Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
64. Drama Korea Tak Seindah Realita


__ADS_3

Author POV


"Yah ... entah jalan keluar atau nongkrong, atau kencan sama pacar kamu mungkin." Ucap Uta dengan tenang sambil telaten menyusun cookies ke dalam toples.


"Uhuk ... uhuk ..." Alber yang lagi minum sampai terbatuk mendengar ucapan Uta barusan. Bahkan air yang ia minum sampai menyembur sangking kagetnya.


"Ya ampun, minumnya pelan-pelan aja Ber." Uta spontan menepuk-mabuk punggung belakang Alber agar batuknya mereda.


"Pacar? Pacar apanya? Aku gak punya pacar." Ucap Alber seusai batuknya reda. Ia bahkan menanyakan apa yang Uta maksud barusan.


"Wkwkwk ... Bohong banget." Uta sempat terdiam sesaat baru kemudian tertawa ngakak.


"Aku nggak bohong Ta. Kenapa kamu bisa mikir aku punya pacar?" Berbeda dengan Uta yang tertawa ngakak, Alber justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ia benar-benar serius menanggapi pernyataan Uta, terlebih gadis itu menganggapnya sedang berbohong.


"Harusnya aku yang nanya, kenapa cowok setampan kamu masih jomblo?? Gak masuk akal banget. Padahal sudah pasti cewek-cewek pasti pada ngantri jadi pacar kamu." ucapnya memaparkan penilaiannya, seusai tawanya mereda.


"Jadi menurut kamu aku tampan?" Mendengar ucapan Uta, Alber otomatis tersenyum lalu sengaja memindahkan topik yang menurutnya jauh lebih penting. Hilang semua kata kata Uta yang panjang lebar barusan. Hanya pernyataan Uta yang mengatakan dirinya tampan, yang tersisa.


"Bukan tampan lagi, tapi ganteng pakai banget." Ucap Uta tanpa ragu sedikitpun. Makin lebar lah senyum di wajah Alber.


"Kalau aku ganteng pakai banget, mungkin gak suatu hari nanti kamu suka sama aku?" Tanya Alber yang penasaran tentang isi hati Uta.


"No." Jawab Uta telak, membuat senyum di wajah Alber seketika musnah.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Alber lagi.


"Aku pengennya laki laki yang biasa aja. Spek nya kamu ketinggian. Aku gak mau punya ekspektasi ketinggian, biar kalau jatuh gak terlalu sakit." Jawab Uta jujur dari hatinya.


"Perasaan aku biasa aja deh. Kelebihan aku juga gak banyak." Jawab Alber tak setuju dengan penilaian Uta atas dirinya. Uta seketika berhenti menyusun cookies dan menatap Alber. Ia memberikan isyarat agar Alber mendekat kepadanya. Melihat isyarat itu, Alber yang paham mendekat ke arah Uta. Ia juga merendahkan tinggi badannya sebab Uta mau membisikkan sesuatu.


"Ber, lo pergi swab deh." Bisik Uta menyarankan Alber untuk periksa kesehatan, sebab jawabannya barusan begitu tak masuk akal bagi gadis itu. Alber yang disuruh swab malah tertawa ngakak, karena tak menyangka sama sekali dengan jawaban Uta. Lagi lagi jawaban out of the box meluncur dari gadis chubby itu.


"Aku gak sakit Ta. 100 persen sehat dan gak perlu swab sama sekali." Ucap Alber setelah tawanya mereda.


"Lagian kamu kalau ngomong ada-ada aja. Kayak begini kamu bilang gak banyak kelebihan, terus gimana yang banyak? Perasaan aku tuh, kamu lebih semua-muanya deh. Kadang-kadang aku sampai mikir, kayaknya kamu bukan manusia deh, sangking gak ada kurangnya. Ehem ... ehem ... Duh jadi haus gara gara kebanyakan ceramah." Gadis itu pergi meninggalkan Alber dengan membawa toples terakhir yang sudah penuh terisi palm cheese cookies.


Alber hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Uta itu, menurutnya Gadis itu memiliki keunikan yang tak dimiliki oleh wanita-wanita yang pernah ia kenal. Bahkan bisa dibilang Uta perempuan yang paling tak tertarik pada dirinya, dan menganggapnya benar-benar hanya teman dan tak lebih.


____________ Z ____________


Dirinya ikut tertidur beberapa jam yang lalu saat menemani Putri tidur siang. Biasanya Putri akan terbangun sekitar jam 4. Tapi saat ini sudah hampir jam lima, gadis kecil itu masih tertidur pulas. Mungkin akibat efek samping menjadi asisten, dalam pembuatan cookies tadi.


Sebelum bangkit Uta merapikan kembali selimut Putri. Dirapikannya helai helai rambut yang berceceran menutupi wajah bocah kecil itu. Tak lupa Uta juga mencium pipi Putri yang sangat-sangat empuk untuk dicium.


Nampaknya energinya terkuras banyak, karena memang tadi Putri sangat-sangat aktif membantunya. Uta memutuskan tidak membangunkan Putri, supaya tidurnya puas. Uta berjalan perlahan keluar kamar dan menutup pintu sepelan mungkin. Setelah berada di luar kamar baru Uta menyadari ternyata di luar sedang hujan.


"Eh kak Syiba. Kakak udah dirumah toh." Sapa Uta saat melihat Syiba sedang duduk di meja makan, dengan sebuah laptop menyala di depannya dan segelas air putih bertengger di samping laptop tersebut.

__ADS_1


"Udah dari tadi sih Ta. Gimana tidurnya, kayaknya pulas banget Ta." Sapa Syiba balik sambil sedikit terkekeh geli.


"He .. he .. he .. Kak Syiba ke kamar tadi?" Tanya Uta Sambil ikut terkekeh menyadari kemungkinan besar Syiba tadi ke kamar dan melihat ia serta Putri sedang pulas tidur siang.


"Iya tadi kakak cariin, tapi Bi Darmi bilang kalian ada di kamar. Pas Kakak ke sana, kalian berdua tidur pulas banget kayaknya. Sekarang si bocil masih tidur?" Dan benar saja. Jawaban yang Syiba berikan tepat seperti yang Uta duga.


"Tidur sepulas pulasnya. Kayaknya kecapean Kak, soalnya tadi habis rodi bikin cookies. He .. he .. he .." Jawab Uta cengengesan mengingat kerja rodi saat membuat palm cheese cookies tadi.


"Tapi cookies nya enak banget Ta. Kak Syiba nyobain tadi, eh keterusan sampai setengah toples. Kayaknya salah satu palm cheese cookies terbaik deh yang pernah Kak Syiba coba. Duh bahaya nih, bikin khilaf." Ucap Syiba jujur memuji, karena memang seenak itu di lidahnya.


"He .. he .. he .. Syukur deh kalau Kak Syiba suka. Oh ya Kak, Uta mau sekalian izin pamit pulang, udah jam lima juga Kak. Titip Putri ya Kak, gak lama lagi kebangun kayaknya dia Kak." Mendengar pujian Syiba membuat Uta tertawa malu. Tak lupa dirinya juga sekalian pamit pulang ke Syiba.


"Urusan Bocil mah aman Ta, tenang aja. Kamu pulang naik apa Ta? Hujan loh, diantar Pak sopir aja ya." Tanya Syiba menawarkan Uta untuk diantar oleh driver rumah saja.


"Gak usah Kak. Mumpung hujan, Uta kepengen naik bus aja. Rencananya biar kayak drama-drama Korea itu loh Kak. Hujan-hujan naik bus, terus sambil denger radio kayaknya keren deh." Tolak Uta halus, ia bahkan bercerita angan-angan yang ingin ia laksanakan saat keadaan hujan begini. Syiba yang mendengar apa yang Uta ucapkan, otomatis menggelengkan kepala.


"Drama Korea tak seindah realita you know." Ucap Syiba yang mencoba menyadarkan Uta realita sesungguhnya.


"He .. he .. he .. Itu sih kalau setiap hari Kak. Kalau cuman sejam dua jam sih, kayaknya masih indah deh." Ucap Uta cengengesan. Syiba geleng geleng nyerah.


Bersambung ............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2