![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"A ... Alber?" Begitu pintu terbuka, Alber langsung memeluk gadis yang menangis itu seerat mungkin. Sementara Uta memeluk balik Alber bak gayung bersambut.
"It's oke. Aku disini." Ucap Alber menenangkan Uta yang masih menangis sederas hujan. Ditepuknya lembut punggung gadis dalam pelukannya, agar tangisnya mereda.
"Jangan menangis. I'm here now." Dielusnya rambut hitam sebahu yang wangi itu, membuat Uta sedikit lebih tenang. Tangisnya perlahan surut.
"Alber..." Panggil Uta di sisa-sisa tangisnya. Suaranya terdengar pelan karena kalah dengan suara hujan. Beruntung Alber masih menangkap ucapan itu.
"Hemh ...?" Jawab Alber masih memeluk Uta erat. Gadis itu masih menyembunyikan wajahnya dipelukan Alber.
"Aku mau ..." Ucap Uta.
"Mau apa?" Tanya Alber yang tak tau konteks ucapan Uta apa.
"Aku mau jadi pacar kamu." Jawab Uta kemudian.
DEG .............
"Ta ...??" Alber sedikit merenggangkan pelukan mereka. Di rengkuhnya kedua pipi Uta yang sedari tadi gadis itu sembunyikan. Ia ingin mencari tahu, gadis itu serius atau tidak.
"Ka ... kamu gak bercanda kan?" Tanya Alber tak percaya. Ditatapnya kedua mata indah itu. Uta mengangguk lembut mengiyakan pertanyaan Alber. Tangannya masih setia memeluk pinggang atletis Alber.
"Serius?" Tanya Alber sekali lagi. Ia ingin memastikan indra pendengarannya tak salah menangkap perkataan Uta.
"Ya, ayo kita paca ..."
CUP .....
Ucapan Uta tak sempat selesai sebab Alber mencium bibir mungilnya. Laki-laki itu mencurahkan segala rasa yang selama ini terpendam untuk Uta.
Uta yang awalnya kaget tersentak, perlahan menutup matanya. Hanya deru hujan yang mengisi keheningan disana.
Hingga ciuman itu berakhir, mereka masih diam membisu. Alber hanya menempelkan keningnya ke kening Uta yang masih menutup mata. Kedua tangannya membelai lembut pipi mulus Uta.
__ADS_1
Tangan gadis itu yang semula di pinggang Alber, kini berpindah memegang pergelangan tangan Alber yang merengkuh wajahnya.
"Terima kasih." Ucap Alber lembut pada Uta.
"Terima kasih sudah menerima perasaan aku." Ujarnya lagi. Uta mengangguk menjawab Alber, laki-laki yang memperjuangkannya.
"Tapi Alber ..." Ucap Uta membuat Alber membuka matanya.
"Kamu basah kuyup." Ucap Uta menatap mata Alber.
..._____________ Z _____________...
Saat ini Alber sedang menunggu Baris datang menjemputnya. Rupanya Alber baru saja tiba dari Padang Panjang sekitar 1 jam yang lalu. Ia kemudian menyetir sendiri si hitam yang memang ia inapkan berbayar di parkiran bandara.
Namun ditengah kemacetan, Uta menelponnya dalam keadaan menangis ditengah hujan deras begini. Tanpa pikir panjang, Alber yang khawatir langsung menepikan si hitam di salah satu parkiran apotek yang sedang tak terpakai. Ditinggalnya koper di dalam mobil. Pikirannya hanya satu. Uta.
Ia kemudian nekat menerobos hujan dengan diantar ojek online yang lewat, agar tiba di rumah Uta secepatnya. Pikirannya tidak tenang jika tak memastikan sendiri Uta baik-baik saja. Hingga ia tanpa sadar memeluk Uta dengan kondisi basah kuyup disiram derasnya air hujan.
Uta lalu menyuruh Alber mandi dengan air hangat dan mengganti bajunya yang basah kuyup dengan baju Tama, adiknya. Untung saja tubuh Tama sekarang tak jauh berbeda dari Alber. Hanya saja Alber sedikit lebih kekar berotot. Jadilah Uta harus mencari baju Tama yang paling oversize agar otot lengan Alber bisa benafas lega.
"Uhuk .... uhukk...." Uta terbatuk mendengar Alber menggodanya.
"He ... he ... he ..." Alber tertawa karena tahu Uta sedang malu. Meski udara masih sangat dingin karena hujan, namun hatinya menghangat. Perjuangannya tak sia-sia karena Uta menerima perasaannya.
"Sudah kering." Ucap Uta lalu mematikan hair dryer.
"Terima kasih." Ucap Alber tersenyum melihat Uta. Gadis berpipi chubby itu tersenyum membalas ucapan Alber.
Uta kini sudah berganti piyama bintang-bintangnya dengan piyama lengan panjang bercorak bunga, sebab tadi ia dipeluk Alber yang basah kuyup.
"Sudah telepon Baris?" Tanya Uta duduk di dekat Alber. Dipeluknya bantal sofa sebagai pemisah jarak diantara mereka.
"Ya, tapi Baris masih terjebak macet." Jawab Alber meraih jemari tangan kanan Uta. Ia tak rela jemari cantik itu hanya memeluk bantal sofa.
"Apa yang membuatmu menjawab lebih cepat? Bukankah kamu meminta 1 minggu untuk berpikir?" Tanya Alber menatap mata indah Uta.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu memanggil Mamah Celine dengan sebutan Mamah?" Bukannya menjawab, Uta malah berbalik tanya.
"Sejak kema ... rin. Tunggu, kenapa bisa kamu tau hal itu?" Alber menyadari ada yang salah. Alisnya berkerut bingung.
"Reta mengirimkanku ini." Uta tersenyum memperlihatkan video yang Reta kirim.
"Ishhh Reta SPY...!!!" Ucap Alber tak menyangka, agendanya bocor lewat Reta.
"He ... he ... he ..." Uta terkekeh melihat pacarnya kesal.
"Apakah karena video ini kamu bilang iya?" Spontan Alber bertanya.
"Salah satunya." Jawab Uta tenang.
"Kenapa menggambar diriku di dinding kamarmu?" Tanya Uta pada Alber yang masih betah menatapnya.
"Kenapa kamu bisa tau?" Alber kembali terkejut. Kenapa Uta bisa tahu, pikirnya.
"Gak sengaja. Annem menyuruh aku mengambil gunting di meja belajarmu." Jawab Uta sambil menahan tawa.
"Wahh ... Aku terlewat info hari ini." Ucap Alber frustasi rahasianya terbongkar.
"He ... he ... he ..." Uta terkekeh. Rupanya Alber si jenius bisa juga frustasi, pikirnya.
"Aku kangen. Aku gambar karena aku kangen. Meski berlawanan dengan hatiku, tapi aku berusaha menepati janjiku menjauh dari kamu. Aku gak bisa lagi ngelihat kamu seperti dulu. Hanya itu. Hanya itu yang mengobati sedikit kerinduanku." Jawab Alber menggengam lembut tangan Uta. Ia memilih jujur, karena tak ingin menyembunyikan apapun dari kekasihnya ini.
"Maaf... Maaf karena waktu itu aku membohongimu."
Bersambung .............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1