Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
19. Nambah


__ADS_3

Alber POV


"Ayok dimakan Ber." Tante Celine mempersilahkan ku untuk makan dengan ramah. Beliau menarik salah satu kursi meja makan kemudian duduk disana.


"Alber makan ya Tante." Izinku sebelum makan pada Tante Celine. Pertama tama aku memilih mencoba brownies yang tadi katanya beliau buat sendiri.


"Gimana browniesnya Ber?" Tanya tante Celine kepo mungkin dengan pendapatku.


"Enak banget Tante. Kayak yang dibeli di toko toko kue." Ucapku jujur tentang brownies itu. Ini benar benar enak, teksturnya yang lembut, coklatnya benar benar terasa dan memiliki rasa manis yang pas. Tidak kemanisan tapi juga tak terlalu manis. Seperti brownies dengan kualitas premium dijual yang dibandrol dengan harga fantastis. Tipe brownies yang jika dimakan langsung meleleh di mulut.


"Alber milk shake strawberry nya mau pake es atau enggak??" Tanya tante Celine lagi. Beliau terlalu gesit sampai-sampai pergerakan beliau sangat cepat. Perasaan tadi beliau masih duduk di kursi makan, namun sesaat berikutnya beliau sudah berpindah ke dekat kulkas yang ada di sudut ruangan.


"Terserah Tante aja, makasih Tante." Ucapku sopan ke Tante Celine. Rupanya ibunda dari Uta itu sibuk memblender strawberry, gula dan kawan kawan untuk disajikan kepadaku.


"Nih Ber, Tante pakein es batu biar lebih seger." Tante Celine menyerahkan segelas penuh milkshake warna pink itu kemudian duduk kembali di kursi yang beliau duduki tadi. Aku menerima gelas itu dengan kedua tangan sesopan mungkin.


"Terima kasih Tante." Ucapku tulus. Ku seruput minuman yang Tante Celine buatkan lewat sedotan yang sudah disediakan beliau di gelas itu.


"Wow enak banget Tan, rasanya fresh banget." Jujurku ke Tante Celine membuatnya tersenyum.


"Tante bikin pakai strawberry di halaman Ber. Baru di petik makanya rasanya fresh." Jelas tante Celine menjawab misteri milk shake strawberry yang kuminum. Spontan dua jempolku terangkat karena memang seenak itu.


"Rumah Tante keren banget. Banyak tanaman strawberry dimana mana, bisa dipanen buat diolah lagi. Ini Tante tanam sendiri atau pakai jasa tukang kebun?" Tanyaku antusias ingin tahu. Rumah bukan saja berfungsi sebagai tempat tinggal. Rumah juga bisa jadi cerminan dari penghuninya. Dan rasanya itu benar, sedikit banyak aku bisa merasakan kepribadian hangat dari ibunda Uta itu.


"Ya tentu nggak pakai tukang kebun dong. Mahal kalau sewa tukang kebun. Tuh pelakunya yang suka tanam menanam." Tunjuk tante Celine ke arah tangga yang mana Uta sedang menuruni anak tangga. Gadis itu turun memakai pakaian rumah, kaos oblong super longgar bewarna kuning gelap dan celana panjang bewarna hitam polos. Wajah polosnya terlihat lebih segar dengan rambut yang sedikit masih basah. Sepertinya dia habis mandi.


"Pelaku apaan Mah? gimana maksudnya?" Tanyanya sambil santuy menarik kursi tepat di depanku. Sehingga posisi tante Celine berada di tengah tengah aku dan Uta.

__ADS_1


"Itu strawberry kan kamu yang tanam semua. Kata Alber rumah kita keren banyak tanaman dimana mana. siapa lagi pelakunya kalau bukan kamu." Urai Tante Celine tersenyum melihat anaknya itu, sementara yang dilihat tetap santai. Jujur diriku sedikit terkejut dengan sisi Uta yang ternyata suka tanaman. Wajar karena memang gadis ini lumayan tertutup.


