Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
81. Tak Ingin Itu


__ADS_3

Author POV


Besoknya Uta dan Alber berbaur seperti biasa. Tak ada rasa canggung antar mereka. Kecanggungan malah terjadi antara murid dan guru di kelas, disebabkan guru mengumumkan minggu depan ujian semester akan dimulai seminggu full. Diharapkan semua murid belajar dengan tekun, untuk dapat menghadapi ujian semester nanti dengan maksimal.


Tentu saja pengumuman yang tak diharapkan itu, membuat semua murid menarik nafas panjang. Terlebih murid-murid yang tergolong belajar bagaikan momok kehidupan, seketika badan rasanya tak bertulang.


Itu juga yang Uta rasakan. Sebenarnya ujian semester, bukanlah sesuatu hal yang menakutkan buat Uta. Hal yang menjadi momok untuknya adalah, segala hal yang berbau angka, rumus dan hitungan. Selain daripada itu, Uta yakin ia mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.


"Ta!!" Sapa Alber, saat Uta lagi blank. Sibuk menepis awan mendung di depan mata.


"Hey!! Are you oke?" Tegur Alber lagi. Alber bahkan menggerakkan telapak tangannya, di depan arah pandang Uta yang kosong. Tetap tak ada respon.


"Di mukamu penuh rumus tau gak?" Ucap Alber iseng, mengetahui apa yang sekiranya gadis itu pikirkan.


"Masa??" Mendengar ucapan Alber yang terakhir, membuat Uta mendadak panik. Sankin paniknya, ia bahkan sampai membuka aplikasi kamera depan handphone, untuk bisa melihat wajahnya. Ia khawatir saking stressnya memikirkan ujian matematika, sampai-sampai di wajahnya tampak rumus-rumus, musuh bebuyutannya itu.

__ADS_1


"Wkwkwkw ... lucu banget." Alber tak bisa menyembunyikan tawanya, melihat reaksi Uta yang panik mengecek wajahnya di layar handphone.


"Ishh ... Resek!!" Ucap Uta menyadari Alber kembali menjahilinya. Walau jujur ia sebenarnya lebih bingung dengan dirinya sendiri, kenapa bisa berkali-kali masuk dalam perangkap jahil Alber.


"Lagian gak mungkinlah di muka kamu ada rumus-rumus. Se-stress setressnya orang, gak mungkin rumus sampai pindah ke muka orang itu." Jawab Alber, mengutarakan logika yang memang masuk di akal sehat.


"Namanya juga orang lagi stress!! Pakai di isengin segala." Ucap Uta tetap protes tapi tak lupa membela diri.


"Jadi gimana? Kapan kita les? Aku gak masalah tiap malam ke rumah kamu, buat belajar bareng. Lumayan, makan enak tiap malam. Masakan Tante Celine kan, gak ada yang failed." Tanya Alber mengalihkan topik pembicaraan.


"Ehmm .. Gak usah Ber. Lagian aku udah janjian belajar bareng Reta atau Edgar, seperti semester-semester sebelumnya. Aku juga lebih seneng belajar sendiri, untuk pelajaran yang gak perlu pake hitungan. Jadi kamu gak perlu repot-repot kerumah aku segala." Tolak Uta sebisa mungkin, secara halus.


Diluar itu, sebaiknya mereka tak usah terlalu sering berinteraksi. Terlebih Alber dekat dengan gadis lain. Meskipun gadis itu sedang jauh dari Jakarta, tapi sama saja. Jarak bukan selalu yang nomor satu, menjaga kepercayaan agar tak terjadi kesalah pahaman itu penting.


Meski ia dan Alber seribu persen tak punya hubungan spesial apapun, bukan tidak mungkin gebetan Alber nan jauh disana jadi salah paham, mengingat Alber gantengnya gak ketolongan. Nyamuk betina pun nempel ditangannya, bisa memancing kecemburuan buat gadis yang menyukainya.

__ADS_1


Jadi, Uta tak ingin itu terjadi. Selain ia tak mau ribet kalau-kalau gadis yang dekat dengan Alber salah paham, Uta juga merasa ia harus menjaga hatinya sekuat mungkin, agar tak jatuh hati karena seringnya berinteraksi.


Menurut Uta, selain Tuhan, yang mampu menjaga hati dan perasaannya adalah dirinya sendiri. Orang lain belum tentu mampu menjaga hati kita, dari potensi pecah berkeping-keping. Hanya Tuhan dan diri sendirilah, yang bisa jadi tumpuan utama. Berharap pada orang lain, harus sudah siap bersahabatkan rasa kecewa.


"Aku kan bisa gabung belajar bareng sama kalian." Alber masih mencoba membujuk agar bisa belajar bareng dengan Uta, Reta dan Edgar. Menurutnya, tak buruk juga jika mereka belajar berempat.


"No!!" Tapi rupanya tidak dengan Uta. Gadis itu menolak dengan tegas usulan dari Alber.


"Kenapa?" Tanya Alber dengan sorot wajah yang agak sedih.


"Bahaya, ada sengketa cinta segitiga disana. Gak boleh ada personil baru, entar meledak. Udah ah!! Aku mau ke toilet dulu, keburu kebelet." Tolak Uta tegas, dibungkus dengan candaan. Ia juga sengaja kabur ke toilet, agar Alber tak lagi menego perkataannya. Satu hal yang Uta tak tahu, Alber diam tercenung melihat kepergiannya.


Bersambung ............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2