Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
166. Kamar Alber


__ADS_3

Author POV


"UTA...??" Annem terkejut melihat siapa yang datang.


"Ya Allah.... Uta kemana aja sayang?? Annem kangen banget sama anak Annem satu ini." Beliau kemudian bangkit dari duduk dan memeluk Uta. Uta terharu Annem masih mengingatnya walau sudah tahunan tak bertemu.


"Annem Babam apa kabar?" Tanya Uta setelah pelukan terlepas.


"Baik sayang, Annem Babam sehat. Uta sehat juga nak? Ya Allah, senengnya Annem bisa ketemu Uta lagi." Jawab Annem. Tampak mata ibu cantik itu sedikit berkaca-kaca.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga." Ujar Syiba yang masih duduk di tempatnya.


"Syiba udah tau Uta di Jakarta?" Tanya Annem merasa mencerna omongan Syiba. Yang ditanya langsung mengangguk.


"Kenapa gak kasih tau Annem sih?" Protes Annem pada anaknya.


"Annem harusnya tanya Alber. Syiba juga taunya gak sengaja. Alber tuh An." Ujar Syiba juga sebal Alber tak cerita.


"Emang bener-bener itu anak ya!!" Ucap Annem geleng-geleng mengingat putra semata wayangnya yang tak berada ditempat.


"Peluk dulu. Aaaaaaaa...." Kini gantian Syiba yang memeluk Uta kangen.


"Ta kamu berubah banget tau gak? Langsing banget sekarang, tambah cantik tau gak?" Puji Syiba melihat perubahan Uta.


"Uta biasa aja kak. kak Syiba tau yang bikin heran. Cantik terus. Never end lah pokoknya." Ucap Uta melihat kakak Alber ini semakin cantik pasca menikah.


"Jangan end dong. Entar bang Tibar gak lope lagi. Bisa gaswat kak Syiba." Ucap Syiba panik.


"Wkwkwkwkw .... Iya juga ya. Kak syiba Uta bawa kado nikah buat kak Syiba. Tapi maaf ya kak, kadonya telat pake banget." Ucap Uta tak enak hati. Ia kemudian menyerahkan sebuah paper bag, di dalamnya ada kotak yang terbungkus kertas kado.


"Makasih ya Ta. Entar kadonya kak Syiba buka bareng bang Tibar." Ucap Syiba menerima kado yang masih terbungkus kertas kado dari Uta. Uta kemudian mengambil 2 buah paper bag untuk diberikan pada Annem.


"Ini buat Annem sama Babam. Maaf ya An, oleh-olehnya sederhana." Gadis itu memberikan 1 set cangkir teh cantik dengan design elegan, lengkap dengan merek teh kesukaan Annem yang ia ingat dulu.

__ADS_1


"Ini istimewa sayang. Uta masih ingat teh kesukaan Annem. Nanti pasti Annem sama Babam ngeteh bareng. Makasi ya Ta." Ucap Annem tersenyum mengetahui apa yang Uta berikan.


"Sama-sama An." Jawab Uta lega karena Annem suka.


"Bi tolong disimpen dulu. Sama ini tolong cake sama buahnya dihidangkan." Annem meminta Bi Ida membawa cake dan buah yang Uta bawa, untuk dipotong dan dihidangkan di meja teras.


"Baik nyonya." Bi Ida sigap menjalankan instruksi Annem.


"Ngomong-ngomong Annem lagi ngapain?" Tanya Uta melihat begitu banyak bunga segar berhampar di meja teras belakang. Bahkan ada dua box besar, berisi bunga aneka warna yang belum di unboxing.


"Annem lagi merangkai-rangkai bunga sayang. Hobi baru Annem." Ujar Annem menjawab pertanyaan Uta.


"Jangan heran Ta. Annem gitu loh." Ucap Syiba mengusir keheranan Uta. Bukan Annem namanya kalo gak gini.


"Husttt .... Uta mau coba? Sini Annem ajarin." Ucap Annem antusias dengan murid dadakan yang barusan dicaplok ini.


..._____________ Z _____________...


Usai kelas merangkai bunga, kini Uta dan Annem menaruh rangkaian bunga dalam vas ke lantai dua istana itu. Annem yang memang suka menata langsung rumahnya, memilih tak dibantu asisten rumah tangga. Beliau menugaskan Bi Ida merapikan sisa tangkai bunga yang tak terpakai.


"Iya An, jadi beda suasananya. Trus Annem, yang ini ditaroh mana An?" Tanya Uta masih memegang 1 vas penuh bunga indah.


"Itu ditaruh di meja sana sayang. Yuk yuk, kesana yuk." Ucap Annem menunjuk sebuah meja kecil diantara kamar Alber dan ruang kerja Alber. Meja itu sangat ramping, diatasnya hanya ada telepon rumah dan beberapa foto keluarga dalam figura.


"Uta taruh disini ya An?" Ucap Uta sebelum menaruh vas penuh bunga yang ia pegang.


"Iya coba Uta taroh biar Annem nilai." Ucap Annem yang lalu mundur beberapa langkah. Tampak Annem menilai dengan teliti.


"Kenapa An?" Tanya Uta karena Annem sepertinya kurang srek.


"Ini kayaknya mesti dipotong dikit tangkainya. Gak bagus kalo bunganya tinggi menjulang sendiri, yang lainnya gak terlalu tinggi soalnya." Ucap Annem menilai elok tidaknya area yang ditata. Uta manggut-manggut mengakui penilaian Annem. Memang akan lebih cantik kalau rangkaian bunga dipotong sedikit lagi.


"Uta boleh tolongin Annem?"

__ADS_1


"Tolongin apa An?"


"Tolong Uta ambilin gunting di kamar Alber. Ada di meja belajarnya pasti." Ucap Annem karena memang meja itu hanya 2-3 langkah dari pintu kamar Alber.


"Apa gak sebaiknya Uta ambil guntingnya ke taman aja An?" Ucap Uta tampak tak enak hati masuk ke kamar Alber tanpa izin, terlebih pemiliknya sedang tak dirumah.


"Kelamaan sayang. Ambil di kamar Alber aja." Ucap Annem mulai membongkar bunga asli itu dengan hati-hati. Memang jarak dari sini ke taman cukup jauh. Pasti Annem akan lama menunggu Uta jika bolak-balik ke teras belakang.


"Ta ... tapi An, entar Alber marah Uta asal masuk." Ucap Uta khawatir lancang masuk.


"Alber gak akan marah karena Annem yang suruh." Jawab Annem meyakinkan, membuat Uta tak bisa menawar lagi. Ia pasrah disuruh Annem masuk.


"Uta masuk ya An." Izin Uta terlebih dahulu.


Alber jangan marah, aku izin masuk kamarmu. Udah dibolehin Annem. *Uta


"Ta, nemu gak sayang?" Tanya Annem masih fokus mengutak-atik bunga.


"Ta? Nemu gak guntingnya?" Tanya Annem lagi karena tak ada jawaban.


"Ta ....?" Tanya Annem. Uta masih tak menjawab.


"Uta ...?" Karena khawatir, Annem menghampiri Uta ke kamar Alber. Tampak Uta diam mematung menatap ke arah salah satu tembok.


"Sayang? Kenapa diam disitu?" Tanya Annem.


"Annem itu ..." Uta menatap Annem penuh tanya. Ia lalu kembali menatap kearah dinding. Dinding kamar Alber yang terdapat gambar dirinya sedang tersenyum, terlukis indah satu dinding full.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2