"Ya habis gabut kalau di rumah aja nggak ngapa-ngapain Mah. Mending Uta tanam menanam. Kan enak kalo rumahnya sejuk terus hijau macam area area piknik. Terus lumayan dapat bonus strawberry yang bisa dipetik." Ucap uta santai menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Aku memilih menyantap mi goreng lezat sambil mendengarkan ibu dan anak yang sedang berdialog di depanku.


"Uta mau milk shake strawberry dipakain es biar seger, mau?" Tanya tante Celine pada anak gadisnya yang asik mengunyah sepotong brownies.


"Enggak Mah, Uta air es aja." Jawab Uta karena dia hanya ingin air es saja.


"Uta makan ya, mi goreng punya Uta Mamah ambilin disamping bentar ya." Ucap tante Celine langsung bangkit dari duduknya.


"Mah Uta udah ke ... nyang." Dengan pergerakan cepat Tante Celine lekas menuju kearea samping yang tak lain dapur usahanya. Beliau keburu menghilang kedapur untuk mengambil seporsi mi goreng seafood untuk Uta bahkan sebelum Uta selesai bicara. Melihat itu aku tertawa terbahak bahak.


"Gue akuin nyokap lo best of the best banget Ta." Ucapku sambil mendorong mangkok mi goreng yang baru saja ku habisi. Tawaku masih belum reda walaupun Uta menatapku sebagai aksi protes karena aku menertawakannya.


"Alber lo bener bener ya.Kalau gue tau lo bakal mampir, mestinya kita gak perlu pake acara makan tongseng tadi. Mamah pasti nyuruh kita makan lagi. Tongseng yang tadi aja belum kecerna semua. Ditambah mesti makan mi goreng." Ucapnya padaku lengkap dengan wajah sebal tapi lucu itu. Mendengar protesnya tawaku sedikit mereda.


"Nih Ta makan dulu mi nya. Udah Mamah angetin biar panas." Ucap tante Celine menaruh mi goreng seporsi ukuran medium itu dengan semangat untuk Uta makan.


"Oh iya Mah, tadi Alber katanya mau nambah mi gorengnya Mamah. Enak banget katanya. Makanya pengen nambah." Ucap Uta tiba tiba. Aku sampai terkaget-kaget mendengarnya. Bagaimana tidak, perutku sudah sangat kenyang. Mustahil aku ingin menambah makanan.


"Aduh gimana dong Ta. Itu udah yang terakhir Ta. Mamah gak tau Alber mau kerumah. Itu tadi lebihnya catering tapi gak terlalu banyak." Ucap Tante Celine merasa bersalah.


"Gak apa apa kok Tante, ini aja udah cukup banget kok. Makasih banyak Tante." Ucapku buru buru karena panik dibilang mau nambah.


"Uta nyicip mi nya dikit aja ya mah, lagian Uta mau makan brownies Mamah. Nah ini lebihnya buat Alber aja. Kasian Alber pengen nambah gak kesampaian." Ucapnya sungguh sungguh. Nampaknya Uta ingin balik menjahiliku. Ia mengambil sesendok kecil mie goreng dan menaruhnya di piring kecil, lalu mangkok mie goreng yang penuh itu ia geser ke hadapanku.


"Nah iya gitu aja Ta. Mamah gak enak kalau sampe tamu main kerumah gak dijamu dengan baik. Makan yang banyak ya Ber. Nanti lain kali kalo mau ke rumah kasih tau Tante. Nanti Tante masak yang banyak. Oke." Ucap Tante Celine padaku. Aku akhirnya tak sampai hati menolak dan hanya bisa tersenyum pasrah. Kulirik pelaku utama yang bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi.

__ADS_1


"Ayok dimakan Ber. Dimakan aja pelan pelan. Gue percaya lo bisa Ber. Jangan malu malu." Ucap gadis itu sambil menahan tawa. Ia mengatakan kata-kata persis seperti yang ku ucapkan padanya tadi.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Wkwkwkw. Ayo Ber, kamu pasti bisa Ber.


🤣


By the way, sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2