![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta dan Alber keluar dari toko mug dengan menenteng paper bag berisi mug design mereka, yang akan siap dikumpulkan ke Bu Melati, guru TIK.
"Ta katanya rumah lo deket toko mug ini, dimana Ta??? Yok gue antar pulang." Tanya Alber pada Uta tiba tiba saat mendekati Lamborghini hitam miliknya, membuat yang ditanya kaget luar biasa.
"Oh gausah gausah Ber. Hemh ... lo langsung pulang aja. Gue bisa naik ojol atau jalan kaki, aman ... 10 menit juga sampe. BTW mug nya, lo aja yang bawa ya. Gue suka ceroboh soalnya." Ucap Uta berusaha untuk Alber tidak repot mengantarnya pulang. Bukan, lebih tepatnya jangan sampai Alber mengantarnya pulang.
"Justru karna deket ayok gue antarin. Kalo jauh baru kita pulang sendiri sendiri." Ucap Alber dengan logika terbalik pada Uta. Uta yang bingung membantah omongan Alber barusan, dengan terpaksa melangkahkan kaki, sebab Alber mendorong pelan pundak belakangnya.
"Tap ... Tapi Ber." Uta hendak protes, tapi ia kalah kuat dengan lawannya kali ini. Dirinya mau tak mau masuk kembali ke si hitam.
"Gak pake tapi Ta. No exuse." Jawab Alber yang tak bisa dibantah. Ya sudah ikut saja pikir Uta, lagipula alasan Alber masuk akal pikirnya. Perlahan Alber menggerakkan si hitam keluar meninggalkan area toko mug tersebut.
"Wow ternyata kalau dicetak di mug, jadinya bagus banget." Sementara Alber sedang menyetir, Uta membuka salah satu kotak mug warna navy, lalu mengaguminya. Dibukanya kotak yang lain satu per satu.
"Gak ada yang gagal, semuanya bagus." Gumamnya pelan. Menurutnya semua terlihat cantik setelah dibubuhi design yang mereka buat. Wajar saja harganya lumayan mahal.
"Oh ya?" Tanya Alber sambil tetap melihat jalan didepan. Jalanan menuju rumah Uta lumayan banyak dilalui para pemotor. Alber mesti hati hati dengan tetap fokus, jika tak ingin menyenggol pengendara lain. Maklumlah, masih banyak pengendara yang kadang kadang mengemudi sesuka hati mereka.
Ada yang berboncengan 3 sampai 4 orang dalam satu motor. Ada yang lampu remnya non aktif alias tak menyala. Ada yang membawa barang dengan ukuran lebih besar dari pengemudi motornya. Ada yang berjalan melawan arah, padahal lain lajurnya. Ada yang memotong jalan tiba tiba. Bahkan ada juga yang memberikan tanda lampu sein sebelah kiri, tapi beloknya malah ke kanan.
Macam macam memang, ada saja kelakuan para pengendara. Untuk itulah Alber harus fokus. Sebab jika terjadi sesuatu, tetap saja kendaraan yang lebih besarlah, yang jadi paling salah.
"Alber, uang lo mubazir dong. Tau gitu tadi nyetak 2 aja." Ujar Uta mengingat kembali jumlah yang Alber bayarkan untuk menebus 4 buah mug custom ini.
__ADS_1
"Ya enggak dong, kan mug nya tetep bisa dipakai. Lo ambil aja satu Ta. Entar yang satunya gue simpen dirumah. Kalo lo pakai kan jatuhnya gak mubazir dong." Bela Alber pada diri sendiri dari lingkar kemubaziran. Uta tampak berpikir, seolah menimbang nimbang ambil atau tidak. Ia merasa tak punya hak atas mug ini, karena Alber lah yang membayar semuanya. Tapi disisi lain, Alber sebagai yang punya mug sudah menawarkan dirinya mengambil salah satu mug itu. Ditambah lagi bayang bayang mubazir menghantuinya.
