![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Esok harinya Uta berangkat naik ojol, menuju Z1. Hari ini ia kembali menggunakan transportasi sejuta insan itu, sebab Edgar tak bisa menjemputnya karena menginap di rumah teman basketnya. Baru saja gadis itu sampai di gerbang sekolah, ia langsung disambut dengan suara yang sangat ia kenali.
"Panjang umur lo, gue baru aja mikirin lo." Uta langsung merangkul lengan Reta, sahabat SMP nya itu.
"Ikut gue bentar sekarang." Bukannya berjalan menuju kelas, Reta malah berbalik menarik lengan Uta menuju toilet sekolah.
"Eh .. Eh .." Uta yang tak siap di seret Reta ke toilet, hanya bisa pasrah mengikuti si penarik. Terlebih dahulu, Reta memastikan tidak ada orang di toilet, sebelum memulai omongan.
"Ada apaan sih Re?" Uta benar-benar kepo pengen tahu, karena tak biasanya Reta berlaku seperti ini. Apalagi sampai mengecek ada manusia lain atau tidak, di sekitar mereka.
"Apa yang terjadi sama lo dan Kak Felix?" Tanpa basa-basi, Reta langsung to the point menanyakan yang ingin dia tanyakan. Pertanyaan yang tentu saja membuat Uta sangat terkejut. Uta tak pernah berfikir Reta akan menanyakan hal menyangkut tentang Felix.
"Gak ada apa-apaan Re? Ngapain lo bahas Kak Felix sih?" Ia menjawab jujur, karena memang menurutnya tak ada yang terjadi antara dirinya dan Felix. Ibarat sebuah buku, baginya Felix adalah masa lalu dan sudah tutup buku. Tak perlu dibahas lagi.
"Lo tahu gak, Edgar sama Kak Felix kemarin hampir mau kelahi!!" Sontak saja ucapan Reta tersebut, membuat Uta terbelalak. Ia tahu bahwa Edgar dan Felix memang memiliki hubungan yang tidak baik, tetapi Edgar tidak mungkin berkelahi dengan seseorang tanpa alasan.
"Kok bisa? Emang kenapa Re?" Gadis itu tak bisa menahan keingintahuan nya. Ia harus mencari tahu, apa sebab Edgar dan Felix hampir berkelahi.
"Kemarin Kak Felix narik gue, dia nanya lo ada hubungan apa dengan Alber. Jelas banget dia jealous ke Alber." Reta menjelaskan awal mula kejadian, sebelum ke masalah inti pertikaian yang hampir terjadi. Mendengar ucapan Reta membuat Uta terdiam sesaat.
__ADS_1
"Hua .. ha.. ha.. ha.. ha.. ha.." Uta tertawa terbahak-bahak, setelah sebelumnya terdiam sekitar 3 detik. Menurutnya, ini jokes paling lucu yang di dengarnya hari ini.
"Duh, sampe sakit perut gue tau gak!!" Dipegangnya area perut yang sedari tadi terdampak karena tawa ngakaknya. Kini perlahan tawanya mulai mereda. Di lihatnya sahabatnya itu.
"Re ... Re ... Lo tuh ya, aneh-aneh aja. Ya gak mungkin lah, Kak Felix jealous sama gue!! Jangan lupa Re, dia cuma jadiin gue taruhan, no feeling sama sekali. So, stop bahas dia, justru di sini, lo yang mesti dibahas." Ucap Uta terus terang. Menurutnya, ada hal yang lebih penting untuk dibahas.
"Loh kok gue sih?" Reta yang bingung balik bertanya. Dahinya sampai berkerut karena bingung, kenapa dirinya yang jadi pembahasan.
"Lu barusan bilang, Edgar marah waktu Kak Felix narik lo. Wah .. wah .. Bau-bau ada yang udah bersemi nih." Uta berkomentar dengan memainkan kedua alisnya. Bukannya salah tingkah, Reta malah tertunduk dengan raut wajah sedih. Dirinya yang tadi berapi api menarik Uta ke toilet, kini berubah 180 derajat lesu lunglai tak ada semangat.
