![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Lanjutan Flashback
Felix POV
Masalah tak berhenti sampai di situ. Devina memberitahu Mami tentang kejadian ini. Entah apa yang ia bicarakan, hingga membuat Mami sangat marah melihat kondisiku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mami bersikeras untuk melaporkan ini ke pihak sekolah, karena kejadian ini terjadi di area sekolah walaupun sudah jam pulang.
Tentu saja aku tak setuju. Mungkin tak apa bagi Edgar, setahuku ia anak salah satu pengusaha besar di negeri ini. Pasti tak akan susah baginya mendapatkan sekolah dengan kualitas yang sama bagusnya dengan Z1, jika pun ia harus pindah ke sekolah. Namun tidak dengan Uta.
Gadis itu bisa bersekolah disini karena beasiswa kurang mampu, yang sekolah adakan. Ia pasti akan terdampak, jika kasus perkelahian ini sampai ke pihak sekolah dan aku tak ingin ke terjadi. Aku sudah sangat menyakiti gadis itu. Setidaknya, aku tidak ingin luka itu semakin dalam.
Mati-matian aku memohon kepada Mami, agar tidak meneruskan permasalahan ini. Apapun yang Mami dan Papi inginkan akan aku lakukan, meskipun bertentangan dengan kemauanku. Meski belum menentukan keputusan final, minimal Mami dan Papi sepakat menunda pelaporan, sampai aku pulang dari rumah sakit. Mereka berkata akan bicara serius, sepulangnya aku dari tempat ini.
Walau masih was was, tapi minimal Uta masih aman untuk beberapa hari kedepan. Mami dan Papi yang ku kenal, memang sosok orang yang keras dan tak bisa dibantah kalau sudah punya mau, tetapi mereka berdua belum pernah mengingkari perkataannya sekali pun dalam hidupku. Aku sudah bertekad saat bicara serius nanti, bagaimana pun caranya mereka harus sepakat menutup kasus ini.
Setelah kondisiku agak mendingan, ku ambil handphone yang terletak di atas nakas tepat di samping ranjang pasien, tempatku terbaring. Kucari sebuah nomor yang belakangan ini, menjadi kontak tersering yang aku hubungi. Aku memberanikan diri menelponnya, berusaha memberi penjelasan meski lewat panggilan telepon.
Tersambung, namun tak diangkat. 10 kali panggilan teleponpun tetap tak diangkat. Ku kirimkan pesan berisi penjelasan dan permintaan maaf. Di pesan itu aku juga memohon kesempatan padanya untuk bertemu, agar kita bisa berbicara empat mata. Tetap tak ada balasan.
__ADS_1
Aku sangat mengerti Uta bersikap seperti itu. Hal itu pantas kuterima. Tapi tentu saja aku tak menyerah. Setiap hari ku kirimkan pesan permintaan maafku padanya. Tak masalah Uta belum mau meresponnya.
Yang kuinginkan saat ini adalah segera pulih dan keluar dari rumah sakit. Aku akan mendatangi Uta dan menjelaskan semuanya. Aku sama sekali tak pernah menganggap kami benar benar putus. Bukan. Lebih tepatnya, aku tidak rela putus darinya.
Hingga 3 hari kemudian, disaat diriku hendak pulang meninggalkan rumah sakit, karena sudah di perbolehkan oleh dokter. Sebuah pesan dari Uta masuk. Senyum lebar secara otomatis muncul menghiasi wajahku yang sebenarnya masih nyeri, akibat hantaman bringas Edgar.
Berharap 3 hari kemarin, Uta jadi sedikit melunak dan berubah pikiran untuk memberikan setidaknya kesempatan padaku sekali lagi. Kalaupun itu harapan yang terlalu tinggi, minimal ia mau bertemu dan ngobrol 4 mata denganku. Aku berjanji akan menjelaskan sejujur jujurnya padanya, termasuk perasaanku untuknya. Tak sabar ku buka pesan itu.
[Assalamualaikum. Kak Felix apa kabar? Mudah-mudahan lukanya sudah membaik. Maaf terakhir kali Uta bentak Kak Felix, tapi Kak Felix yang paling tahu kenapa alasannya. Maaf juga nggak respon telepon Kakak. Uta butuh waktu untuk menenangkan hati dan berpikir dengan kepala dingin. Tapi perkataan kemarin tetap tak berubah. Uta tetap pengen kita putus saja. Toh faktanya cinta itu tak pernah benar ada.
Memang benar kejadian kemarin membuat Uta terluka dan Uta marah, sekaligus kecewa sama Kakak. Tapi, tiga hari ini, Uta berpikir ulang Kak. Selain kejadian kemarin, Kak Felix gak pernah menyakiti Uta, selalu baik dan ngejagain Uta. Kak Felix selalu membuat Uta bahagia, meskipun pada akhirnya Uta tahu, semua itu hanya sandiwara. Tapi bagi Uta perasaan itu nyata. Uta benar-benar bahagia. Oleh karena itu, Uta pengen bilang, terima kasih Kak Felix. Terima kasih sudah pernah membuat Uta bahagia.
Untuk itu, kedepannya Uta mohon dengan sangat, kita tidak lagi berhubungan. Tidak lagi bersinggungan maupun saling menatap. Bertemu hanya akan membuka luka yang ingin Uta tutup rapat rapat. Meskipun kenyataannya Uta tidak berharga dimata kakak, tapi paling tidak, anggaplah ini permintaan dari seorang teman.
Setidaknya, bantu Uta untuk tak insecure lebih dalam dengan diri Uta sendiri. Karena jujur, Uta yakin setiap Uta bertemu dengan Kak Felix, Uta akan teringat, betapa tak berharganya nilai diri ini. Jadi lebih baik, untuk kita menjaga jarak sejauh mungkin.
Ini mungkin pesan terakhir yang Uta kirim. Setelah ini segala akses komunikasi dengan Kak Felix akan Uta hapus. Uta minta maaf kalau selama ini sering membebani dan bikin Kak Felix malu. Sekali lagi terima kasih Kak. Terlepas apapun, Uta selalu yakin Kak Felix orang yang baik. Semoga Kakak mendapatkan Kak Devina, wanita yang Kakak inginkan. Tulus dari hati, Uta berdoa Kak Felix selalu bahagia.
__ADS_1
Sudah dulu ya Kak. Pesannya udah kepanjangan. He ..he .. Uta pamit ya Kak.
Assalamualaikum]*Uta
Tanpa sadar air mataku meleleh membasahi rahang tegas ku. Aku tak mampu berkata-kata membaca pesan darinya. Terlebih saat ia mengatakan bahwa, aku menganggapnya tak lebih dari sebuah barang. Hatiku rasanya tersayat sayat ribuan belati. Jutaan kali lebih sakit ketimbang saat Edgar mengabisiku kemarin.
Bod*h. Pria bod*h. Diriku benar benar tak lebih dari manusia bod*h. Bod*h sekali aku mempermainkan hati seseorang hanya untuk mendapatkan hati yang lain. Aku tau aku yang menyetujui misi taruhan itu. Tapi sungguh saat ini, mengingatnya pun aku muak. Aku muak pada diriku sendiri. Aku yakin taruhan itu hal terbod*h yang pernah kulakulan seumur hidupku.
Perasaan bersalah dan menyesal karena sudah mempermainkannya bertubi-tubi mendera relung hatiku. Andai saja kehidupan bisa diputar kembali, maka aku berjanji dengan seluruh jiwa dan ragaku untuk tidak menyakitinya.
Sekembalinya pun aku bersekolah, aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Melihat tapi tak bisa mendekat membuatku tertohok. Satu hal yang pasti, Uta telah pergi membawa seluruh hatiku. Ya, aku jatuh cinta padanya. Sialnya, aku baru menyadari, di saat dia sudah tak ingin kembali.
Flashback ends.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
❤
ZEROIND