"Boleh gue pilih warna?" Tanyanya ragu ragu pada si pengemudi.
"Please (silahkan)." Ucap laki laki itu menatap Uta sesaat.
"This one." Gadis itu memilih mug warna merah marun karena menurutnya, itu yang kelihatan paling manis. Goyah sudah pertahanannya untuk tak mengambil mug cantik itu. Dirapikannya lagi 3 kotak yang lainnya. Tepat saat itu Alber belok ke gang rumah Uta. Bersyukur jalan disekitar area tempat tinggal Uta tak terlalu sempit sempit. Masih cukuplah untuk 2 mobil di lajur yang berbeda, dengan catatan asal pelan pelan alias kecepatan rendah.
"Rumah lo yang mana Ta?" Ucapnya sembari menurunkan kecepatan mobilnya. Sekilas dilihatnya ada beberapa rumah di dalam area gang itu. Bentuk dan warna rumah disana juga berbeda beda. Ada yang bertingkat 2 ataupun tingkat 3, tapi ada juga yang tak bertingkat. Ada yang halamannya agak luas, tapi ada juga yang habis dibangun sampai depan.
"Itu yang cat warna Biru. Yang rame tanaman strawberry di dindingnya itu Ber." Alber melajukan si hitam pelan pelan sampai tepat di depan rumah Uta. Rumah yang sangat mencolok karena dipenuhi tanaman strawberry yang ditata apik secara vertikal di area dinding pagar rumah. Kesan asri dan hijau langsung dapat ditangkap saat siapapun melihatnya.
Rumah itu jauh dari kata besar meskipun terdiri dari dua tingkat. Terdapat halaman yang sedikit lega, namun dipergunakan untuk tempat usaha. nampak beberapa wanita sedang memasak di halaman yang langitnya diberi atap tambahan, agar tak terkena hujan maupun terik panas. Beberapa dari mereka sempat berhenti sesaat dan melirik ke arah mobil Alber.
"Uta..." Panggil Mamah Celine kaget bercampur khawatir, anaknya keluar dari mobil sport mewah yang berhenti di seberang rumahnya. Wajar Ibu Ratu khawatir, sebab mobil itu tak pernah ia lihat sebelumnya. Ia hanya tau mobil yang pernah mengantar anaknya hanya mobil Edgar, Reta atau Felix saja.
"Assalamualaikum Mah. Mah tadi baca pesan Uta gak? Tadi Uta udah chat Mamah bakal pulang telat mau kerja kelompok." Tanya gadis itu pada Mamah Celine. Tak lupa ia mencium tangan penuh berkah itu.
"Iya Mamah baca makanya gak nyariin kamu, tapi itu kamu diantar siapa? Kok Mamah gak pernah lihat mobil itu sebelumnya?" Tanya Mamah Celine masih was was. Namanya seorang ibu, beliau harus memastikan keamanan anaknya, dengan cara mengenal dengan siapa siapa saja Uta bergaul.
"Uta diantar teman sekelas Uta Mah, anak baru di sekolah. Tadi kerja kelompoknya sama dia." Jawab Uta menenangkan Mamah Celine yang khawatir.
"Itu teman kamu kenapa ditinggal dibelakang?" Ujar Mamah Celine mempertanyakan tentang teman Uta yang mengantarnya. Beliau bahkan melihat ke arah mobil Alber tadi berada.
"Teman Uta langsung mau pulang Mah." Jawab Uta pada Mamahnya.
__ADS_1
"Permisi tante. Halo saya Alber, temannya Uta yang barusan nganterin kesini." Ucap Alber menyapa Mamah Celine. Rupanya beberapa saat lalu, arah pandangan Mamah Celine tertuju pada Alber yang berjalan mendekat ke arah mereka. Uta? Jangan ditanya lagi reaksinnya seperti apa. Cukup dibayangkan sendiri betapa kagetnya dia.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
ZEROIND
__ADS_1