![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta mendampingi Alber melihat setiap sudut bangunan tingkat 1 yang ingin ia jadikan tempat produksi cookiesnya. Meskipun sepanjang menganalisa proyek, Alber teramat sangat dingin. Ia benar-benar pelit bicara. Ia hanya akan bertanya pertanyaan singkat seperlunya saja.
Alber hanya sibuk dengan mengutak-ngatik ipad yang ia bawa, sebagai alat bantu dirinya bekerja. Sementara Uta tak berani sedikit pun bertanya diluar pekerjaan lagi. Teguran dari Alber tadi benar-benar menohok hatinya. Ia hanya menjawab apa yang Alber tanyakan sebagai kontraktor saja. Kabut canggung begitu tebal terasa. Rasanya ingin sekali gadis itu langsung menghilang dari sana.
"Bangunan ini akan lebih baik jika dirobohkan dan memulai kembali dari lini pondasi." Ucap Alber memaparkan sedikit analisanya, setelah mengamati secara detail setiap sudut area. Ia mengatakan hal tersebut sambil melihat sekitar, sementara Uta memilih menundukkan pandangan. Hanya indra pendengaran yang ia pasang kuat-kuat, untuk menyerap segala kata-kata Alber tanpa terkecuali.
"Ada beberapa keretakan yang cukup parah di berbagai sisi, karena umur bangunan ini sudah 30 tahun lebih. Untungnya, bangunan ini hanya satu lantai. Jadi pertimbangan bisa jauh lebih mudah." Lanjut Alber, kali ini menatap layar ipad. Menggeser beberapa foto keretakan bangunan ini yang sengaja ia ambil.
"Memulai dari awal memang sedikit memakan cost lebih besar dibanding memperbaiki bagian-bagian yang rusak saat ini. Tapi biaya maintenance-nya akan jauh lebih murah." Lanjutnya lagi. Uta hanya menyimak dengan diam.
"Jika memilih opsi perbaikan dan renovasi, cost akan jauh lebih murah. Tetapi sudah bisa di pastikan, biaya maintenance-nya akan membengkak, karena bangunan ini bangunan tua. Jika bangunan ini di peruntukkan untuk produksi bisnis, maka akan sangat mengganggu aktivitas produksi, setiap kali maintenance bangunan dilakukan." Ucap Alber, memaparkan gambaran kemungkinan masalah 3-4 step kedepan, membuat Uta jadi berpikir ulang.
"Anda bisa mempertimbangkan terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan. Besok silahkan temui saya, di cafe Z sekitar jam 1 siang. Saya akan membuat detail perencanaan sesuai kesepakatan esok." Ujar Alber mematikan layar ipad miliknya.
"Ini kartu nama saya. Hubungi saya jika anda sudah di cafe Z. Client saya bukan hanya anda seorang nona Uta. Khawatir saya terlupa, anda bisa menghubungi saya di nomor yang tertera." Ucapnya sembari menyerahkan sebuah kartu nama kepada Uta.
"Ya, akan saya pertimbangkan. Terima kasih tuan Alber." Jawab Uta. Gadis itu menerima kartu nama tersebut, tanpa menatap Alber sama sekali.
__ADS_1
"Kalau begitu, pertemuan hari ini saya rasa cukup. Saya pamit terlebih dahulu. Selamat siang." Ucap Alber. Laki-laki itu berjalan pergi, meninggalkan Uta yang terdiam sendiri disana.
..._____________ Z _____________...
Esok harinya ia bangun dengan perasaan berat. Kemarin sore ia sempat menelpon Reta untuk meminta penjelasan Panji. Namun informasi yang ia dapat, sama persis seperti yang Alber katakan.
Reta sama syoknya ketika mengetahui fakta lapangan dari Uta. Ia juga bingung dengan apa yang terjadi di situ. Bahkan klarifikasi dari Panji, semakin membuatnya bingung. Ini jugalah yang melanda pikiran Uta, sehingga gadis itu merasa, ini jauh lebih melelahkan dibandingkan badan yang jet lag kemarin.
Rencana yang telah ia susun rapi, mendadak buyar seketika. Setelah pertemuannya dengan Alber kemarin, ia memutuskan untuk langsung pulang. Ia membatalkan rencana menjemput mobil Reta dan meng-cancel berbelanja kebutuhannya selama di Jakarta. Kepalanya terlalu sakit. Ia hanya ingin segera pulang beristirahat.
..._____________ Z _____________...
Keesokan harinya, jam sudah menunjukkan pukul 12:40 siang, dimana Uta sudah duduk di salah satu bangku samping jendela cafe Z. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan menikmati suasana cafe. Alunan lagu yang diputar mengalun indah di telinganya. Segelas cappucino terhidang cantik di meja, untuk siap ia minum.
[Tuan Alber, saya sudah di cafe Z yang anda tentukan. Anda dimana? Apa sebaiknya di jadwal ulang saja?] *Uta
[Lima menit lagi saya sampai disana.] *Alber
Uta merasa perutnya mulai tak enak. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Gadis itu mencari obat maag dalam tasnya, namun nihil. Tepat disaat yang sama, seseorang menghampiri dan langsung duduk di depannya.
__ADS_1
"Maaf nona Uta, saya tadi sedang terhalang pertemuan penting." Ucap Alber yang duduk di hadapan Uta. Laki-laki itu sembari membuka kancing jas agar tak menghalanginya saat duduk dengan nyaman sekarang.
"Sebaiknya langsung pada inti ...nya ..." Ucap Uta to the point tak ingin basa-basi. Alber mengangguk sependapat. Namun belum selesai Uta bicara, Telepon milik Alber keburu berdering.
"Maaf, saya ada telepon." Ucap Alber lantas mengambil handphone dari saku dalam jas, kemudian menerima panggilan tersebut dengan mengalihkan wajah kesamping.
"Ya, halo... Sekarang aku lagi gak bisa... Nanti malam aja, aku antar periksa ke dokter kandungan ... Oke ... Ya... Ya... Waalaikumsalam." Ucapnya silih berganti dengan seseorang di ujung telepon. Sementara Uta yang duduk di hadapannya, memilih menundukkan pandangan saja. Ia tak berniat menguping, hanya Alber menerima telpon itu tanpa menjauhkan jarak.
"Maaf sekali lagi. Bisakah kita langsung ke inti pembicaraan saja?" Ucap Alber datar usai menyudahi sambungan telepon dan memasukkan benda pipih itu kembali kesaku jas miliknya.
"Ya, itu yang saya mau." Ucap Uta menatap lurus Alber.
"Jadi bagaimana keputusan nona Uta? Apakah nona sudah pikir matang-matang?" Tanya Alber yang juga menatap lurus Uta.
"Ya, saya sudah memikirkannya dengan sangat matang. Saya ingin membatalkan kerjasama dengan pihak anda."
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
__ADS_1
❤
ZEROIND