat rumah soalnya]*Uta
[Oke kalau gitu, thanks Ta]*Alber
[you’re welcome]*Uta
Uta yang sudah ngantuk tidak butuh waktu lama untuk terlelap. Kesokan harinya gadis itu melakukan rutinitas seperti biasanya.
Semangat Ta!! Kamu okey kok dari yang kamu pikir. *Uta
Selesai sarapan kemudian ia berangkat sekolah. Ketika ia memasuki kelas yang masih agak kosong, karena belum banyak yang datang. Dilihatnya sosok yang sangat ia kenal baik.
“Edgar…!!!!"
Bersambung ...........
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND