![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Keesokan harinya, Uta masuk sekolah seperti biasa. Alber sudah menawarkan untuk menjemput Uta berangkat bersama ke sekolah, tapi gadis itu menolak dan mengatakan besok ia akan berangkat ke sekolah dengan Edgar. Alber akhirnya mengurungkan niatnya.
Tak jauh berbeda dengan Mamah Celine, yang berkali kali memastikan Uta baik-baik saja untuk bersekolah hari ini. Beliau bahkan memberikan opsi kepada Uta, boleh untuk tidak masuk sekolah kalau merasa perasaannya belum baik. Tapi Uta menolak hal itu, ia merasa perasaannya sudah membaik, terlebih kemarin sudah menangis sepuasnya dipelukan Alber. Ia yakin perasaannya akan jauh lebih baik jika bersekolah, karena pasti akan banyak aktivitas di Z1. Dan itu ampuh mengalihkan fokus pikirannya ke hal positif.
Sesampainya di sekolah, Uta terlihat masuk kelas sendiri, meskipun ia berangkat bareng dengan Edgar. Sahabat laki-lakinya itu ngacir terlebih dahulu ke area kelas sebelah, untung saja Reta tak melihatnya. Uta tak tega, jika sampai Reta melihat Edgar menyambangi kelas Ella.
Saat Uta memasuki kelas, Alber sudah datang duluan dan sedang duduk di bangkunya. Tampak ada beberapa anak yang berada di sekitar Alber, sedang asik membicarakan sesuatu hal yang tampak di layar handphone mereka. Entah perasaan Uta saja atau bukan, Alber yang asik berbicara mendadak mengunci pandangan setelah mendapatinya muncul di pintu kelas.
Sorot mata itu terus berlanjut, bahkan sampai Uta duduk di bangkunya. Terus ditatap Alber, membuat Uta jadi sedikit bertanya-tanya, ada apa Alber melihatnya? Apa ada yang salah dengan dirinya, sampai Alber melihatnya seperti itu? Anak-anak yang tadi asik membahas sesuatu dengan Alber, satu persatu mulai kembali ke bangku mereka masing-masing.
"Your oke?" Tanya Alber pada teman sebangkunya yang baru duduk. Rupanya tatapan tadi adalah tatapan khawatir. Kejadian kemarin membuat Alber masih sedikit menghawatirkan mood Uta.
"I'm fine Ber." Jawab Uta jujur dari hati. Ia menangkap ada nada khawatir dari pertanyaan Alber. Uta jadi tersenyum karena perhatian teman barunya itu.
"Buat lo." Alber menyerahkan sebuah paper bag dari dalam lacinya kepada Uta.
"Alber, aku bukan anak kecil. Aku bukan Putri." Protes Uta melihat apa yang berada didalam paper bag itu. Alber memberikannya berbagai macam coklat dan permen, membuat Uta merasa seperti bocah kecilnya saja. Alber hanya mengangguk angguk mengiyakan Uta yang bukan anak kecil.
_____________ Z _____________
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Uta sudah mengeksekusi dua jenis coklat dan satu jenis permen. Berbanding terbalik dengan ucapannya 10 menit lalu.
"Alber, aku bukan anak kecil. Aku bukan Putri. Si paling dewasa. He .. he .. he .." Ucap Alber menirukan ucapan Uta tadi. Uta yang lagi asik memakan coklat ke empatnya, mendadak jadi berhenti dan menoleh ke Alber.
"Aku makan coklatnya gak celemotan, you know?" Jawabnya membela diri. Menjelaskan perbedaannya dan Putri. Alber hanya melihatnya dengan senyum super jahilnya.
"Good girl." Ucap Alber pada Uta, seolah-olah sedang memberi pujian kepada Putri, seperti yang biasa ia lakukan.
"Ishh ... Nyebelin." Jawab Uta dengan tatapan protes, membuat Alber tertawa. Alber sengaja memberikan Uta coklat, agar perasaannya membaik.
Faktanya, saat seseorang mengonsumsi cokelat, ada beberapa hormon yang dilepaskan dalam tubuh kita karenanya. Seperti misalnya, kandungan tryptophan dalam coklat yang memproduksi serotonin, berfungsi menghasilkan perasaan bahagia seseorang.
Berikutnya, kandungan phenylethylalanine yang memproduksi zat endorfin, berfungsi menjadikan kita nyaman dan menghilangkan stress.
_____________ Z _____________
Waktu pulang sudah tiba, Alber yang masih ingin memastikan Uta baik-baik saja, mengatakan akan mengantar Uta pulang. Tapi Uta kembali menolak. Ia mengatakan seminggu kedepan, ia dan Edgar akan berangkat dan pulang bareng.
Edgar sedang tak terlalu sibuk minggu ini, sehingga bisa langsung pulang setelah Z1 usai. Dan Uta tentu setuju nebeng dengannya, sebab rumah mereka searah, bahkan jarak rumah mereka tak sampai 10 menit, jika ditempuh dengan mobil.
"Yok Ta, deluar Ber." Ucap Edgar berjalan menuju pintu kelas. Tak jauh di belakangnya, Reta juga berjalan ingin pulang.
__ADS_1
"Ya, hati-hati." Jawab Alber pada Edgar.
"Alber, aku deluan ya, bye." Ucap Uta yang diangguki oleh Alber. Uta kemudian meraih tasnya, lalu berjalan menyusul Edgar dan Reta.
"Gila ya, kangen gue pulang bareng Tom and Jerry kesayangan ini." Celoteh Uta memecah kecanggungan antara Reta dan Edgar. Ia merasa belakangan ini, Reta dan Edgar seperti dalam mood yang berubah-ubah.
"Gimana lo ikut kita Re, sekalian kita bedua nebeng Edgar. Kalo nebeng jangan nanggung nanggung, iya gak pak supir?" Goda Uta pada kedua sahabatnya.
"Pak Eman sudah nunggu gue Ta. Kalian dua hati hati pulangnya. Gue deluan Ta, Gar." Ucap Reta, lalu berlalu meninggalkan Uta dan Edgar deluan, menuju mobil jemputannya yang sudah stand by di depan.
"Bye, hati-hati Re." Hanya Uta yang menjawab perkataan Reta. Edgar yang sedari tadi berjalan, hanya diam tak menanggapi. Uta jadi kasihan dengan Reta.
Edgar dan Uta kemudian pulang menuju kediaman masing-masing, dengan mobil Edgar. Rutinitas pulang dan pergi bersama itu, terulang sampai dengan hari Jum'at ini. Hanya saja, Uta tak lagi iseng menggoda Reta dan Edgar. Ia ingin menjaga perasaan keduanya, terkhusus Reta.
Uta merasa semua orang punya masalahnya masing masing, ada yang bermasalah sama teman, sahabat, keluarga, kerjaan, bahkan ada yang bermasalah sama diri sendiri. Jadi Uta memilih untuk mencari waktu yang tepat, untuk bisa bercanda. Kali ini sepertinya tak tepat. Mending ia mode diam, setenang angin sepoi-sepoi.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND