![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Alber POV
Ku arahkan setir mobil melewati jalan padat merayap ibukota sampai di Z1. Meskipun kesabaran diuji karena macet, tapi entah kenapa suasana hati terasa cerah cerah saja, secerah langit pagi ini. Kuparkirkan si hitam di bawah pohon teduh, agar matahari tak terlalu terik menerjangnya. Kuraih ransel untuk segera bergegas turun dari mobil.
Sesosok yang sangat familiar keluar dari mobil yang terparkir tak jauh diseberang si hitam, langsung menyita perhatianku. Gadis dasi turun dari mobil bersama Edgar, salah satu teman sekelas kita.
Sebenarnya tak ada yang aneh dengan hal itu. Aku pun tak punya hak mengatur, dengan siapa saja gadis dasi ingin bergaul. Entah mengapa suasana hatiku tiba-tiba berubah tak secerah tadi. Kuputuskan untuk segera ke kelas saja, bertepatan dengan Reta yang berlari menghampiri mereka.
"Pagi Alber. Tambah semangat deh pagi pagi lihat yang bening begini." Sapa Tasya dengan nada khas nya plus senyum malu malu dan pipi merona.
"Pagi." Jawabku singkat, sambil berlalu melewatinya menuju kursiku. Kukeluarkan earphone dari dalam tas, lalu memasangnya di kedua telingaku. Kuputar lagu yang rasanya mampu membuat suasana hatiku kembali baik. Aku memilih duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada. Menutup mata saat menikmati musik yang terputar di telinga, sekaligus menghindari berinteraksi dengan siapapun saat ini.
Kurasakan ada pergerakan sesaat di meja sebelahku, lalu kemudian kembali tenang. Gadis dasi rupanya sudah memasuki kelas dan duduk di kursinya. Rupanya ia tak berinisiatif mengusikku dan memilih duduk tenang. Tak ada obrolan yang terjadi selama pelajaran berlangsung.
Bel istirahat berbunyi, menyebabkan kelas seketika kosong dan hanya menyisakan diriku dan Uta. Gadis itu mengeluarkan 2 buah kotak bekal dari sebuah tas khusus.
"Jeng jeng." Ucapnya dengan ekspresi ceria dan tersenyum kearahku. Mendengar suaranya yang mungucapkan sesuatu dengan penuh percaya diri, ditambah melihat wajahnya yang chubby membuat senyum di wajahku mengembang tanpa bisa ditahan. Suasana hati ku juga seketika membaik. Hilang sudah perasaan kesal tak jelas tadi pagi.
"Bekal hari pertama Alber Syargan Farabaks." Membukakan tutup bekalku dengan bangga. Aku tak bisa tak tertawa saat melihat tingkahnya. Dia kemudian lanjut menaruh sendok garpu dan juga sebotol air mineral di dekatku. Lucu juga, aku serasa seperti murid TK.
"Wah ... Dari visualnya pasti enak." Ayam bumbu kecap, oseng kembang kol dan wortel, bihun goreng, kentang balado, 2 buah tahu goreng tepung, sambal bawang dan kerupuk. Semuanya nampak menggugah selera, sampai-sampai aku bingung mau mulai dari yang mana.
"Berdoa dulu." Ucapnya, lantas langsung membaca doa makan dengan khusyuk. Aku pun langsung otomatis mengikutinya berdoa sebelum makan.
"Terima kasih." Ucapku kemudian kepada Uta, karena sedari tadi belum sempat mengucapkan terima kasih padanya.
"Sama sama. Silahkan dimakan." Gadis itu menganggukkan kepala pelan dan bersiap juga untuk mulai makan. Ku ambil menu yang menarik perhatianku sejak awal. Ku gigit tahu goreng tepung yang sedari tadi memanggil-manggil ku untuk segera memakannya.
"Wow ... " Aku betul-betul takjub dengan rasa dari tahu yang aku cicipi. Kulihat gadis dasi, ternyata dia juga sedang memakan tahu goreng yang sama denganku, tapi bedanya ia mencocolkan tahu itu dengan sambal bawang.
"Olahan tahu ini nama apa Ta? Tahu goreng?" Tanyaku benar-benar ingin tau, karena sepertinya ini top 3 tahu goreng terenak yang pernah ku cicipi.
"Lebih tepatnya tahu walik." Jawabnya memberi tau nama yang tepat.
"Dinamakan walik yang berarti terbalik, karena cara membuat tahu walik ini memang dengan cara dibalik. Cemilan berbahan dasar tahu khas Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya isi dalamnya bisa bervariasi. Ada yang diisi pakai bakso aci, daging, ayam, sayur-sayuran atau kombinasi. Tergantung yang membuat, sukanya mau pakai apa. Cobain di cocolin ke sambal deh Ber, pasti lebih enak." Ku praktekkan barusan apa yang gadis itu sarankan. Ku cocolkan tahu yang kupegang ke sambal bawang buatan Tante Celine lalu memakannya.
"Enak?" Tanya Uta penasaran bagaimana pendapatku, setelah mencoba sesuai sarannya.
__ADS_1
"Parah." Ku acungkan dua jempol yang menandakan bahwa, rasanya benar-benar enak. Gantian dia yang terkekeh geli.
"Berangkat sama siapa tadi?" Pertanyaan yang kutembak langsung, saat gadis itu masih tertawa.
"Edgar." Jawabnya singkat di sela-sela tawanya.
"Ketemu dijalan?" Tanyaku lagi, mencoba
mengorek-ngorek informasi, bagaimana bisa mereka berangkat bersama.
"No. Edgar ngajakin berangkat bareng." Jawabnya tetap santai, kali ini sambil menggigit kerupuk udang.
"Kalian pacaran?" Pertanyaan yang akupun kaget mengucapkannya. Tiba tiba saja rangkaian kalimat tanya itu lepas dari mulutku.
"WHAT??? Ha ... ha ... ha. Lo tahu enggak ini hal paling kocak yang pernah gue dengar." Wajahnya terbelalak untuk sepersekian detik, baru kemudian lanjut tertawa terbahak-bahak.
"Kocak di mananya? Gue benar-benar nanya Ta." Tanya ku benar-benar tak mengerti di mana letak 'kocak' yang ia sebutkan.
"Ya kocak lah, Edgar itu sahabat gue dari kecil. Kami berdua sahabatan dari TK." Jelasnya sambil sedikit mengusap ujung matanya. Ia memang benar-benar tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai keluar sedikit air mata.
"Jadi kalau Edgar bukan sahabat lo, kalian bakal pacaran?" Tanyaku menanggapi balik ucapan Uta sebelumnya.
"Kenapa? Sepertinya Edgar tipe yang disukai banyak cewek." Komentar ku jujur, menilai Edgar dari sudut pandang yang sesuai kenyataan.
"Kalaupun Edgar bukan sahabat gue, gue tetap gak mau. Alasannya karena dia terlalu tampan. Terlalu perfect." Jawab gadis itu membuatku bingung.
"Bukankah punya cowok tampan itu impian semua cewek??" Ucapku menyampaikan opini ku.
"Hemh ... Gue dulu juga berpikir begitu. Tapi pengalaman membuat gue sadar diri, laki-laki tampan terlalu mustahil menyayangi perempuan sebiasa gue. Lagian gue sama Edgar, satu sama lain bahkan gak ada di radar suka masing-masing. Edgar pun udah punya cewek yang dia sukain." Ucap Uta menunduk, sambil mengaduk-ngaduk makanan dalam kotak bekalnya.
"Gue pikir lo deketnya cuman sama Reta?" Masih mencoba mengkonfirmasi dengan sengaja menggeser sedikit topik. Aku dapat menangkap sedikit nada kesedihan dalam ucapan gadis itu.
"Ya, kami bersahabat bertiga. Gue memang bersahabat lebih dahulu dengan Edgar. Gue dan Edgar bertemu Reta saat masuk SMP. Sejak saat itu kita bertiga bersahabat sampai sekarang." Urainya menjelaskan bagaimana mereka bertiga bisa bersahabat sampai saat ini.
"Jadi kalian emang sering berangkat bareng ke sekolah?" Pertanyaan yang sebenarnya tak ingin ku tanyakan padanya.
"Ya dari dulu. Bahkan Papa Edgar sering banget antar jemput gue sama Edgar sejak TK." Jawabnya mengenang kembali masa-masa dulu yang sedikit membuatku memutar otak.
__ADS_1
"Kalau Papa lo? Jemput kalian juga?" Tanyaku spontan saja.
"Ehm ... Papah gue sibuk, jadi sering gak bisa jemputin gue." Kusadari air muka Uta sedikit berubah sendu. Tapi dirinya berusaha menyembunyikan hal itu dengan baik agar tak dapat ku baca.
"BTW masakan Tante Celine enak banget. Gila ... Gue bangga banget sama keputusan gue buat catering bekal ke nyokap lo." Ku putuskan untuk mengganti topik pembicaraan dengan gadis dasi, agar sendu di wajahnya menghilang. Dan berhasil, ia tertawa mendengar perkataanku karena membanggakan diri sendiri.
"Ber jujur deh, lo lahir dan besar di Indonesia pasti enggak bener kan?" Tanyanya dengan kedua alis hampir menyatu.
"Ya enggak dong. Gue beneran lahir dan besar di Indo. Kenapa mikir itu gak bener?" Ucapku benar-benar ingin tahu, apa alasan ia sampai mengira aku tak benar-benar lahir dan besar di sini.
"Ya habisnya lo kayaknya kaget mulu, tiap kali nyobain enaknya masakan Indonesia. Masa iya lo lahir dan besar di sini, tapi nggak pernah nyobain masakan Indonesia sama sekali?" Jelasnya, menguraikan alasan dibalik pertanyaannya itu. Dan menurutku alasannya itu make sense.
"He ... he ... he. Ini semua karena Annem memang sedari kecil di Turki. Annem baru pindah ke Indonesia saat menikah dengan Babam. Jadi Annem terbiasa makan dan masak makanan Turki. Dan Babam sangat membebaskan Annem dengan hal itu." Ujarku menjelaskan padanya.
"Di sisi lain Annem bilang, dia ingin anak-anaknya bergaul disini sesuai dengan budaya Indonesia tetapi juga tidak lupa dengan budaya Turki. Jadilah di rumah gue jarang banget makan makanan Indonesia. Yang ada menu-menu Turki supaya tetap merasa Turki bagian dari diri." Lanjutku lagi, menceritakan padanya alasan dibalik diriku sedikit sekali tahu masakan Indonesia.
"Makan yang banyak wahai mister Alber." Ucapnya dengan nada yang lucu. Di berikannya tahu walik miliknya, dengan meletakkan tahu itu di atas bekal ku. Kami berdua saling melihat sesaat, lalu kemudian tertawa bersama. Take and give yang menciptakan tawa.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
__ADS_1
❤
ZEROIND