"Gak sama sekali. Edgar memang udah gak suka sama Kak Felix, terlebih sejak dia ngejahatin lo. Terus ..." Ucapan Reta terhenti sesaat.
"Terus apa Re?" Tanya Uta penasaran kelanjutan omongan Reta.
"Edgar yang gak terima Elma jatuh, nyamperin Kak Felix, bertepatan pas Kak Felix lagi narik gue. Ngamuk lah Edgar, waktu dengar Kak Felix nanyain lo ke gue. Kak Felix juga gak kalah nyolotnya ke Edgar. Makin emosi lah Edgar. Mereka hampir adu jotos. Untung Elma datang dan langsung meluk Edgar dari belakang, jadi emosi nya agak reda." Uta dapat menangkap jelas kesedihan di wajah sahabatnya itu. Meskipun berusaha tegar menjelaskan kejadian kemarin, tapi Uta tahu pasti, gadis itu menyembunyikan kesedihannya dan berusaha bersikap biasa saja.
"Re ... are you oke?" Uta tak mampu menahan perkataannya, sebab ia tahu hati Reta pasti hancur. Gadis itu sudah lama memendam perasaan kepada Edgar.
"Entahlah Ta." Di jawabnya pertanyaan Uta dengan sedikit mengalihkan arah pandangan.
"Re ..." Uta yang menangkap kesedihan itu, merangkul Reta untuk memberikan support emosional kepada sahabatnya ini.
__ADS_1
"Don't Worry, aku udah biasa ngelihat Edgar sama Elma. Bukan hal yang baru lagi." Ucap Reta. Kali ini nada tegar itu benar-benar jujur dan tak dibuat-buat. Edgar memang berkali kali terang terangan mendekati Elma meskipun ada Reta di sana.
"Sorry ya Re. Gue gak bisa bantu apa-apa. Lo tau sendiri kan, kalian berdua itu sama-sama sahabat gue. Gue udah memutuskan dari awal untuk netral dan gak memihak salah satu dari kalian. Gue cuman bisa doain yang terbaik selalu buat lo dan Edgar." Ucap Uta menjelaskan posisinya yang serba salah pada Reta.
Reta yang melihat dilema sahabatnya itu, mengerti dan mengangguk kecil. Ia tak sama sekali menyalahkan Uta. Ia mengerti betul posisi sahabatnya yang mencoba netral ini. Kalaupun posisi mereka di tukar, sudah pasti dirinya juga melakukan hal yang sama seperti yang Uta lakukan.
"Udah ah, pagi pagi jangan sedih-sedihan. Nih gue bikinin favorit lo, kacang telur." Ucap Uta terus terang sembari menepuk-nepuk bahu Reta.
Ia lebih memilih berterus terang dan tak menjual kata-kata manis. Netral adalah jalan yang ia pilih, karena tak mungkin ia membela salah satu di antara mereka, sementara ia sendiri tahu bahwa, hati tak bisa dipaksakan. Dalam kasus ini, mendoakan jauh lebih baik daripada berpihak ke satu sisi.
"Ah ... Lo emang paling the best. Top markotop deh pokoknya." Seperti biasa Reta tak ingin terjebak dalam kesedihan terlalu lama. Ia paling pandai untuk mengubah suasana menjadi ceria, sehingga sekelilingnya merasa lebih nyaman.
" Ha .. ha ..ha. Of course. Ayok kita mesti apel upacara. Gue gak mau sampai telat baris ke lapangan." Uta mengajak Reta untuk segera baris ke lapangan, jangan sampai mereka berdua terlambat dan mendapat hukuman.
"Siap 86." Jawabnya sambil bergaya hormat, siap menjalankan tugas.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND