![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Uta POV
“Ta rumah lo dimana? Biar entar malam gue kerumah lo.” Ucapnya begitu enteng.
WHAT??? Apa lagi ini??? *Uta
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Alber bicara seperti itu.
“Bentar deh, buat apa lo kerumah gue?” Tanyaku memastikan kepada Alber, apa maksud ingin kerumah.
“Buat nyelesaikan tugas kelompok ini. Masa lo nyelesaikan sendiri. Kan ini tugas bedua.” Jelasnya sejelas - jelasnya karena mungkin ia menangkap ekspresiku sedikit kaget mendengar pertanyaannya.
Aku pun tau dia tak mungkin ke rumahku dengan tujuan lain, tentu saja kemungkinan yang paling masuk akal adalah karena ingin menyelesaikan tugas kelompok ini. Tapi tetap saja tidak usah sampai ke rumah segala. Toh masih ada waktu seminggu untuk menyelesaikannya, tiap hari pun bisa dicicil sampai selesai.
“Gak usah Ber, lagian ini juga udah tinggal dikit lagi kok. Lo gak perlu pake kerumah gue segala.” Kucoba menolak dengan halus niatnya datang ke rumahku untuk kerja kelompok. Lagi pula yang harus diselesaikan tak banyak lagi. Aku yakin bisa menyelesaikannya sendiri.
“Yakin Ta? Gue gak enak nih.” Jawabnya dengan ekspresi yang terlihat sungguh - sungguh.
“Yakin 100 persen Ber, sedikit lagi ini mah.” Kujawab tak kalah yakin. Pokoknya jangan sampai dia ke rumahku segala.
“Ya sudah kalau begitu.” Melihat yakinnya diriku, ia akhirnya setuju dan tak menawar lagi.
Yes ...*Uta
Aku membereskan laptop dan lainnya karena pelajaran selanjutnya akan dimulai. Selama pelajaran ini, kami fokus memperhatikan penjelasan guru. Tak ada obrolan antara aku dan Alber. Jam istirahat ditandai dengan bunyi bel.
“Mau kekantin?” Tanya Alber padaku.
“Ta tempat biasa.” Belum sempat aku menjawab Alber, Reta sudah berteriak dari bangkunya sambil mengangkat tas bekal berukuran lumayan besar yang biasa ia gunakan ketika membawa bekal. Aku dan Alber spontan menoleh ke arah Reta. Kuberikan tanda setuju dengan menyatukan ujung jari jempol dan telunjuk, pertanda 'oke' pada Reta.
“Alber, deluan ya.” Ucap ku pada Alber sambil berlalu dari mejaku mendatangi Reta. Kami berdua berjalan menuju belakang aula yang kami anggap sebagai basecamp. Kami duduk di gazebo kecil disana. Reta mengeluarkan 2 kotak bekal beserta dengan 2 botol air mineral plus 1 kotak berisi buah buahan. Kami makan bersama di basecamp kami, hanya satu yang terasa kurang. Edgar. But it's okay, perut lapar mengalahkan segalanya.
“Ta sorry ya tadi gue gak sekelompok dengan lo, si Seto main nulis nama gue biar sekelompok dengan dia. Sebel banget gue.” Rupanya Reta merasa tak enak hati karena tak berkelompok denganku untuk tugas kelompok kali ini. Terlihat dari ekspresinya yang sedikit khawatir.
“Ha .. ha .. ha .. Iya gak papa Re. Btw luar biasa si Seto, lagi investasi cinta nih ceritanya.” Aku tertawa mendengar dugaanku sendiri. Kucoba mengalihkan topik agar Reta tak perlu merasa bersalah.
__ADS_1
“Apaan sih lo, dia tu manusia resek, gak ada cinta cintaan segala ya!!” Dan benar saja, mendengar itu Reta langsung ngomong tanpa rem tentang Seto yang menjahilinya.
“Ha.. ha.. ha… Hati hati loh Re, entar lo ketulah omongan lo. Taunya lo sama si Seto, gimana hayo?” Ujarku menggodanya.
“No ... Meskipun sama Edgar masih segelap langit mendung, tapi please lah jangan sama Seto juga.” Ucap Reta sambil mengetuk ngetuk meja. Akupun tak bisa menahan tawaku. Bingung antara sedih tapi juga lucu.
“Terus lo sekelompok sama siapa? Gue cuman lihat didekat lo si anak baru itu, jangan bilang….” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
“Minum obat apa lo sampe insecure lo sembuh gini?” Ucap Reta tak percaya. Dan hal itu memang wajar sebab selama ini aku tidak pernah berkelompok selain bareng Reta atau Edgar. Kalaupun ada siswa lain pastilah Edgar atau Reta yang mengajak untuk memenuhi jumlah anggota.
“Jangan salah paham dulu, gue awalnya mau ngajak lo sekelompok, tapi lo gak noleh noleh ke gue. Ehh… si Alber main nulis nama gue terus nyerahin ke bu Melati.” Uraiku sesuai kejadian yang memang terjadi. Tak kurang dan tak lebih.
“Ha ..ha .. ha.. Mirip sama kasus gue dong. Terus gimana?” Tanyanya super kepo tapi juga tak bisa menahan tawa membayangkan diriku sekelompok tanpa Edgar maupun dirinya.
“Ya gak gimana gimana, cuman kerja kelompok biasa kayak yang lain.” Ku jawab seadanya. Sama, tak kurang dan tak lebih juga.
“Hhuuu… gue pikir ada yang spektakuler, lo tau gak cewek cewek centil pada berebut mau ngajak Alber sekelompok. Eehh… tapi mereka pada diem pas Alber sudah nyetor kertas kedepan.” Reta menceritakan hasil pengamatannya dengan antusias. Dan menurutku hal itu lumrah. Secara akal sehat tentu saja kaum hawa pasti akan suka pada laki laki sesempurna Alber. Andai saja diriku tidak insecure mungkin aku bisa jadi salah satu dari kaum hawa yang memujanya.
Terlepas dari itu kami menikmati makanan yang Reta bawa sambil ngobrol ngalor ngidul. Saling ejek, resek, usil tapi tetep sesungguhnya sayang dan saling support.
Pelajaran berlanjut hingga jam terakhir. Satu persatu siswa mulai bubar dengan secepat kilat saat bel berbunyi. Selesai aku memesan ojek online, kumasukkan semua buku dan alat tulis kedalam tas. Kuambil paper bag yang pagi tadi kusiapkan dari dalam tas. Kulihat Alber memasukkan buku juga kedalam tasnya.
“Ehm Ber … gue mau ngembaliin dasi lo yang kemarin, makasih banyak ya Ber.” Kuserahkan paper bag itu padanya.
"Ya sama sama." Diterimanya paper bag itu kemudian membuka melihat isi dalamnya.
"Apa ini?" Diambilnya sebuah toples kecil dari dalam paper bag. Ya, aku mengembalikan dasinya bersama sebuah toples berisi beberapa cookies yang kubuat sendiri. Tak ada maksud apa-apa, hanya saja tak enak rasanya mengembalikan dasinya tanpa memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih.
"Cookies." Ucapku polos malah membuat Alber sedikit terkekeh. Untuk pertama kalinya aku melihat Alber yang cool terkekeh begitu.
"Buat sendiri?" Aku hanya menjawab dengan anggukan terkaan darinya. Ia kemudian menganggukkan kepala padaku. Tanpa kuduga, Alber membuka toples cookies itu, lalu mengambil salah satu cookies kemudian tanpa ragu memasukkan kedalam mulut.
"Enak, apa nama cookies ini??" Tanyanya ingin tahu.
"Palm cheese cookies." Jawabku menyebutkan nama cookies buatanku itu.
__ADS_1
"Rasanya sesuai sama namanya. Enak." Dimakannya sepotong cookies lagi dari dalam toples. Satu lagi, satu lagi dan satu lagi. Dalam sekejap sudah 5 buah cookies yang Alber makan. Nampaknya ia benar-benar suka. Syukurlah, setidaknya tidak sia-sia aku memberinya.
Derrtt ... Derrrttt ....
Obrolan kami terhenti karena sebuah bunyi getar handphone. Nomor tak dikenal tertera di layar handphone ku. Buru-buru ku angkat, takutnya bang ojol yang menghubungi.
"Halo ... Iya benar ... Oh udah depan gerbang bang?? ... Oke oke saya kedepan bang." Kututup telepon dan bangkit dari tempat dudukku.
“Alber gue pulang deluan ya.” Kataku padanya.
"Iya, thanks palm cheese cookies nya Ta." Ucap Alber sambil menunjuk cookies itu.
"Ya sama sama. Makasih juga dasinya." Ucapku lalu berjalan keluar kelas.
Bersambung ...........
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies seperti cerita diatas, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND