![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Memangnya tadi gak makan dulu sebelum berenang?" Tanya Uta iseng-iseng karena heran melihat Putri yang kelaparan.
"Kata Yabel belenang sebelum makan lebih asik Tuta." Adu Putri pada Uta tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar itu Uta otomatis melihat tajam ke arah Alber si pelaku.
"Wait ... Listen. Berenang dengan perut kosong itu punya banyak kelebihan, kita jadi gak mudah ngerasa mual karena perut penuh. Terus juga resiko kram lebih dikit." Mendapat tatapan tajam dari Uta, Alber berusaha memberikan penjelasan selogis mungkin kepada Uta.
"Iya tapi gak pagi buta juga Ber!!" Mendengar penuturan Alber, bukannya mereda Uta semakin protes ke Alber.
"Uta listen, berenang pagi itu banyak manfaatnya. Bisa menguatkan fungsi jantung, meningkatkan imun, memperkuat otot dan masih banyak lagi. Cek aja kalau gak percaya." Jelas Alber berusaha membela diri karena mengajak Putri berenang pagi-pagi buta.
"Tapi Putri ini kan masih anak-anak, bukannya calon tentara." Makin melotot lah Uta mendengar penjelasan spektakuler dari Alber.
"Ha .. ha .. ha. Bagus Ta!! Emang Alber tuh suka iseng banget jadi orang." Syiba yang sedari tadi hanya menikmati serealnya dan menjadi penyimak dua orang di sampingnya berdebat, menjadi tertawa mendengar Uta men-skakmat seorang Alber.
"Ehem ... Putri sayang, Yaber minta maaf ya. Janji deh, besok-besok berenangnya agak siang aja biar Putri gak kedinginan lagi. Mau kan maafin Yaber?" Ujar Alber pada sepupunya itu.
"Yabel okey. Yabel it's okey." Jawab anak itu polos.
"Haduh kecewa penonton." Ucap Syiba yang menyayangkan, Putri memaafkan Alber terlalu cepat, bahkan tanpa adanya satupun perlawanan.
"He .. he .. he .. Baik banget deh anak cantik ini, gemas Tuta jadinya." Uta tertawa mendengar ucapan Syiba. Tapi di sisi lain, ia juga bangga melihat bocah kecil di sampingnya itu memiliki hati yang pemaaf. Syiba hanya bisa geleng-geleng, sebab Putri selalu saja mudah memaafkan Alber meskipun Alber seringkali menjahilinya.
"Tuta." Bocah kecil itu memanggil Uta saat Uta baru saja menyuapi dirinya.
"Ya sayang?" Uta menjawab Putri lembut.
"Tuta Putli ada PL." Ujar Putri dengan kondisi mulut masih mengunyah makanan.
"PR apa itu?" Uta mencomot sebuah lumpia lezat yang tersedia di atas meja, tak lupa dengan cabe rawitnya. Dia mengisi perutnya dengan lumpia goreng menggiurkan di sela-sela menyuapi Putri makan.
"PL belhitung matematika." Jawab Putri kemudian.
__ADS_1
"Uhuk ... Uhuk ..." Uta tersedak lumpia dan cabe rawit yang sedang ia kunyah, mendengar kata matematika dari mulut Putri.
"Minum dulu Ta, biar gak keselek." Ucap Syiba yang dengan sigap memberikan gelas berisi air putih kepada Uta. Gadis itu langsung meminum air putih yang Syiba berikan untuk membasahi tenggorokannya. Alber yang sedari tadi tak berkomentar, tak bisa lagi menahan senyum. Alber sangat tahu apa yang membuat Uta tersedak. Si anti matematika.
"Makasih Kak." Ujar Uta setelah meneguk hampir setengah gelas air yang Syiba berikan. Bersyukur air tersebut bisa menghilangkan tersedaknya.
"Tuta okey?" Tanya Putri yang khawatir karena Uta terbatuk barusan.
"Okay, don't worry, Tuta okay." Jawab Uta yang memang sudah tidak tersedak lagi.
"Tuta have to be caleful." Ujar Putri mengingatkan Uta.
"Putri sayang, gimana ngerjain PR-nya sama Yaber aja?" Ucap Uta berusaha mengarahkan Putri agar mengerjakan PR bersama Alber saja. Ide spontan itu terlintas di benaknya tiba-tiba.
"Eitss .. Yaber pengen banget bantuin Putri ngerjain PR matematika. Yah tapi gimana dong, pagi ini Yaber sibuk gak bisa, ada urusan." Ucap Alber dengan mimik wajah seolah sangat sedih karena tak bisa membantu Putri menyelesaikan PR matematikanya.
"Tuta, Yabel gak bisa Yabel." Putri yang polos tentu saja terperdaya dengan ekspresi sedih Alber itu. Berbeda dengan Uta yang tahu bahwa itu akal-akalan Alber saja. Terbukti saat Uta menatap Alber, senyum tipis menghiasi wajah tampannya.
"It's okey, Tuta can do it. It's okey." Uta hanya bisa mengucapkan itu. Pasrah sudah dirinya.
..._____________ Z _____________...
Author POV
Alber kini berada di dalam kamarnya. Jujur saja dirinya gabut karena harus tetap di dalam kamar, tapi tak tahu harus berbuat apa. Itu semua karena ia tadi sudah mengatakan kepada Uta bahwa dirinya sedang ada urusan alias sibuk. Oleh karena itu jadilah dirinya tidak bisa mengusili Uta dan Putri yang sedang mengerjakan PR matematika Putri, semata-mata agar terlihat konsisten dengan ucapannya barusan.
Gabut yang melanda membuatnya hanya berbaring di tempat tidur sambil berselancar di dunia sosial media. Satu jam bermain-main dengan sosial media, rupanya membuatnya bosan juga. Ia kemudian mengecek aplikasi lain di telepon genggam miliknya. Terdapat beberapa chat masuk, di bukanya lebih dulu chat dari teman-temannya semasa ia tinggal di Bali dulu. Alex mengirimkan semua foto dirinya dan beberapa teman yang lain, bersiap untuk berselancar di pantai Bali yang terkenal memiliki ombak yang pas untuk orang-orang penyuka olahraga surfing.
[Ini surfingku, mana surfing mu?] Pesan yang sangaja di kirim untuk memprovokasi Alber. Teman Alber tentu tahu, bahwa Alber tidak mungkin bisa surfing karena saat ini sedang berada jauh dari Bali, surganya surfing.
[Sialan lo!! Bikin gue iri aja.] Ucap Alber lengkap dengan emoticon emosi. Seolah tak terbakar oleh provokasi balik Alber, Alex malah mengirim beberapa foto lainnya dari angle kamera yang berbeda. Fokus Alber tertuju pada beberapa foto yang memperlihatkan sosok Ayleen, sedang dirangkul mesra oleh laki-laki lain. Di foto itu mereka berdua juga sedang asyik berfoto dengan sebuah kamera pocket. Jujur Alber kembali kecewa, sebab cewek gebetannya itu bisa berselfie ria dengan pria lain, tapi untuk membalas pesannya saja seolah tak ada waktu.
Kekecewaannya itu, membuat ia beralih dari chat Alex ke chat group kelas. Anak-anak sedang ramai membalas chat dari ketua kelas yang mengingatkan untuk jangan lupa belajar, karena besok mereka akan menjalani ulangan matematika. Seketika itu senyum jahil terbit di bibirnya.
__ADS_1
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke meja belajar. Diraihnya sebuah buku dan beberapa helai kertas kosong lalu berjalan keluar dari kamar. Langkah kakinya dengan mantap berjalan menuruni tangga, mendekati sebuah ruangan di lantai satu. Tapi saat di depan pintu ruangan yang dituju, ia malah mengurungkan niatnya masuk ke dalam dan memilih berdiri diam di depan pintu untuk mendengar percakapan di dalam ruangan.
"Tuta ... Tuta pintal banget deh." Suara Putri yang sangat antusias memuji Uta yang sangat jenius di matanya. Gadis kecil itu bahkan sampai bertepuk tangan sangking kagumnya. Pujian itu disambut dengan tawa renyah Uta.
"Iya kan. Best gak Tuta?" Jawab Uta menanggapi ucapan Putri di sela-sela tawanya yang masih terdengar. Bagaimana tidak, rupanya yang Putri maksud PR matematika, adalah belajar berhitung 1 sampai 100, sebelum masuk TK nanti. Tentu saja Uta yang anti matematika, mendadak berubah jadi si jenius.
"Ehm .. Tuta yang paling the best." Ucap Putri tanpa ragu memuji Uta setinggi langit. Terdengar mereka tertawa riang bersama-sama.
"Wah .. wah .. Yaber jadi pengen tahu deh sehebat apa Tuta. Bocil gimana kalau kita tes kehebatan Tuta sekali lagi." Ucap Alber dengan senyum devilnya. Tak lupa ia memamerkan buku soal-soal matematika yang ia bawa dari kamar.
Oh no .. Oh no .. Oh no no no no!! * Uta.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND