Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
5. Promise


__ADS_3

Author POV


"Ehm ... Apa ya?? Oh ya ... panggil Tuta aja gimana?" Tawar Uta lagi sementara bocil bingung.


"Nama auntie kan auntie Uta. Jadi Putri panggil aja Tuta. Tuta itu, Tante Uta atau auntie Uta, okey?” Kata Uta lengkap dengan senyum manis.


“Tuta okey.” Jawab bocah itu langsung setuju, membuat Uta terkekeh.


“Tos dulu dong.” Ajak Uta sambil menggangkat telapak tangannya yang langsung disambut dengan tangan mungil itu.


“Terus Putri kok sendiri? Mamanya Putri dimana?” Tanya Uta karena tak melihat siapapun yang menemani bocah lucu ini. Dilihat dari pakaian bermerek yang anak ini gunakan, mustahil dia anak jalanan. Ada kemungkinan ia terlepas dari penjagaan orang tuanya.


“Bunda tadi masih di tempat kelja Tuta.” Jawabnya disela sela makan ice cream tiramisu.


“Terus Putri kok bisa kesini sendiri?” Tetep usaha untuk mendapat secercah petunjuk.


“Tadi Putli jalan jalan ditempat Bunda, telus ada teman teman mau main. Putli ikutin teman teman, tapi telus Putli liat ada ayunan. Jadi Putli kesini sendili, teman teman gak ikut.” Jawabnya panjang lebar. Uta berusaha mencerna baik baik jawaban bocah ini. Namun perkiraan Uta, awalnya anak ini mungkin pergi mengikuti anak anak yang dia lihat tanpa memberi tahu Ibunya. Jadilah di taman ini dia hanya sendiri. Ada kemungkinan ia terpisah dari rombongan anak anak itu dan jadi tersesat sekarang. Artinya kemungkinan ibu dari anak ini pasti sedang kebingungan mencari anak gemas ini.


“Bunda Putri tempat kerjanya dimana? Bunda kerja dikantor apa sayang?" Berharap ada sedikit petunjuk tentang keberadaan orang tua anak ini.


“Bunda kelja ditempat buku buku banyak banget Tuta.” Jawab Putri polos.


Jangan jangan yang dimaksud pusda.*Uta


“Tempat kerja Bunda warna apa sayang?” Diajukan Uta sebagai pertanyaan penentu.


“Walna bilu” Binggo. Hampir bisa dipastikan gedung warna biru yang berhubungan dengan banyak buku, satu satunya hanya perpustakaan daerah dekat sini. Dalam hati ia bangga dengan kemampuan intel FBI dirinya. Tak sia sia dirinya menjadi penggemar salah satu serial komik detective Conan. Hawa hawa Shinichi Kudo seolah merasuk dalam dirinya.


“Yok Tuta anterin Putri ke Bunda.” Ajaknya ke gadis kecil itu.

__ADS_1


“Tuta gimana calanya?” Tanya Putri dengan wajah celemotannya. Tampak ice creamnya sudah habis. Melihat itu Uta terkekeh. Bocah gemas itu turun dari bangku taman. Ia lalu berjalan menuju tong sampah yang berada tak jauh dari bangku taman untuk membuang bungkus ice cream yang sudah habis itu. Bocah pintar ini inisiatif membuang sampah bahkan tanpa disuruh. Benar benar luar biasa orang tuanya mendidik bocah kecil ini pikir Uta.


Uta mengambil tissue basah yang ada di dalam tasnya. Dilapnya area mulut dan pipi terlebih dahulu, dilanjutkan membersihkan kedua tangan anak itu. Sementara yang di lap menurut saja dengan perlakuan Uta. Gadis celemotan itu sudah kembali imut menggemaskan.


“Udah oke. Yuk kita datangi Bunda." Ajak Uta sembari bangkit berdiri.


"Tuta gimana calanya?" Tanyanya benar benar gemas.


"Caranya kita jalan kaki, yuk Tuta anter.” Kata Uta menggandeng tangan anak manis itu. Mereka berdua berjalan keluar dari taman menyusuri jalan menuju arah swalayan, tempat Uta tadi membeli ice cream. Sepanjang jalan Putri tampak menunjuk tempat tempat yang ia lewati saat menuju taman tadi.


Baru akan memasuki gedung pusda, seorang wanita berteriak lalu memeluk Putri.


“Puput kamu dari mana sayang? Bunda cariin Puput dari tadi. Bunda takut banget Puput hilang diculik orang.” Ucap wanita berseragam pegawai pusda itu. Wanita yang mengaku Bunda dari Putri itu jujur perawakannya terlihat agak berbeda dengan bocil itu. Bocil terlihat sedikit berperawakan bule sementara Ibunya lebih ke Asia. Satu persamaan mereka yaitu keimutan wajah mereka.


“Bunda maafin Puput yah, Puput tadi ikut teman teman mau main. Tapi Puput ke taman sendili kalena mau naik ayunan.” Jelasnya sambil melihat kearah Uta. Putri yang sedari tadi memanggil dirinya Putri, mendadak memanggil dirinya Puput saat dengan Bundanya. Dari situ Uta menangkap, mungkin itu panggilan khusus Ibu dan anak itu.


“Puput gak boleh gitu lagi ya nak. Puput kasih tau Bunda kalau mau kemana mana ya sayang.” Menjelaskan ke anaknya dengan baik tanpa marah apalagi membentak. Ibu yang luar biasa pikir Uta.


“Tuta ayok sama Putli ke tempatnya Bunda, ayok ayok Tuta. Ayok ... Ayok Tuta ayok.” Ajaknya menarik narik tangan Uta antusias.


“Puput gak sopan langsung panggil nama tantenya sayang.” Ucap Bunda Putri mengingatkan anaknya dengan lemah lembut.


“Bukan bukan Bunda, bukan bukan. Tuta itu altinya auntie Uta.” Jelas gadis kecil itu super pede ke Bundanya. Padahal sepuluh menit yang lalu dia pun bingung. Bunda Putri menoleh pada Uta sesaat memastikan apa yang putri katakan memang benar.


"Maaf bu, Uta yang ajarin Putri manggil Tuta aja. Tuta itu auntie Uta. Biar lebih akrab dan gak berasa tua, he .. he.." Jawab Uta ke Bunda Putri sambil tertawa kecil. Ia juga tak merencanakan hal itu. Ide itu spontan saja meluncur dari mulutnya.


“Oh nama tante baik ini, Uta yah. Kenalkan saya Latifa, Bundanya Putri.” Ucap ibunda Putri sembari mengulurkan tangan kepada Uta mengajak bersalaman.


“Saya Uta Bu.” Jawab Uta sambil menyambut tangan Bunda Putri.

__ADS_1


“Gak usah panggil ibu, panggil saya Kakak aja. Saya belum tua tua benget kok. Gak apa apa kan?” Jawabnya ramah, tak lupa tersenyum manis kepada Uta.


“Eh iya Kak, he.. he..” Jawab Uta lalu tertawa ringan. Memang kak Latifah terlihat masih sangat muda, mungkin beliau salah seorang insan yang memilih menikah di usia muda.


Meskipun beliau sudah punya seorang putri tapi kalau orang tak tau gadis mini mouse ini putrinya, pasti beliau dikira anak kuliahan. Ibu dan anak sama sama imut, sebelas dua belas.


“Uta terima kasih ya sudah anterin Putri, kak Tifah sudah cariin di semua sudut pusda, tapi gak ada. Untung aja kamu nemuin Putri dan bawa kesini. Terima kasih banget ya Ta.” Ucap beliau tulus berterima kasih pada Uta.


“Iya Kak sama sama. Untung aja Putri cerdas banget kasih tau tempat kerja kakak, jadi saya anterin kesini.” Jawab Uta menjelaskan.


“Sekali lagi terima kasih banyak ya Ta.” Ucap kak Latifah sekali lagi.


“Iya sama sama Kak.” Kata Uta balik tersenyum.


“Tuta .. Tuta ayok ayok kita ke tempat Bunda.” Ajak Putri lagi pada Uta. Tangan mungil nya seolah memberi isyarat mengajak Uta agar ikut masuk kedalam bersamanya.


“Putri hari lain aja yah, Tuta mesti pulang dulu sayang. Nanti Mamahnya Tuta cariin Tuta sama kayak Bunda cariin Putri.” Gadis imut itu tampak sedih saat Uta menjelaskan tak bisa lanjut main dengannya.


“Tuta okey. Tuta tapi boleh gak dong next time main baleng Putli lagi?” Tanya gadis kecil itu menatap Uta penuh harap.


“Promise, Tuta promise.” Janji Uta pada Putri. Dan benar saja, gadis mini mouse itu kembali ceria setelah Uta berjanji padanya.


Setelah berpamitan pada kak Latifah dan Putri, Uta pun pulang kerumah dengan berjalan kaki. Meskipun pusda dan rumahnya lumayan jauh, tapi Uta sudah terbiasa. Usut punya usut Uta memang sering ke pusda semenjak kelas enam SD.


Meskipun bukan buku pelajaran yang lebih sering ia baca, tetap saja itu lebih baik dari pada tidak membaca sama sekali. Bukankah belajar bisa dari mana saja?? Sekalipun itu dari sebuah komik ataupun novel. Terkadang nilai atau pesan yang terdapat di komik maupun novel, sering kali melekat lebih kuat di ingatan melebihi buku pelajaran apapun.


Bersambung ..........


..._____________ Z _____________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2