![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Sudah empat hari Uta mengikuti les fisika militer, dengan komandan Alber. Meskipun otak gadis itu rasanya panas setiap kali belajar rumus rumus ruwet fisika, tapi ia tidak bisa membantah titah komandan Alber. Komandannya itu, selalu saja menemukan alasan dan cara yang membuat Uta tak berkutik.
Hari ini sepulang sekolah semua hasil les militer itu dipraktekkan. Bu Tuti meminta remedial diadakan hari ini diluar jam pelajaran, sebab yang remedial tak banyak. Di Z1 memang banyak sekali siswa yang jenius. Sistemnya sudah pasti sama dengan yang kemarin. Hanya saja soal remedialnya yang berbeda, alias 'fresh from the oven'.
Selama ujian sang guru killer, persis seperti kemarin. Beliau mondar mandir memastikan tak ada kasus pencontekan di ranah remedialnya. Setiap siswa di ruangan itu, hanya boleh berinteraksi dengan soal dan kertas jawaban masing masing. Termasuk Uta, dirinya bolak balik membaca soal lalu flashback ajaran sang mentor, yang ia putar kembali di kepalanya. Begitu saja berulang ulang.
1 jam berlalu, remedial sudah selesai. Bu Tuti keluar kelas setelah mengantongi nilai anak anak yang remedial. Satu persatu siswa didalam mengambil tasnya, lalu keluar kelas. Uta yang biasanya, hanya berfikir pulang saat dihadapkan dengan fisika, kali ini berbeda karena sebuah alasan. Ia mengambil tasnya, lalu perlahan berjalan keluar kelas.
"Kenapa senyum senyum?" Terdengar suara yang membuat Uta menoleh ke arah suara itu.
"ALBER??" Matanya membulat karena tak menyangka ada Alber di sana, padahal jam pulang sekolah sudah 1 jam yang lalu. Normalnya, Alber sudah pulang dan tak disini.
"Gimana tadi?? berhasil nggak??" Tanya Alber menanyakan bagaimana remedial tadi. Mendengar itu Uta diam sejenak, kemudian memasang wajah sedih, membuat Alber juga ikut terdiam.
"TARA..!!!" Disaat Alber sudah berpikir bahwa ia adalah tutor yang gagal, tiba tiba Uta memamerkan lembar jawaban ujian remedial nya tadi, tepat di depan Alber. Alber menelisik kertas yang Uta pamerkan dihadapannya. Dilihatnya terdapat nilai 90 yang tertera di lembar jawaban itu
"Murid pintar." Ucap Alber bangga dan secara spontan mengelus lembut puncak kepala Uta.
"Alber ihhh ..." Protes Uta karena Alber mengelus rambutnya. Karena takut mentornya itu tersinggung, alih alih menepis tangan Alber, gadis itu memilih mundur 2 langkah, agar Alber tak bisa menjangkaunya.
"He .. he .. he .." Alber terkekeh melihat reaksi gadis itu.
"Komandan Alber, terima kasih banget ya. Prajurit Uta bisa sampai dapat nilai 90. Tapi mari kita akhiri les lesan fisika ini komandan. Kepala prajurit udah panas banget ini. Oke??? Please lah komandan." Ujar Uta dengan gaya lucunya kepada Alber. Alber tentu saja tertawa mendengar pernyataan Uta itu.
"Masa sih panas?? Coba gue pegang." Alber yang maju mendekat sudah langsung memegang kening Uta, seolah-olah ingin membuktikan apakah ucapan gadis itu benar atau tidak.
"JANGAN BERBUAT YANG TIDAK TIDAK DI TEMPAT SEPI. Jadi cewek tuh jangan suka godain laki-laki." Teriak seseorang yang suaranya familiar bagi Uta. Uta yang keningnya sedang dipegang oleh Alber, sontak mundur karena terkejut mengetahui siapa yang berteriak kepada mereka.
__ADS_1
Kak Felix ...*Uta
"Jaga kata-kata lo, omongan lo sudah melampaui batas. Tarik ucapan lo dan minta maaf ke Uta sekarang!!" Alber membalas teriakan tadi tak kalah tegasnya. Nampaknya ia tak terima dengan teriakan Felix tadi.
"Minta maaf?? untuk apa?" Ucap Felix dengan nada meremehkan ucapan Alber. Ekspresinya terlihat menantang ke arah Alber.
"Tuduhan anda gak berdasar sama sekali. Saya dan teman saya, gak melakukan apa-apa. Dan satu lagi, Uta nggak pernah menggoda saya seperti yang anda ucapkan. Tarik ucapan Anda dan minta maaf!!" Alber membantah segala tuduhan Felix dan meminta tegas pria itu menarik ucapannya. Nampak ia sudah mulai tersulut emosi.
"SORRY!! PUAS LO!!" Bukannya meminta maaf, Felix justru berlaku sebaliknya. Felix yang tidak terima, mendekat ke arah Uta dan Alber. Dengan wajah yang menantang, ia bahkan mendorong bahu Alber dengan sengaja agar laki-laki itu tersulut emosi.
"CUKUP!! Alber gue mau pulang." Teriak Uta menengahi dua laki-laki di depannya. Diraihnya lengan teman sebangkunya yang mulai tersulut emosi atas provokasi Felix. Alber yang merasakan tangan Uta bergetar di lengannya, membuatnya tak lagi menghiraukan Felix dan memilih mengikuti keinginan Uta.
Digenggamnya jemari Uta dan berjalan pulang meninggalkan Felix, yang masih berdiri di tempatnya. Genggaman itu tetap tertaut sampai dengan Uta masuk ke dalam mobil Alber.
Mobil sport hitam milik Alber berlalu meninggalkan area sekolah, diiringi sepasang mata yang menatap kepergian mereka dengan tajam dan rahang mengeras. Alber sesekali melihat gadis yang duduk di sampingnya, disela-sela mengemudikan setir mobil. Uta memalingkan wajahnya ke samping, menatap jalan lewat kaca mobil.
"Kenapa lo narik gue pergi Ta? Itu orang belum minta maaf dengan bener ke lo." Ucap Alber mempertanyakan alasan Uta menariknya pergi, di saat ia masih menuntut Felix meminta maaf atas ucapannya.
"Kenapa lo nangis?? Maaf, gue gak maksud marah ke lo Ta. Sorry sorry, udah jangan nangis Ta. Gue minta maaf." Bukannya mereda, air mata Uta malah bertambah deras.
"Huaa ... huuuu... huuu...." Uta makin nangis terisak.
"Eh kok malah makin deres nangisnya?? Ta are you okay?? Apa ada yang sakit??" Alber makin panik, karena air mata itu makin mengalir deras. Ia tak tau apa yang membuat teman sebangkunya itu menangis seperti ini.
"Sakit." Jawab Uta akhirnya dengan satu kata. Ia mau mukul-mukul area dada bagian kiri. Air mata bening itu masih mengalir deras dari dua bola matanya. Melihat itu, Alber jadi agak panik, ia berpikir Uta benar benar kesakitan sekarang.
"Gue antar lo ke dokter sekarang ya." Jawab Alber, mendengar Uta mengatakan ia sakit.
"JANGAN!!" Ucap Uta dengan mata membulat, mendengar Alber mau membawanya ke rumah sakit. Ia menoleh langsung ke Alber, untuk menahannya tak menjalankan mobil ke RS.
__ADS_1
"Kenapa jangan?? Gue takut jantung lo kenapa kenapa." Alber berpikir ada kenapa-kenapa dengan jantung Uta, sebabnya gadis itu memukul-mukul area dada kiri, di mana secara anatomi yang ia tahu, itu adalah letak organ jantung berada.
"Nggak usah Ber. I'm okay, yang sakit bukan jantung gue, tapi hati gue." Ucap Uta di sela-sela tangisnya. Air mata yang sempat terstop karena kaget mau diantar ke dokter oleh Alber, kini mengalir kembali.
"Maksudnya apa??" Mendengar itu otomatis Alber bingung. Ia diam sejenak menunggu penjelasan Uta lebih lanjut. Setidaknya ia tak sepanik dan sekaget tadi.
"Kakak senior tadi, mantan gue." Jawab Uta.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND